alexametrics
24.5 C
Bojonegoro
Tuesday, August 9, 2022

Desa Sudah, Pernah Disinggahi Pedagang Tionghoa

Desa Sudah, Kecamatan Malo, menyimpan sejarah besar. Desa berhimpitan dengan Bengawan Solo itu diduga kuat pernah disinggahi etnis Tionghoa. Terutama pedagang karena menjadi desa pelabuhan. Warga kerap menemukan benda-benda kuno asal Tiongkok.

BHAGAS DANI PURWOKO, Radar Bojonegoro

KASTO baru saja pulang dari sawahnya. Mengenakan kaus putih berlengan panjang dan celana pendek, ia sempat kaget ketika ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro di rumahnya di Desa Sudah, Kecamatan Malo, kemarin siang (23/1). 

Sebelumnya, wartawan koran ini telah dipersilakan masuk ke rumahnya oleh anak sulung Kasto. Juga, didampingi Abdul Karim, modin atau Kasi Pelayanan Desa Sudah. Duduk santai di rumah sederhana berdinding papan kayu.

Kasto merupakan lelaki berusia 53 tahun yang memiliki barang-barang kuno. Mendengar cerita awal benda kuno tersebut, anak sulungnya, dari ruangan dalam rumahnya seketika mengeluarkan setangkup mangkok besar berbahan seng.

Isinya mangkok besar tersebut bikin kaget. Isinya ada beberapa guci dengan berbagai ukuran, motif, dan warna. 

Petani berusia 53 tahun itu mulai menceritakan asal muasal barang-barang kunonya tersebut. Ia awalnya menemukan barang-barang kuno itu pada 1997 silam atau 23 tahun lalu. Ia mengaku tidak tahu ada nilai sejarah terhadap barang-barang kuno tersebut. 

Tetapi, ia tak pernah berniat untuk menjualnya, meski sudah banyak yang menawar barang-barang kunonya dengan harga cukup menggiurkan. “Orang yang beli dan menawar harganya sudah banyak sejak dulu ditemukan. Tapi saya niatnya memang tidak mau dijual. Biar bisa jadi koleksi saya sendiri,” ujarnya dengan memakai sarung.

Adapun lokasi penemuan barang-barang kuno itu di area sawah miliknya sendiri. Kasto sendiri juga heran, mengapa bisa ditemukan barang peninggalan kuno di sawahnya. Padahal, rencana awanya kala itu, Kasto hendak membajak sawahnya mengganti tanaman padi menjadi jagung. 

Tetapi, ternyata alat pembajak sawahnya membentur suatu benda di dalam sawah. “Kedalamannya mungkin saat itu hanya 20 sentimeter,” ujarnya dengan santai.

Ia merasa aneh, padahal selama membajak sawah sejak puluhan tahun tidak pernah menemukan barang kuno. Namun, ia pernah mendengar cerita dari kakeknya dulu pernah menemukan pecahan piring yang sudah kuno. 

Baca Juga :  Brilliananto, Jadi Geolog Muda Bisa Keliling Indonesia sambil Kerja

Setelah menemukan barang kuno itu, Kasto membawa pulang ke rumah. Dan menyimpan dengan baik hingga saat ini. Meskipun sebenarnya, Kasto sendiri tak memahami sisi sejarah dari barang kuno tersebut. Ia hanya melihat sebagai barang yang indah ketika dilihat.  

Sementara itu, Kasi Pelayanan Desa Sudah atau kerap disebut modin, Abdul Karim mengungkapkan, pihak desa memang sedang menggali sisi sejarah Desa Sudah. Sehingga, ketika menggali informasi di tengah masyarakat, ternyata memang ada warga memiliki barang peninggalan kuno diduga kuat peninggalan era kerajaan-kerajaan Tionghoa.

Karena, sejauh ini nama Desa Sudah memang jarang disorot. Tak seperti tetangga desanya yakni Desa Rendeng yang mencuat ke permukaan karena memiliki aneka kerajinan gerabah. 

Selain Kasto, menurut Karim, masih banyak warga yang menemukan barang-barang kuno. Tetapi, kebanyakan dalam bentuk pusaka. Bahkan tak jarang barang kuno yang ditemukan itu dipendam atau dibuang kembali. 

“Karena beberapa orang usai mendapat barang kuno itu tiba-tiba sakit atau demam. Jadi takut menyimpannya. Ada juga yang sudah dapat, tapi tiba-tiba barang kunonya itu hilang,” ujarnya.

Karim menjelaskan, bahwa sawah milik Kasto yang mana merupakan lokasi penemuan barang-barang kuno itu kini sudah menjadi rumah warga. Lokasinya tak jauh dari makam yang dikeramatkan oleh warga setempat. Adalah makam Ki Tameng Jati. Tiap Jumat pahing warga setempat mengadakan acara manganan di makam tersebut.

Makam tersebut juga kerap jadi jujukan warga Bojonegoro maupun luar Bojonegoro berziarah. Namun, saat disinggung perihal sejarah Ki Tameng Jati, ia tak menguasai ceritanya secara utuh.

Sementara itu, merujuk barang kuno berupa guci dan piring di Desa Sudah, salah satu pemerhati Cagar Budaya di Bojonegoro, Hary Nugroho mengaku pada akhir 2019 lalu telah diberi informasi warga dan Kepala Desa Sudah Agus Muhlison. Aneka artefak temuan Kasto itu diduga kuat diproduksi pada zaman Dinasti Ming (Abad 14) dan Dinasti Tang (Abad 7).

Baca Juga :  Oknum Kasun Gadaikan Tiga Mobil

Berdasar motifnya, warna-warna yang sering digunakan pada zaman Dinasti Ming itu putih dengan corak motif biru dan cenderung bentuk motifnya ramai. Sedangkan, zaman Dinasti Tang itu warna-warnanya cenderung hijau kecokelat-cokelatan. Pun ada motif-motifnya.

“Artefak-artefak tersebut kini disimpan oleh warga setempat. Jumlahnya saat ini kurang lebih 14 buah,” imbuhnya.

Setelah mengetahui banyaknya artefak di Desa Sudah Kecamatan Malo, Hary Guru menelisik dari sisi literatur. Beberapa literaturnya ialah buku Kekuasaan Raja Jayakatwang di Kerajaan Glang-Glang Tahun 1170 – 1215 Caka: Tinjauan Geopolitik,  Java in the Fourteenth Century: A Study in Cultural History: The Nagarakrtagama by Yakawi Prapanca of Majapahit 1365, dan Dinamika Sosial Budaya Masyarakat di Pulau Jawa Abad VIII-XX. 

Berdasar tiga buku tersebut, ia mengungkapkan, bahwa Desa Sudah ini terekam di Prasasti Canggu (1280 Saka). Pada lempeng ke-5 bagian belakang disebutkan bahwa Desa Sudah juga merupakan salah satu desa pelabuhan (naditira pradeca) di Bengawan Solo. 

“Jadi bisa disimpulkan bahwa Desa Sudah ini sudah ada sejak abad 14 atau tahun 1358 Masehi, karena jarak tahun Saka dan Masehi itu 78 tahun,” tuturnya. 

Berdasar Prasasti Canggu, pada terjemahan kepingan V bagian belakang: tertulis Sumbang, Malo, Ngijo, Kawangan, Sudah Kikitu, Balun, Marebo, Barang, Pakatelan, Wareng, Amban, Kembu, dan Wulayu. 

Canggu merupakan daerah perdikan karena menjadi tempat penyeberangan yang ingin menuju ke timur. Pada, daerah-daerah sepanjang sungai dan muara-muara sungai. Isi Prasasti Canggu menyebutkan tentang adanya pengaturan tempat-tempat penyeberangan di seluruh Mandala Jawa. 

Dilansir dari Canggu dan Terung Pelabuhan dari web Potret Kota Mojokerto, Ying-yai Sheng-lan (1415 M), dari masa Dinasti Ming, menyebutkan bahwa Pelabuhan Canggu (Chang-ku) sebagai pusat perdagangan. Dari catatan-catatan tersebut, maka para pedagang sekaligus penyebar agama Islam apabila menuju wilayah Majapahit, maka mereka melalui jalur perairan dari samudera menelusuri sungai yang menghubungkan ke Kerajaan Majapahit. (*/rij)

Desa Sudah, Kecamatan Malo, menyimpan sejarah besar. Desa berhimpitan dengan Bengawan Solo itu diduga kuat pernah disinggahi etnis Tionghoa. Terutama pedagang karena menjadi desa pelabuhan. Warga kerap menemukan benda-benda kuno asal Tiongkok.

BHAGAS DANI PURWOKO, Radar Bojonegoro

KASTO baru saja pulang dari sawahnya. Mengenakan kaus putih berlengan panjang dan celana pendek, ia sempat kaget ketika ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro di rumahnya di Desa Sudah, Kecamatan Malo, kemarin siang (23/1). 

Sebelumnya, wartawan koran ini telah dipersilakan masuk ke rumahnya oleh anak sulung Kasto. Juga, didampingi Abdul Karim, modin atau Kasi Pelayanan Desa Sudah. Duduk santai di rumah sederhana berdinding papan kayu.

Kasto merupakan lelaki berusia 53 tahun yang memiliki barang-barang kuno. Mendengar cerita awal benda kuno tersebut, anak sulungnya, dari ruangan dalam rumahnya seketika mengeluarkan setangkup mangkok besar berbahan seng.

Isinya mangkok besar tersebut bikin kaget. Isinya ada beberapa guci dengan berbagai ukuran, motif, dan warna. 

Petani berusia 53 tahun itu mulai menceritakan asal muasal barang-barang kunonya tersebut. Ia awalnya menemukan barang-barang kuno itu pada 1997 silam atau 23 tahun lalu. Ia mengaku tidak tahu ada nilai sejarah terhadap barang-barang kuno tersebut. 

Tetapi, ia tak pernah berniat untuk menjualnya, meski sudah banyak yang menawar barang-barang kunonya dengan harga cukup menggiurkan. “Orang yang beli dan menawar harganya sudah banyak sejak dulu ditemukan. Tapi saya niatnya memang tidak mau dijual. Biar bisa jadi koleksi saya sendiri,” ujarnya dengan memakai sarung.

Adapun lokasi penemuan barang-barang kuno itu di area sawah miliknya sendiri. Kasto sendiri juga heran, mengapa bisa ditemukan barang peninggalan kuno di sawahnya. Padahal, rencana awanya kala itu, Kasto hendak membajak sawahnya mengganti tanaman padi menjadi jagung. 

Tetapi, ternyata alat pembajak sawahnya membentur suatu benda di dalam sawah. “Kedalamannya mungkin saat itu hanya 20 sentimeter,” ujarnya dengan santai.

Ia merasa aneh, padahal selama membajak sawah sejak puluhan tahun tidak pernah menemukan barang kuno. Namun, ia pernah mendengar cerita dari kakeknya dulu pernah menemukan pecahan piring yang sudah kuno. 

Baca Juga :  Brilliananto, Jadi Geolog Muda Bisa Keliling Indonesia sambil Kerja

Setelah menemukan barang kuno itu, Kasto membawa pulang ke rumah. Dan menyimpan dengan baik hingga saat ini. Meskipun sebenarnya, Kasto sendiri tak memahami sisi sejarah dari barang kuno tersebut. Ia hanya melihat sebagai barang yang indah ketika dilihat.  

Sementara itu, Kasi Pelayanan Desa Sudah atau kerap disebut modin, Abdul Karim mengungkapkan, pihak desa memang sedang menggali sisi sejarah Desa Sudah. Sehingga, ketika menggali informasi di tengah masyarakat, ternyata memang ada warga memiliki barang peninggalan kuno diduga kuat peninggalan era kerajaan-kerajaan Tionghoa.

Karena, sejauh ini nama Desa Sudah memang jarang disorot. Tak seperti tetangga desanya yakni Desa Rendeng yang mencuat ke permukaan karena memiliki aneka kerajinan gerabah. 

Selain Kasto, menurut Karim, masih banyak warga yang menemukan barang-barang kuno. Tetapi, kebanyakan dalam bentuk pusaka. Bahkan tak jarang barang kuno yang ditemukan itu dipendam atau dibuang kembali. 

“Karena beberapa orang usai mendapat barang kuno itu tiba-tiba sakit atau demam. Jadi takut menyimpannya. Ada juga yang sudah dapat, tapi tiba-tiba barang kunonya itu hilang,” ujarnya.

Karim menjelaskan, bahwa sawah milik Kasto yang mana merupakan lokasi penemuan barang-barang kuno itu kini sudah menjadi rumah warga. Lokasinya tak jauh dari makam yang dikeramatkan oleh warga setempat. Adalah makam Ki Tameng Jati. Tiap Jumat pahing warga setempat mengadakan acara manganan di makam tersebut.

Makam tersebut juga kerap jadi jujukan warga Bojonegoro maupun luar Bojonegoro berziarah. Namun, saat disinggung perihal sejarah Ki Tameng Jati, ia tak menguasai ceritanya secara utuh.

Sementara itu, merujuk barang kuno berupa guci dan piring di Desa Sudah, salah satu pemerhati Cagar Budaya di Bojonegoro, Hary Nugroho mengaku pada akhir 2019 lalu telah diberi informasi warga dan Kepala Desa Sudah Agus Muhlison. Aneka artefak temuan Kasto itu diduga kuat diproduksi pada zaman Dinasti Ming (Abad 14) dan Dinasti Tang (Abad 7).

Baca Juga :  Kades Sumberjo Trucuk Dituntut 5 Tahun

Berdasar motifnya, warna-warna yang sering digunakan pada zaman Dinasti Ming itu putih dengan corak motif biru dan cenderung bentuk motifnya ramai. Sedangkan, zaman Dinasti Tang itu warna-warnanya cenderung hijau kecokelat-cokelatan. Pun ada motif-motifnya.

“Artefak-artefak tersebut kini disimpan oleh warga setempat. Jumlahnya saat ini kurang lebih 14 buah,” imbuhnya.

Setelah mengetahui banyaknya artefak di Desa Sudah Kecamatan Malo, Hary Guru menelisik dari sisi literatur. Beberapa literaturnya ialah buku Kekuasaan Raja Jayakatwang di Kerajaan Glang-Glang Tahun 1170 – 1215 Caka: Tinjauan Geopolitik,  Java in the Fourteenth Century: A Study in Cultural History: The Nagarakrtagama by Yakawi Prapanca of Majapahit 1365, dan Dinamika Sosial Budaya Masyarakat di Pulau Jawa Abad VIII-XX. 

Berdasar tiga buku tersebut, ia mengungkapkan, bahwa Desa Sudah ini terekam di Prasasti Canggu (1280 Saka). Pada lempeng ke-5 bagian belakang disebutkan bahwa Desa Sudah juga merupakan salah satu desa pelabuhan (naditira pradeca) di Bengawan Solo. 

“Jadi bisa disimpulkan bahwa Desa Sudah ini sudah ada sejak abad 14 atau tahun 1358 Masehi, karena jarak tahun Saka dan Masehi itu 78 tahun,” tuturnya. 

Berdasar Prasasti Canggu, pada terjemahan kepingan V bagian belakang: tertulis Sumbang, Malo, Ngijo, Kawangan, Sudah Kikitu, Balun, Marebo, Barang, Pakatelan, Wareng, Amban, Kembu, dan Wulayu. 

Canggu merupakan daerah perdikan karena menjadi tempat penyeberangan yang ingin menuju ke timur. Pada, daerah-daerah sepanjang sungai dan muara-muara sungai. Isi Prasasti Canggu menyebutkan tentang adanya pengaturan tempat-tempat penyeberangan di seluruh Mandala Jawa. 

Dilansir dari Canggu dan Terung Pelabuhan dari web Potret Kota Mojokerto, Ying-yai Sheng-lan (1415 M), dari masa Dinasti Ming, menyebutkan bahwa Pelabuhan Canggu (Chang-ku) sebagai pusat perdagangan. Dari catatan-catatan tersebut, maka para pedagang sekaligus penyebar agama Islam apabila menuju wilayah Majapahit, maka mereka melalui jalur perairan dari samudera menelusuri sungai yang menghubungkan ke Kerajaan Majapahit. (*/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/