alexametrics
27.6 C
Bojonegoro
Tuesday, May 24, 2022

Cerita Atlet Taekwondo Blora Kehilangan Medali di Kejuaraan

Kejuaraan DWCU Open Taekwondo Internasional Championship di Jogjakarta Minggu (19/11) lalu meninggal cerita bagi atlet Blora. Mereka harus kehilangan medali, akibat terjadi rusuh.

————————-

M. MAHFUDZ M, Blora

————————-

ANAK-anak berpakain putih khas beladiri taekwondo tampak berlatih di halaman SMAN 2 Blora. Anak-anak terlihat serius. Namun, mereka menyimpan kekecewaan karena baru saja kehilangan medali dalam Kejuaraan DWCU Open Taekwondo Internasional Championship di Jogyakarta, Minggu (19/11) lalu. 

Taufan Panji Ramadannuari salah satu atlet taekwondo ikut kompetisi mengaku kecewa karena seharusnya mendapatkan perunggu dalam kelas 68 kilogram (kg). Saat itu, dia telah menjalani satu kali pertandingan. Namun, tiba-tiba di venue kejuaraan terjadi kerusuhan. Penyebabnya, peserta kejuaraan internasional itu kecewa dengan panitia. 

Baca Juga :  Di Inggris, Kang Yoto Sampaikan Tantangan OGP

Terjadinya kerusuhan, kata Taufan Panji, terpaksa kehilangan medali karena kejuaraan itu digugurkan. ’’Terpaksa digugurkan,” ujar salah satu anggota Satsabara Dalmas Polres Blora ini.

Bukan hanya dirinya yang kehilangan medali, tapi juga beberapa atlet lainnya. Bahkan, ada temannya mendapatkan emas dan perak. Namun, kerusuhan itu membuat medali keduanya sirna. Termasuk, ada atlet luar negeri juga kehilangan medali.

Menurut dia, sejak awal sudah merasa ada keganjilan. Salah satunya medali emas, perak, dan perunggu warnanya semuanya sama. Semestinya, beda. Keganjilan lainnya, lanjut dia, salah satu temannya ada yang didiskualifiaksi karena masalah penutup gigi. 

Keteledoran panitia juga dari piagam tidak terdapat tanda tangan pemprov, Kemenpora dan kesultanan. Sehingga banyak peserta menuntut akomodasi. Kerusuhan membuat medali hilang tak membuatnya kecil hati. Dia mulai menatap melakukan kompetisi lainnya. ’’Nanti Desember ada pra-porpov, semoga saja bisa ikut,” ucapnya.

Baca Juga :  Motifnya Sulit, Diminati Pembeli Arab, Singapura, dan Tiongkok

Pelatih Taekwondo Akhmad Khoirul Sumian mengaku kecewa hilangnya sejumlah medali dalam kejuaraan internasional itu. Kejuaraan itu sangat memalukan bagi taekwondo nasional, karena diikuti atlet luar negeri. Meliputi Malaysia, Singapura, Tiongkok, Saudi Arabia, dan Australia. Sehingga, banyak peserta yang menuntut akomodasi kepada panitian.

Kejuaraan DWCU Open Taekwondo Internasional Championship di Jogjakarta Minggu (19/11) lalu meninggal cerita bagi atlet Blora. Mereka harus kehilangan medali, akibat terjadi rusuh.

————————-

M. MAHFUDZ M, Blora

————————-

ANAK-anak berpakain putih khas beladiri taekwondo tampak berlatih di halaman SMAN 2 Blora. Anak-anak terlihat serius. Namun, mereka menyimpan kekecewaan karena baru saja kehilangan medali dalam Kejuaraan DWCU Open Taekwondo Internasional Championship di Jogyakarta, Minggu (19/11) lalu. 

Taufan Panji Ramadannuari salah satu atlet taekwondo ikut kompetisi mengaku kecewa karena seharusnya mendapatkan perunggu dalam kelas 68 kilogram (kg). Saat itu, dia telah menjalani satu kali pertandingan. Namun, tiba-tiba di venue kejuaraan terjadi kerusuhan. Penyebabnya, peserta kejuaraan internasional itu kecewa dengan panitia. 

Baca Juga :  Sempat Kesulitan Cari Bahan Materi tentang Kongo

Terjadinya kerusuhan, kata Taufan Panji, terpaksa kehilangan medali karena kejuaraan itu digugurkan. ’’Terpaksa digugurkan,” ujar salah satu anggota Satsabara Dalmas Polres Blora ini.

Bukan hanya dirinya yang kehilangan medali, tapi juga beberapa atlet lainnya. Bahkan, ada temannya mendapatkan emas dan perak. Namun, kerusuhan itu membuat medali keduanya sirna. Termasuk, ada atlet luar negeri juga kehilangan medali.

Menurut dia, sejak awal sudah merasa ada keganjilan. Salah satunya medali emas, perak, dan perunggu warnanya semuanya sama. Semestinya, beda. Keganjilan lainnya, lanjut dia, salah satu temannya ada yang didiskualifiaksi karena masalah penutup gigi. 

Keteledoran panitia juga dari piagam tidak terdapat tanda tangan pemprov, Kemenpora dan kesultanan. Sehingga banyak peserta menuntut akomodasi. Kerusuhan membuat medali hilang tak membuatnya kecil hati. Dia mulai menatap melakukan kompetisi lainnya. ’’Nanti Desember ada pra-porpov, semoga saja bisa ikut,” ucapnya.

Baca Juga :  Manfaatkan Buah Bintaro, Raih Juara 2 WICE

Pelatih Taekwondo Akhmad Khoirul Sumian mengaku kecewa hilangnya sejumlah medali dalam kejuaraan internasional itu. Kejuaraan itu sangat memalukan bagi taekwondo nasional, karena diikuti atlet luar negeri. Meliputi Malaysia, Singapura, Tiongkok, Saudi Arabia, dan Australia. Sehingga, banyak peserta yang menuntut akomodasi kepada panitian.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/