alexametrics
23.7 C
Bojonegoro
Monday, June 27, 2022

Penyaluran BPNT Bermasalah, Dinsos Evaluasi Kinerja Supplier

Radar Bojonegoro – Keluhan keluarga penerima manfaat (KPM) menerima telur dan tempe, dari Rp 200 ribu, program bantuan pangan nontunai (BPNT) di Kecamatan Kedungadem, menjadi catatan dinas sosial (dinsos) setempat. Sebab, ini membuktikan supplier belum siap memenuhi kebutuhan agen, sehingga merugikan KPM. Kepala Dinsos Bojonegoro Arwan menuturkan, keterlambatan penyaluran ini karena masih dalam masa transisi.

Yakni, usai melakukan evaluasi terkait penyaluran BPNT pusat. Sebab, dinsos setiap enam bulan melakukan evaluasi. ‘’Salah satu evaluasinya, kualitas beras yang diterima KPM kurang bagus. Akhirnya kami evaluasi supplier-nya (diganti),” katanya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (22/9).

Mantan Camat Kedungadem itu menambahkan, sejumlah KPM di beberapa wilayah belum menerima komoditas secara utuh. Namun, mulai kemarin komoditas belum diterima KPM mulai terdistribusikan ke agen penyalur.

‘’Sehingga dalam minggu ini, KPM sudah bisa menerima semua komoditas,” tandasnya. Arwan menambahkan, jumlah agen penyalur dengan KPM masih belum ideal. Seharusnya, satu agen maksimal melayani 250 KPM. Sementara, jika jumlah KPM dalam satu desa sekitar 150-200, bisa bergabung di agen desa terdekat.

Tentu semua ini agar proses penyaluran bisa lebih maksimal. ‘’Harapan kami minimal satu desa satu agen. Target kami harusnya Agustus kemarin. Tapi faktanya masih terkendala EDC (electric data capture),” tegasnya.

Baca Juga :  Bu Anna Minta IPSI Membantu Kamtibmas dan Pembinaan Olahraga

Agen harus memiliki EDC, karena sebagai alat menggesek kartu keluarga sejahtera (KKS) kaitannya KPM menebus komoditas bahan pangan. Sedangkan, kewenangan pemberian EDC itu BNI. ‘’Namun Bank (BNI) tidak berani mengeluarkan jika belum mendapat komando dari pusat. Sementara pusat juga belum mengeluarkan instruksi jika belum ada arahan dari Kemensos,” tambahnya.

Dinsos sebatas mengajukan surat kepada Kemensos, agar EDC segera terdistribusikan ke agen penyalur. Prinsipnya, penambahan agen beserta ketersediaan EDC sedang diupayakan. ‘’Intinya terkait jumlah agen dan ketersediaan EDC akan bergerak terus setiap bulannya. Kami terus berupaya,” klaimnya. Asih Astriningrum, salah satu agen penyalur di Kecamatan Kedungadem mengatakan, sebelumnya komoditas yang tersedia baru telur dan tempe.

Sedangkan, untuk beras, daging, dan buah-buahan, belum tersedia. Namun, dalam waktu dekat berjanji akan segera diserahkan ke KPM. ‘’Beras hari ini (kemarin) dan besok (hari ini) se Kecamatan Kedungadem sudah ter-dropping semua. Sedangkan ayam (daging) dan buah serentak se kecamatan pada 27 September,” katanya.

Asih mengatakan, BPNT dari Kemensos itu nominalnya Rp 200 ribu, tapi KPM tak bisa menarik tunai. Sebaliknya, hanya bisa digesek di agen BPNT untuk mendapatkan beras, telur, daging, buah, dan tempe.

Seharunya, saat penebusan KPM menerima semua jenis bantuan itu. Namun, di agen hanya tersedia stok telur dan tempe. ‘’Kami menunggu kiriman dari supplier,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Pemakaman Jenazah Terduga Covid Harus Menerapkan Protokol Kesehatan

Camat Kedungadem Agus Saiful Arif menambahkan, keterlambatan pendistribusian komoditas ke agen penyalur karena supplier masih menunggu SK nota dinas. Sebab, jika belum mengantongi itu, supplier juga tidak mau mendistribusikan.

‘’SK supplier beras kaitannya dengan pendistribusian itu belum ada dari Ibu Bupati. Senin (21/9) sore itu baru turun nota dinasnya,” tegasnya. Setelah SK turun, kemudian supplier melakukan pendistribusian beras. Sementara untuk daging dan buah, menunggu dua sampai tiga hari. Karena masih pesan dulu.

‘’Tidak sampai Minggu (27/9), semua komoditas yang belum diterima sudah kami salurkan semua. Karena memang sudah ada jadwalnya,” janji mantan Camat Bubulan itu. Agus menambahkan, jadwal penyaluran, telur, tempe, dan beras disalurkan bersama-sama. Sedangkan, daging dan buah menyusul. Intinya, dalam pendistribusiannya memang telah dijadwalkan.

‘’Jadi saya memantau sendiri segala prosesnya. Agar tidak sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tukasnya. Dalam penggesekan kartu, menurut Agus, seharusnya besarannya disesuaikan dengan komoditas yang diterima KPM. Namun, sering kali terjadi KPM meminta agen untuk seketika saat menggeseknya. Meskipun belum semua komoditas diterima. ‘’Karena kondisinya dalam waktu dekat komoditas (yang belum diterima) tersebut juga akan tersalurkan,” ujarnya.

Radar Bojonegoro – Keluhan keluarga penerima manfaat (KPM) menerima telur dan tempe, dari Rp 200 ribu, program bantuan pangan nontunai (BPNT) di Kecamatan Kedungadem, menjadi catatan dinas sosial (dinsos) setempat. Sebab, ini membuktikan supplier belum siap memenuhi kebutuhan agen, sehingga merugikan KPM. Kepala Dinsos Bojonegoro Arwan menuturkan, keterlambatan penyaluran ini karena masih dalam masa transisi.

Yakni, usai melakukan evaluasi terkait penyaluran BPNT pusat. Sebab, dinsos setiap enam bulan melakukan evaluasi. ‘’Salah satu evaluasinya, kualitas beras yang diterima KPM kurang bagus. Akhirnya kami evaluasi supplier-nya (diganti),” katanya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (22/9).

Mantan Camat Kedungadem itu menambahkan, sejumlah KPM di beberapa wilayah belum menerima komoditas secara utuh. Namun, mulai kemarin komoditas belum diterima KPM mulai terdistribusikan ke agen penyalur.

‘’Sehingga dalam minggu ini, KPM sudah bisa menerima semua komoditas,” tandasnya. Arwan menambahkan, jumlah agen penyalur dengan KPM masih belum ideal. Seharusnya, satu agen maksimal melayani 250 KPM. Sementara, jika jumlah KPM dalam satu desa sekitar 150-200, bisa bergabung di agen desa terdekat.

Tentu semua ini agar proses penyaluran bisa lebih maksimal. ‘’Harapan kami minimal satu desa satu agen. Target kami harusnya Agustus kemarin. Tapi faktanya masih terkendala EDC (electric data capture),” tegasnya.

Baca Juga :  Temukan Banyak Hewan Kurban Belum Cukup Umur

Agen harus memiliki EDC, karena sebagai alat menggesek kartu keluarga sejahtera (KKS) kaitannya KPM menebus komoditas bahan pangan. Sedangkan, kewenangan pemberian EDC itu BNI. ‘’Namun Bank (BNI) tidak berani mengeluarkan jika belum mendapat komando dari pusat. Sementara pusat juga belum mengeluarkan instruksi jika belum ada arahan dari Kemensos,” tambahnya.

Dinsos sebatas mengajukan surat kepada Kemensos, agar EDC segera terdistribusikan ke agen penyalur. Prinsipnya, penambahan agen beserta ketersediaan EDC sedang diupayakan. ‘’Intinya terkait jumlah agen dan ketersediaan EDC akan bergerak terus setiap bulannya. Kami terus berupaya,” klaimnya. Asih Astriningrum, salah satu agen penyalur di Kecamatan Kedungadem mengatakan, sebelumnya komoditas yang tersedia baru telur dan tempe.

Sedangkan, untuk beras, daging, dan buah-buahan, belum tersedia. Namun, dalam waktu dekat berjanji akan segera diserahkan ke KPM. ‘’Beras hari ini (kemarin) dan besok (hari ini) se Kecamatan Kedungadem sudah ter-dropping semua. Sedangkan ayam (daging) dan buah serentak se kecamatan pada 27 September,” katanya.

Asih mengatakan, BPNT dari Kemensos itu nominalnya Rp 200 ribu, tapi KPM tak bisa menarik tunai. Sebaliknya, hanya bisa digesek di agen BPNT untuk mendapatkan beras, telur, daging, buah, dan tempe.

Seharunya, saat penebusan KPM menerima semua jenis bantuan itu. Namun, di agen hanya tersedia stok telur dan tempe. ‘’Kami menunggu kiriman dari supplier,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Sempatkan Jogging Sore

Camat Kedungadem Agus Saiful Arif menambahkan, keterlambatan pendistribusian komoditas ke agen penyalur karena supplier masih menunggu SK nota dinas. Sebab, jika belum mengantongi itu, supplier juga tidak mau mendistribusikan.

‘’SK supplier beras kaitannya dengan pendistribusian itu belum ada dari Ibu Bupati. Senin (21/9) sore itu baru turun nota dinasnya,” tegasnya. Setelah SK turun, kemudian supplier melakukan pendistribusian beras. Sementara untuk daging dan buah, menunggu dua sampai tiga hari. Karena masih pesan dulu.

‘’Tidak sampai Minggu (27/9), semua komoditas yang belum diterima sudah kami salurkan semua. Karena memang sudah ada jadwalnya,” janji mantan Camat Bubulan itu. Agus menambahkan, jadwal penyaluran, telur, tempe, dan beras disalurkan bersama-sama. Sedangkan, daging dan buah menyusul. Intinya, dalam pendistribusiannya memang telah dijadwalkan.

‘’Jadi saya memantau sendiri segala prosesnya. Agar tidak sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tukasnya. Dalam penggesekan kartu, menurut Agus, seharusnya besarannya disesuaikan dengan komoditas yang diterima KPM. Namun, sering kali terjadi KPM meminta agen untuk seketika saat menggeseknya. Meskipun belum semua komoditas diterima. ‘’Karena kondisinya dalam waktu dekat komoditas (yang belum diterima) tersebut juga akan tersalurkan,” ujarnya.

Artikel Terkait

Most Read

Suka Bertemu Orang Baru

Prabowo-Sandi Keok di Bojonegoro

Artikel Terbaru


/