alexametrics
29.8 C
Bojonegoro
Sunday, August 14, 2022

Pilkada 2020, Kesempatan Muncul Poros Baru

- Advertisement -

TUBAN, Radar Tuban – Pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2020 di Tuban bisa menjadi alternatif munculnya poros baru di luar poros Letda Sucipto dan Latsari. Yang dimaksud poros Letda Sucipto dan Latsari adalah dua poros lama yang masing-masing memimpin Tuban selama dua periode. Poros pertama yang mengambil jalan rumah mantan bupati dua periode Haeny Relawati Rini Widyastuti merepresentasikan Partai Golkar. Dan, poros kedua (Jalan Latsari, rumah Fathul Huda) merepresentasikan PKB.

Dengan dua poros lama yang sama-sama memimpin Tuban selama dua periode, menurut pengamat komunikasi politik Amrullah Ali Moebin, kemungkinan masyarakat berharap adanya sosok baru. ‘’Keinginan masyarakat inilah yang bisa menjadi alternatif munculnya poros baru di luar poros lama,’’ terang pengamat komunikasi politik yang juga dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung itu.

Disampaikan Aam, panggilan akrabnya,keinginan masyarakat terkait munculnya sosok baru ini bisa menjadi kesempatan bagi partai politik (parpol) di luar dua poros lama, Golkar dan PKB. ‘’Sekarang tinggal mencari sosok dan keberanian dari masing-masing parpol,’’ ujar dia. Disinggung terkait tingginya cost politic yang harus ditanggung dalam persaingan menghadapi dua poros lama, Haeny dan Huda, menurut Aam, cost politic bisa diminimalisir dengan nilai tawar. ‘’Nilai tawar itu juga bagian dari cost politik. Sekarang tergantung bagaimana parpol di luar dua poros lama bisa memunculkan sosok baru yang memiliki nilai tawar terhadap masyarakat,’’ papar pengamat komunikasi politik jebolan pascasarjana Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya itu.

Baca Juga :  Fokus Pengisian Tujuh Kepala Dinas

Nilai tawar itu, kata dia, bisa diciptakan melalui jalur konvensi. Artinya, parpol yang memiliki semangat bersama untuk menciptakan poros dan sosok baru di luar trah Heany dan Huda bisa membuka ruang selebar-lebarnya kepada putra-putri terbaik Tuban untuk mencalonkan diri sebagai bupati Tuban. Baik yang sukses berproses di Tuban maupun di tingkat nasional. Tidak hanya berlatar politisi, tapi juga bisa dari akademisi maupun pengusaha.

‘’Ini (konvensi, Red) adalah salah satu bentuk strategi untuk memberikan ruang kepada publik bisa bergabung (dalam poros baru melawan poros lama, Red). Jika itu bisa, maka akan tercipta sejarah baru di Tuban,’’ ujar mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesi (PMII) itu.

Baca Juga :  Fredy Hanya Test-Case Bani Huda
- Advertisement -

Hanya, lanjut Aam, lagi-lagi dikembalikan kepada komitmen partai politik. Karena tanpa adanya komitmen dari parpol yang ingin menciptakan sejarah dan perubahan, maka  keinginan bersama untuk memunculkan sosok baru di luar trah Letda Sucipto dan Latsari itu bakal sulit terwujud.

Sebagaimana diketahui, isu yang berkembang menjelang Pilkada 2020, sosok trah dari dua kubu lama, Haeny maupun Huda masih menguasai percaturan di tingkat grassroot. Bukan karena sosoknya, tapi karena mahalnya cost politic menjadi calon bupati Tuban yang dinilai belum ada yang mampu menandingi keduanya.

TUBAN, Radar Tuban – Pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2020 di Tuban bisa menjadi alternatif munculnya poros baru di luar poros Letda Sucipto dan Latsari. Yang dimaksud poros Letda Sucipto dan Latsari adalah dua poros lama yang masing-masing memimpin Tuban selama dua periode. Poros pertama yang mengambil jalan rumah mantan bupati dua periode Haeny Relawati Rini Widyastuti merepresentasikan Partai Golkar. Dan, poros kedua (Jalan Latsari, rumah Fathul Huda) merepresentasikan PKB.

Dengan dua poros lama yang sama-sama memimpin Tuban selama dua periode, menurut pengamat komunikasi politik Amrullah Ali Moebin, kemungkinan masyarakat berharap adanya sosok baru. ‘’Keinginan masyarakat inilah yang bisa menjadi alternatif munculnya poros baru di luar poros lama,’’ terang pengamat komunikasi politik yang juga dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung itu.

Disampaikan Aam, panggilan akrabnya,keinginan masyarakat terkait munculnya sosok baru ini bisa menjadi kesempatan bagi partai politik (parpol) di luar dua poros lama, Golkar dan PKB. ‘’Sekarang tinggal mencari sosok dan keberanian dari masing-masing parpol,’’ ujar dia. Disinggung terkait tingginya cost politic yang harus ditanggung dalam persaingan menghadapi dua poros lama, Haeny dan Huda, menurut Aam, cost politic bisa diminimalisir dengan nilai tawar. ‘’Nilai tawar itu juga bagian dari cost politik. Sekarang tergantung bagaimana parpol di luar dua poros lama bisa memunculkan sosok baru yang memiliki nilai tawar terhadap masyarakat,’’ papar pengamat komunikasi politik jebolan pascasarjana Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya itu.

Baca Juga :  Silaturrahmi Untuk Tuban Lebih Baik NasDem-PAN-PPP Sama Calon Bupati

Nilai tawar itu, kata dia, bisa diciptakan melalui jalur konvensi. Artinya, parpol yang memiliki semangat bersama untuk menciptakan poros dan sosok baru di luar trah Heany dan Huda bisa membuka ruang selebar-lebarnya kepada putra-putri terbaik Tuban untuk mencalonkan diri sebagai bupati Tuban. Baik yang sukses berproses di Tuban maupun di tingkat nasional. Tidak hanya berlatar politisi, tapi juga bisa dari akademisi maupun pengusaha.

‘’Ini (konvensi, Red) adalah salah satu bentuk strategi untuk memberikan ruang kepada publik bisa bergabung (dalam poros baru melawan poros lama, Red). Jika itu bisa, maka akan tercipta sejarah baru di Tuban,’’ ujar mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesi (PMII) itu.

Baca Juga :  Usung Koalisi Poros Tengah Pilkada 2020 Kabupaten Tuban
- Advertisement -

Hanya, lanjut Aam, lagi-lagi dikembalikan kepada komitmen partai politik. Karena tanpa adanya komitmen dari parpol yang ingin menciptakan sejarah dan perubahan, maka  keinginan bersama untuk memunculkan sosok baru di luar trah Letda Sucipto dan Latsari itu bakal sulit terwujud.

Sebagaimana diketahui, isu yang berkembang menjelang Pilkada 2020, sosok trah dari dua kubu lama, Haeny maupun Huda masih menguasai percaturan di tingkat grassroot. Bukan karena sosoknya, tapi karena mahalnya cost politic menjadi calon bupati Tuban yang dinilai belum ada yang mampu menandingi keduanya.

Artikel Terkait

Most Read

Strategi Jitu Herry Kis

Suka Lihat Pemandangan

Tertabrak Truk, Tewas

Artikel Terbaru


/