alexametrics
32.2 C
Bojonegoro
Tuesday, August 9, 2022

Hasil Kurang Menguntungkan, Petani Bawang Terkendala Pemasaran

Radar Bojonegoro – Tanaman hortikultura bawang merah mulai dilirik petani di Kecamatan Trucuk, dan Malo. Sebagian petani mengganti produkasi lahan pertanian padi, karena dirasa kurang menguntungkan saat panen.

Jurianto, petani bawang merah di Desa Kanten, Kecamatan Trucuk menjelaskan, petani kelompoknya beralih dari menanam padi menjadi menanam bawang merah. Sebab, petani merasa selalu merugi saat panen tiba. Kondisi tersebut mendorong petani untuk merombak tanamannya.

“Saya tanami padi sudah dua kali kebelakang ha silnya tidak maksimal,” ungkapnya kemarin.

Juri mencoba meningkatkan kesejahteraan kelompok taninya dengan menaman bawang merah. Menerangkan kelompok taninya memiliki dua hektar lahan yang ditanami bawang merah, modal yang dikeluarkan Rp 23 juta, untuk perawatan, obat, pupuk dan benih.

Baca Juga :  Gus Kaffi Kembali Pimpin Pemuda Pancasila

“Untuk pupuknya kami tidak mendapatkan subsidi,’’ tegasnya. Para petani masih kesulitan dan bingung pemasaran bawang merah, sebab baru kali pertama memanen bawang. Panennya berkisar 3 sampai 4 kwintal. Saat ini bawang yang dipanen akan disimpan dahulu hingga ada pembeli.

“Pemasarannya belum tahun, di mana pasar yang membutuhkan dan pembeli yang ingin membeli,” tuturnya.

Lasmin, warga Desa Tanggir, Kecamatan Malo menambahkan, lahan di pekarangan rumahnya ditanami bawang merah sejak beberapa bulan lalu. Menurutnya bawang merah lebih mempunyai daya tarik dibanding menanam padi. “Saya tanam di pinggir rumah agar mudah untuk merawatnya,” ujarnya.

Lasmin mengungkapkan, kondisi lahan di desanya yang dekat dengan aliran Bengawan Solo menjadi kemudahan pasokan air untuk bawang merah yang ditanamnya. Namun, selama ini memasarkan hasil panen kepada warga desanya sendiri. “Tetangga yang butuh biasanya datang langsung untuk membeli,” tuturnya. (luk)

Baca Juga :  Program Pengembangan Ekonomi Nelayan SKK Migas-EMCL

Radar Bojonegoro – Tanaman hortikultura bawang merah mulai dilirik petani di Kecamatan Trucuk, dan Malo. Sebagian petani mengganti produkasi lahan pertanian padi, karena dirasa kurang menguntungkan saat panen.

Jurianto, petani bawang merah di Desa Kanten, Kecamatan Trucuk menjelaskan, petani kelompoknya beralih dari menanam padi menjadi menanam bawang merah. Sebab, petani merasa selalu merugi saat panen tiba. Kondisi tersebut mendorong petani untuk merombak tanamannya.

“Saya tanami padi sudah dua kali kebelakang ha silnya tidak maksimal,” ungkapnya kemarin.

Juri mencoba meningkatkan kesejahteraan kelompok taninya dengan menaman bawang merah. Menerangkan kelompok taninya memiliki dua hektar lahan yang ditanami bawang merah, modal yang dikeluarkan Rp 23 juta, untuk perawatan, obat, pupuk dan benih.

Baca Juga :  Rawat Sungai dengan Festival¬†

“Untuk pupuknya kami tidak mendapatkan subsidi,’’ tegasnya. Para petani masih kesulitan dan bingung pemasaran bawang merah, sebab baru kali pertama memanen bawang. Panennya berkisar 3 sampai 4 kwintal. Saat ini bawang yang dipanen akan disimpan dahulu hingga ada pembeli.

“Pemasarannya belum tahun, di mana pasar yang membutuhkan dan pembeli yang ingin membeli,” tuturnya.

Lasmin, warga Desa Tanggir, Kecamatan Malo menambahkan, lahan di pekarangan rumahnya ditanami bawang merah sejak beberapa bulan lalu. Menurutnya bawang merah lebih mempunyai daya tarik dibanding menanam padi. “Saya tanam di pinggir rumah agar mudah untuk merawatnya,” ujarnya.

Lasmin mengungkapkan, kondisi lahan di desanya yang dekat dengan aliran Bengawan Solo menjadi kemudahan pasokan air untuk bawang merah yang ditanamnya. Namun, selama ini memasarkan hasil panen kepada warga desanya sendiri. “Tetangga yang butuh biasanya datang langsung untuk membeli,” tuturnya. (luk)

Baca Juga :  Pernah Lari Tiga Hari Sejauh 133 Kilometer

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/