alexametrics
23.3 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Untung, Penyandang Disabilitas Kuasai Tiga Alat Musik

Nasib Untung mungkin tak seberuntung orang normal pada umumnya. Namun, penyandang tunanetra itu mampu membuktikan bahwa kekurangan tak menghalangi keinginan seseorang untuk sukses.

Menguasai tiga alat musik, dia kerap tampil menghibur bersama grup musik Eksplore Band. 

—————————————–

INDRA GUNAWAN, Lamongan 

—————————————– 

Eksplore Band tampil memhibur di Tanjung Kodok Resort Beach (TKBR) Kamis malam (18/1).

Keyboardis band asal wilayah pesisir pantai utara (pantura), Lamongan itu seorang penyandang disabilitas.

Untung, keyboardis tersebut biasa disapa. 

Untung mengingatkan pada kisah Ludwig Van Beethoven, komposer tersohor yang mengalami gangguan pendengaran.

Meski tak memiliki penglihatan normal, musikalitas yang dimiliki Untung tak bisa dipandang sebelah mata. 

Cowok yang tinggal di Desa Sugihan, Kecamatan Solokuro, Lamongan itu menguasai tiga alat musik.

Drum, gitar, dan keyboard. Di Lamongan, Untung lebih dikenal sebagai keyboardis. 

Wartawan koran ini baru bisa berkomunikasi dengan Untung sekitar pukul 23.00.

Setelah dia menyelesaikan tugasnya menghibur pengunjung hotel di sebelah Wisata Bahari Lamongan (WBL) tersebut. 

Bagi orang dengan penglihatan normal, mudah untuk melihat tombol – tombol pada keyboard.

Namun, Untung yang mengalami kelemahan penglihatan, bisa hapal semua fungsi tombol dan note di keyboard. 

Baca Juga :  Didominasi Barang Bukti Perkara Narkoba

‘’Kalau keyboard pegangan saya sehari-hari sudah hapal. Tapi kalau pegang keyboard yang baru, harus menyesuaikan lagi, karena tata letaknya berbeda,’’ tutur cowok yang memiliki nama panggung Riski Febrian tersebut. 

Hampir semua genre musik dikuasainya. Kalau ada lagu baru yang lagi ngehits, Untung cukup mendengarkan sekitar dua kali.

Dia kemudian mencari kunci dan nada yang pas. Insting yang kuat membuat lagu-lagu baru tersebut cepat melekat di kepalanya. 

‘’Kalau lagunya mudah ya hanya dua kali mendengarkan untuk bisa hafal,’’ ujarnya.   

Untung mengalami lika – liku kehidupan yang memilukan. Sejak kecil, dia ditinggal ibu kandungnya merantau ke negeri orang.

Putra sulung dari tiga bersaudara itu kemudian tinggal di yayasan panti asuhan di Malang.

Untung merasakan pendidikan di salah satu sekolah luar biasa (SLB) di Kota Ngalam.

Di sanalah menjadi awal mula Untung mengenal awal musik. 

‘’Pada waktu umur 10 tahun, saya pertama kali justru kenal drum lebih dulu,’’ kenangnya. 

Setelah mahir memainkan drum, Untung berusaha menguasai alat musik lainnya.

Bakat bermusik yang ada di dirinya, membuat Untung tak membutuhkan waktu lama untuk belajar.

Instingnya cukup kuat untuk mengenali note sebuah lagu.

Baca Juga :  YES BRO Bakal Bantu Ketersediaan Bahan Baku, Modal, hingga Pemasaran

Itu juga membawanya tampil di Singapura bersama teman-temannya di SLB. 

‘’Saya tidak ingat betul kapan tampil di Singapura. Tapi saat itu tampil untuk penggalangan dana,’’ ujarnya. 

Meski tampil di luar negeri, Untung tak mendapatkan bayaran sepeserpun.

Baginya, itu menjadi pengalaman paling berkesan, meski tak bisa merasakan keindahan Singapura karena terkendala penglihatan. 

Untung terlahir dari keluarga muslim, tapi yayasan panti asuhan yang merawatnya memiliki background agama lain.

Dia akhirnya harus mengikuti agama tersebut. 

‘’Waktu itu, saya kerap tampil di tempat ibadah,’’ ujarnya. 

Setelah lulus SLB, Untung memutuskan tinggal bersama kakaknya di Kecamatan Solokuro.

Sekitar 2014, dia ikut audisi grup band Eksplore. Hingga kini, Untung mendapat pemasukan yang lumayan bersama grup musik tersebut.

Untung akhirnya memutuskan untuk menjadi mualaf. 

‘’Bagi teman-teman lainnya yang mengalami nasib sama seperti saya, yang terpenting jangan pernah menyerah dan terus tekun belajar,’’ pesannya. 

Kisah Untung yang kembali menjadi muslim menginspirasi anggota Eksplore Band untuk menciptakan lagu.

Judulnya Syahadat, yang didedikasikan untuk perjalanan hidup Untung.

Perjalanan hidup Untung bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda, agar gigih dan tekun dalam meraih apa yang dicita-citakan. 

Nasib Untung mungkin tak seberuntung orang normal pada umumnya. Namun, penyandang tunanetra itu mampu membuktikan bahwa kekurangan tak menghalangi keinginan seseorang untuk sukses.

Menguasai tiga alat musik, dia kerap tampil menghibur bersama grup musik Eksplore Band. 

—————————————–

INDRA GUNAWAN, Lamongan 

—————————————– 

Eksplore Band tampil memhibur di Tanjung Kodok Resort Beach (TKBR) Kamis malam (18/1).

Keyboardis band asal wilayah pesisir pantai utara (pantura), Lamongan itu seorang penyandang disabilitas.

Untung, keyboardis tersebut biasa disapa. 

Untung mengingatkan pada kisah Ludwig Van Beethoven, komposer tersohor yang mengalami gangguan pendengaran.

Meski tak memiliki penglihatan normal, musikalitas yang dimiliki Untung tak bisa dipandang sebelah mata. 

Cowok yang tinggal di Desa Sugihan, Kecamatan Solokuro, Lamongan itu menguasai tiga alat musik.

Drum, gitar, dan keyboard. Di Lamongan, Untung lebih dikenal sebagai keyboardis. 

Wartawan koran ini baru bisa berkomunikasi dengan Untung sekitar pukul 23.00.

Setelah dia menyelesaikan tugasnya menghibur pengunjung hotel di sebelah Wisata Bahari Lamongan (WBL) tersebut. 

Bagi orang dengan penglihatan normal, mudah untuk melihat tombol – tombol pada keyboard.

Namun, Untung yang mengalami kelemahan penglihatan, bisa hapal semua fungsi tombol dan note di keyboard. 

Baca Juga :  Duh, 84 Peserta PPPK Tak Lolos Tes

‘’Kalau keyboard pegangan saya sehari-hari sudah hapal. Tapi kalau pegang keyboard yang baru, harus menyesuaikan lagi, karena tata letaknya berbeda,’’ tutur cowok yang memiliki nama panggung Riski Febrian tersebut. 

Hampir semua genre musik dikuasainya. Kalau ada lagu baru yang lagi ngehits, Untung cukup mendengarkan sekitar dua kali.

Dia kemudian mencari kunci dan nada yang pas. Insting yang kuat membuat lagu-lagu baru tersebut cepat melekat di kepalanya. 

‘’Kalau lagunya mudah ya hanya dua kali mendengarkan untuk bisa hafal,’’ ujarnya.   

Untung mengalami lika – liku kehidupan yang memilukan. Sejak kecil, dia ditinggal ibu kandungnya merantau ke negeri orang.

Putra sulung dari tiga bersaudara itu kemudian tinggal di yayasan panti asuhan di Malang.

Untung merasakan pendidikan di salah satu sekolah luar biasa (SLB) di Kota Ngalam.

Di sanalah menjadi awal mula Untung mengenal awal musik. 

‘’Pada waktu umur 10 tahun, saya pertama kali justru kenal drum lebih dulu,’’ kenangnya. 

Setelah mahir memainkan drum, Untung berusaha menguasai alat musik lainnya.

Bakat bermusik yang ada di dirinya, membuat Untung tak membutuhkan waktu lama untuk belajar.

Instingnya cukup kuat untuk mengenali note sebuah lagu.

Baca Juga :  Awas, Macet Lebih Parah!

Itu juga membawanya tampil di Singapura bersama teman-temannya di SLB. 

‘’Saya tidak ingat betul kapan tampil di Singapura. Tapi saat itu tampil untuk penggalangan dana,’’ ujarnya. 

Meski tampil di luar negeri, Untung tak mendapatkan bayaran sepeserpun.

Baginya, itu menjadi pengalaman paling berkesan, meski tak bisa merasakan keindahan Singapura karena terkendala penglihatan. 

Untung terlahir dari keluarga muslim, tapi yayasan panti asuhan yang merawatnya memiliki background agama lain.

Dia akhirnya harus mengikuti agama tersebut. 

‘’Waktu itu, saya kerap tampil di tempat ibadah,’’ ujarnya. 

Setelah lulus SLB, Untung memutuskan tinggal bersama kakaknya di Kecamatan Solokuro.

Sekitar 2014, dia ikut audisi grup band Eksplore. Hingga kini, Untung mendapat pemasukan yang lumayan bersama grup musik tersebut.

Untung akhirnya memutuskan untuk menjadi mualaf. 

‘’Bagi teman-teman lainnya yang mengalami nasib sama seperti saya, yang terpenting jangan pernah menyerah dan terus tekun belajar,’’ pesannya. 

Kisah Untung yang kembali menjadi muslim menginspirasi anggota Eksplore Band untuk menciptakan lagu.

Judulnya Syahadat, yang didedikasikan untuk perjalanan hidup Untung.

Perjalanan hidup Untung bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda, agar gigih dan tekun dalam meraih apa yang dicita-citakan. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/