alexametrics
29.8 C
Bojonegoro
Sunday, August 14, 2022

Sebanyak 513 Embung, Tersisa 29 Terisi Air

- Advertisement -

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Kemarau memicu waduk di Desa Sumodikaran, Kecamatan Dander, mengering. Ratusan ikan pun mati karena kekeringan. Beragam ikan kering di dasar waduk yang memujur timur-barat tersebut.

Menurut Irfan, warga setempat mengatakan, selain ikan mati, juga membuat ratusan hektare sawah kering. Berkurangnya volume air dalam waduk terbesar di Kecamatan Dander ini sejak dua bulan terakhir. Hanya, air benar-benar habis dalam seminggu ini. Beragam ikan seperti wader, nila, tengil, tak lagi bisa bertahan hidup karena tidak ada air tersisa.

Slamet, 63, warga Desa Sendangrejo, Kecamatan Dander menambahkan, kondisi keringnya waduk sangat berpengaruh kepada para petani di sekitar waduk. Di antaranya Desa Sumodikaran, Desa Ngumpakdalem, dan wilayah terdekatnya. 

Baca Juga :  Guru Harus Siap Disebar

Slamet menambahkan, para petani yang memiliki lahan sawah di desa tersebut sangat mengandalkan air yang disedot diesel dari waduk serta embung buatan di sisi timur waduk. 

Sementara itu, meski kemarin (22/8) sore hujan deras secara merata di wilayah Bojonegoro, namun musim kemarau belum usai. Sebanyak 513 embung se-Bojonegoro dalam kondisi kering kerontang. Hanya 29 embung yang masih ada airnya. Dan 13 embung dalam kondisi rusak atau air tidak terisi maksimal. 

- Advertisement -

Dari 29 embung yang masih ada airnya itu hanya 10 dari 28 kecamatan. “Di antaranya Kecamatan Purwosari, Gondang, Sumberrejo, Kedungadem, Baureno, Padangan, Balen, Kepohbaru, Sugihwaras, dan Temayang,” jelas Kepala Seksi (Kasi) Pemanfaatan Air Baku Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) Dodi Sigit Wijaya.

Baca Juga :  Siagakan Avengers di Rest Area

Dodi mengatakan, saat ini sudah ada 13 embung yang dinormalisasi. Sedangkan, embung yang masih proses normalisasi di tiga titik. Pihaknya menargetkan 35 titik embung dinormalisasi tahun ini. 

Normalisasi embung juga dianggarkan senilai Rp 1,8 miliar. Hingga saat ini, antrean normalisasi embung masih panjang. Karena selalu ada permohonan proposal dari banyak desa.

“Jadi, mohon bersabar bagi embung yang belum dinormalisasi, sebab alat berat kami juga terbatas,” tuturnya.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Kemarau memicu waduk di Desa Sumodikaran, Kecamatan Dander, mengering. Ratusan ikan pun mati karena kekeringan. Beragam ikan kering di dasar waduk yang memujur timur-barat tersebut.

Menurut Irfan, warga setempat mengatakan, selain ikan mati, juga membuat ratusan hektare sawah kering. Berkurangnya volume air dalam waduk terbesar di Kecamatan Dander ini sejak dua bulan terakhir. Hanya, air benar-benar habis dalam seminggu ini. Beragam ikan seperti wader, nila, tengil, tak lagi bisa bertahan hidup karena tidak ada air tersisa.

Slamet, 63, warga Desa Sendangrejo, Kecamatan Dander menambahkan, kondisi keringnya waduk sangat berpengaruh kepada para petani di sekitar waduk. Di antaranya Desa Sumodikaran, Desa Ngumpakdalem, dan wilayah terdekatnya. 

Baca Juga :  Gadis ini Kejar Obsesi Menjadi Apoteker

Slamet menambahkan, para petani yang memiliki lahan sawah di desa tersebut sangat mengandalkan air yang disedot diesel dari waduk serta embung buatan di sisi timur waduk. 

Sementara itu, meski kemarin (22/8) sore hujan deras secara merata di wilayah Bojonegoro, namun musim kemarau belum usai. Sebanyak 513 embung se-Bojonegoro dalam kondisi kering kerontang. Hanya 29 embung yang masih ada airnya. Dan 13 embung dalam kondisi rusak atau air tidak terisi maksimal. 

- Advertisement -

Dari 29 embung yang masih ada airnya itu hanya 10 dari 28 kecamatan. “Di antaranya Kecamatan Purwosari, Gondang, Sumberrejo, Kedungadem, Baureno, Padangan, Balen, Kepohbaru, Sugihwaras, dan Temayang,” jelas Kepala Seksi (Kasi) Pemanfaatan Air Baku Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) Dodi Sigit Wijaya.

Baca Juga :  Kecelakaan, Pengendara Motor Terpental, Mobil Terguling

Dodi mengatakan, saat ini sudah ada 13 embung yang dinormalisasi. Sedangkan, embung yang masih proses normalisasi di tiga titik. Pihaknya menargetkan 35 titik embung dinormalisasi tahun ini. 

Normalisasi embung juga dianggarkan senilai Rp 1,8 miliar. Hingga saat ini, antrean normalisasi embung masih panjang. Karena selalu ada permohonan proposal dari banyak desa.

“Jadi, mohon bersabar bagi embung yang belum dinormalisasi, sebab alat berat kami juga terbatas,” tuturnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/