alexametrics
30.3 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Temukan Guci Dinasti Tang dan Dinasti Ming

PERKIRAAN orang-orang Tionghoa asal Tiongkok masuk Bojonegoro diperkirakan sekitar abad ke-16. Saat masa-masa runtuhnya Kerajaan Majapahit dan para orang Tionghoa menggunakan Bengawan Solo sebagai jalur perdagangan untuk ke Kerajaan Demak.

Hary Nugroho, salah satu sejarawan lokal sekaligus pemerhati cagar budaya mengungkapkan, ketika melintasi Bojonegoro, tentu para pedagang asal Tiongkok itu juga singgah. Termasuk  hingga bermukim di Bojonegoro. Apalagi telah tertulis di Prasasti Canggu (1280 Saka) bahwa wilayah Bojonegoro ada sekitar enam titik yang dulunya menjadi desa pelabuhan (naditra pradesa) di sepanjang Bengawan Solo. 

“Perkiraan pedagang Tiongkok masuk Bojonegoro abad ke-16 atau 1500-an masehi,” jelasnya.

Adapun pelabuhan desa di antaranya Pelabuhan Kracakan di Desa Payaman, Kecamatan Ngraho. Pelabuhan Padangan di dekat Pasar Padangan, berbatasan langsung dengan Kecamatan Kasiman. Hal itu menjadi alasan kenapa di Kecamatan Kasiman ada satu desa bernama Desa Bandar yang kini dikenal sebagai pusat kerajinan kayu. Sebab, besar kemungkinan dulu menjadi salah satu pelabuhan besar penghubung Padangan dan Kasiman.

Baca Juga :  Disambati Pertanian, Pendidikan, dan Jalan Desa

Bergeser ke timur, ada Pelabuhan Kawengan. Letaknya di Desa Sumberjo/Desa Sudah Kecamatan Malo. Pelabuhan Kalitidu terletak di sebelah utara Pasar Kalitidu. Pelabuhan Bojonegoro berada di dekat Pasar Banjarejo Kecamatan Bojonegoro Kota. Lalu Pelabuhan Kenur yang kini menjadi Kecamatan Kanor itu terletak di kawasan Desa Canga’an Kecamatan Kanor.

“Jadi, dari enam pelabuhan tersebut, Pelabuhan Padangan yang paling besar. Jadi mereka paling banyak sandar ke darat ketika di kawasan Kecamatan Padangan,” ujarnya.

Lalu, bukti-bukti penemuan barang kuno asal Tiongkok sudah banyak ditemukan di wilayah Bojonegoro. Perahu niaga asal Tiongkok juga sudah pernah ditemukan di Desa Padang, Kecamatan Trucuk, pada 2004 silam. Perahu berbahan kayu tua itu tertulis tahun 1612. Kemudian, perahu kedua berbahan besi ditemukan di Desa Kalangan Kecamatan Margomulyo pada 2012 lalu.

Baca Juga :  Sore ini, Bumi Wali Tantang PSDM

“Ada juga perahu ditemukan di Desa Ngraho, Kecamatan Gayam,” ujarnya.

Selain temuan perahu, temuan berupa koin, guci, piring, teko, mangkuk, dan pernak-pernik berbau Tiongkok juga sudah sering ditemukan. Apabila dijumlah bisa mencapai ratusan temuan. Pun apabila diteliti warna, corak, dan motifnya barang-barang kuno khas Tiongkok itu dari berbagai dinasti. 

Barang paling tua yakni guci yang diduga kuat sudah ada sejak zaman Dinasti Tang (618-907 masehi). Lalu, aneka koin pada masa Dinasti Yuan (1206-1368 masehi), Dinasti Ming (1368-1644 masehi), dan Dinasti Qing (1616-1912 masehi). 

Penemuan barang-barang kuno itu kebanyakan dari dalam Bengwan Solo ketika musim kemarau. “Era dinasti ke dinasti lainnya itu memang memiliki corak khas yang bisa diteliti langsung,” katanya. (bgs/rij)

PERKIRAAN orang-orang Tionghoa asal Tiongkok masuk Bojonegoro diperkirakan sekitar abad ke-16. Saat masa-masa runtuhnya Kerajaan Majapahit dan para orang Tionghoa menggunakan Bengawan Solo sebagai jalur perdagangan untuk ke Kerajaan Demak.

Hary Nugroho, salah satu sejarawan lokal sekaligus pemerhati cagar budaya mengungkapkan, ketika melintasi Bojonegoro, tentu para pedagang asal Tiongkok itu juga singgah. Termasuk  hingga bermukim di Bojonegoro. Apalagi telah tertulis di Prasasti Canggu (1280 Saka) bahwa wilayah Bojonegoro ada sekitar enam titik yang dulunya menjadi desa pelabuhan (naditra pradesa) di sepanjang Bengawan Solo. 

“Perkiraan pedagang Tiongkok masuk Bojonegoro abad ke-16 atau 1500-an masehi,” jelasnya.

Adapun pelabuhan desa di antaranya Pelabuhan Kracakan di Desa Payaman, Kecamatan Ngraho. Pelabuhan Padangan di dekat Pasar Padangan, berbatasan langsung dengan Kecamatan Kasiman. Hal itu menjadi alasan kenapa di Kecamatan Kasiman ada satu desa bernama Desa Bandar yang kini dikenal sebagai pusat kerajinan kayu. Sebab, besar kemungkinan dulu menjadi salah satu pelabuhan besar penghubung Padangan dan Kasiman.

Baca Juga :  Pencairan BKD Ditarget Bulan Maret

Bergeser ke timur, ada Pelabuhan Kawengan. Letaknya di Desa Sumberjo/Desa Sudah Kecamatan Malo. Pelabuhan Kalitidu terletak di sebelah utara Pasar Kalitidu. Pelabuhan Bojonegoro berada di dekat Pasar Banjarejo Kecamatan Bojonegoro Kota. Lalu Pelabuhan Kenur yang kini menjadi Kecamatan Kanor itu terletak di kawasan Desa Canga’an Kecamatan Kanor.

“Jadi, dari enam pelabuhan tersebut, Pelabuhan Padangan yang paling besar. Jadi mereka paling banyak sandar ke darat ketika di kawasan Kecamatan Padangan,” ujarnya.

Lalu, bukti-bukti penemuan barang kuno asal Tiongkok sudah banyak ditemukan di wilayah Bojonegoro. Perahu niaga asal Tiongkok juga sudah pernah ditemukan di Desa Padang, Kecamatan Trucuk, pada 2004 silam. Perahu berbahan kayu tua itu tertulis tahun 1612. Kemudian, perahu kedua berbahan besi ditemukan di Desa Kalangan Kecamatan Margomulyo pada 2012 lalu.

Baca Juga :  Tim Robotik MAN 3 Bojonegoro Ukir Prestasi Nasional

“Ada juga perahu ditemukan di Desa Ngraho, Kecamatan Gayam,” ujarnya.

Selain temuan perahu, temuan berupa koin, guci, piring, teko, mangkuk, dan pernak-pernik berbau Tiongkok juga sudah sering ditemukan. Apabila dijumlah bisa mencapai ratusan temuan. Pun apabila diteliti warna, corak, dan motifnya barang-barang kuno khas Tiongkok itu dari berbagai dinasti. 

Barang paling tua yakni guci yang diduga kuat sudah ada sejak zaman Dinasti Tang (618-907 masehi). Lalu, aneka koin pada masa Dinasti Yuan (1206-1368 masehi), Dinasti Ming (1368-1644 masehi), dan Dinasti Qing (1616-1912 masehi). 

Penemuan barang-barang kuno itu kebanyakan dari dalam Bengwan Solo ketika musim kemarau. “Era dinasti ke dinasti lainnya itu memang memiliki corak khas yang bisa diteliti langsung,” katanya. (bgs/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Komitmen untuk Terus Ukir Prestasi

Carut Marut Relokasi Pasar Kota

Artikel Terbaru


/