alexametrics
22.5 C
Bojonegoro
Wednesday, June 29, 2022

Ketika Menjilid Portofolio Seberat 10 Kg, Mobil Ditabrak Tronton

DEWI Insani, 50, guru SMAN 1 Tuban lolos sebagai runner up guru berprestasi Jawa Timur. Penghargaan tersebut diserahkan langsung Gubernur Jawa Timur Kofifah Indar Parawansa dan Wakil Gubernur Emil Dardak di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Sabtu (17/8) lalu.

Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-74 Indonesia Sabtu (17/8) menjadi hari tak terlupakan bagi Dewi Insani. Pada upacara bendera di Gedung Negara Grahadi Surabaya, namanya dipanggil ke atas podium untuk menerima penghargaan sebagai guru berprestasi dari Gubernur Jatim Kofifah Indar Parawansa dan wakil gubernur Emil Dardak. Dari 38 guru perwakilan kota/kabupaten se-Jawa Timur, Tuban menduduki posisi kedua.

Juara pertama diraih Marta Mila, guru SMAN 2 Situbondo. Juara ketiga Agnes Yuni, guru SMAN 1 Malang. Prestasi tersebut sangat bergengsi karena harus berlomba menjadi yang terbaik dari puluhan pesaing di sekolah-sekolah kota besar di Jawa Timur, termasuk Malang dan Surabaya yang selama ini rutin menduduki peringkat tiga besar. ‘’Tidak menyangka, awalnya ikut kompetisi ini untuk menjalankan tanggung jawab dari sekolah,’’ tutur dia.

Kebanggaan pendidik yang tinggal di Perumnas Tasikmadu ini cukup beralasan. Untuk mendapat predikat tersebut, dia harus melalui serangkaian tes dan perjalanan yang cukup panjang nan melelahkan. Yang dinilai tidak hanya dari kemampuan saat menjalani tes, namun juga pengalaman mengajar dan aktivitas sosial. Terlebih, sebelum ke provinsi, ada penilaian guru berprestasi tingkat kabupaten. ‘’Alhamdulillah saya peringkat satu di kabupaten, kemudian lanjut ke Jawa Timur,’’ tutur dia.

Baca Juga :  Berbagi Pengalaman dari Kuala Lumpur

Tahap pertama untuk mendapatkan predikat guru berprestasi dimulai dari pengumpulan portofolio. Biodata tersebut bertujuan untuk menilai rekam jejak pengalaman para pendidik. Untuk menyiapkan syarat administrasi tersebut, Dewi menuliskan latar belakang pendidikan, berbagai prestasi, dan inovasi pembelajarannya untuk dijilid. ‘’Total portofolio saya satu boks seberat lebih dari 10 kilogram (kg),’’ jelas ibu tiga anak ini.

Ada perjuangan ekstra untuk menjilid sepuluh kilogram kertas portofolio tersebut. Untuk membawa tumpukan kertas bertuliskan pengalaman hidupnya, Dewi harus membawanya dengan mobil. Termasuk saat akan menjilidnya. Satu hari sebelum mengumpulkan syarat administrasi tersebut, Dewi beserta Hadi Jupri sang suami hendak membawa portofolio ke penjilidan. Di depan penjilidan, city car yang dikemudikan suaminya ditabrak tronton dari belakang.

Dalam insiden tersebut, Dewi dan suami selamat, namun bodi belakang mobilnya ringsek. Saat peristiwa tersebut, pendidik lulusan pascasarjana Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini sempat down. Ketika dia tak bersemangat, sang suami terus memotivasinya. Begitu juga rekan-rekan kerjanya juga menyemangatinya agar terus melanjutnya kompetisinya.

Baca Juga :  Siswa SMA Sudah Terbiasa Tryout CBT

Tahap pertama seleksi tersebut dilaluinya dengan mulus. Pendidik fisika ini dinyatakan lulus administrasi dan melanjutkan ke tahap computer based test (CBT) untuk mengetahui kemampuan teknisnya dalam mengajar.

Tahap berikutnya, wanita yang juga waka bidang humas SMAN 1 Tuban ini menjalani psikotes. Terakhir, Dewi harus mempresentasikan portofolio yang dia tulis. Termasuk penjelasan pengalaman organisasi, keaktifan pelatihan, pengembangan inovasi pembelajaran, serta kegiatan sosial yang dilakukan. ‘’Alhamdulillah, seluruh tes pada Juli lalu berjalan lancar,’’ kenang dia.

Wanita kelahiran Banyuwangi ini mengatakan, banyak kriteria yang dinilai dalam kompetisi tahunan tersebut. Selain pengalaman pribadi, peserta seleksi juga dinilai dari tingkat kesuksesan dalam mendidik siswa. Dewi selama ini dikenal sebagai guru pembina ekstrakurikuler olimpiade siswa nasional (OSN). Sudah tak terhitung jumlah anak didiknya yang menjuarai OSN hingga level provinsi dan nasional. Nah, salah satu kriteria yang disyaratkan adalah memiliki anak didik juara nasional.

DEWI Insani, 50, guru SMAN 1 Tuban lolos sebagai runner up guru berprestasi Jawa Timur. Penghargaan tersebut diserahkan langsung Gubernur Jawa Timur Kofifah Indar Parawansa dan Wakil Gubernur Emil Dardak di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Sabtu (17/8) lalu.

Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-74 Indonesia Sabtu (17/8) menjadi hari tak terlupakan bagi Dewi Insani. Pada upacara bendera di Gedung Negara Grahadi Surabaya, namanya dipanggil ke atas podium untuk menerima penghargaan sebagai guru berprestasi dari Gubernur Jatim Kofifah Indar Parawansa dan wakil gubernur Emil Dardak. Dari 38 guru perwakilan kota/kabupaten se-Jawa Timur, Tuban menduduki posisi kedua.

Juara pertama diraih Marta Mila, guru SMAN 2 Situbondo. Juara ketiga Agnes Yuni, guru SMAN 1 Malang. Prestasi tersebut sangat bergengsi karena harus berlomba menjadi yang terbaik dari puluhan pesaing di sekolah-sekolah kota besar di Jawa Timur, termasuk Malang dan Surabaya yang selama ini rutin menduduki peringkat tiga besar. ‘’Tidak menyangka, awalnya ikut kompetisi ini untuk menjalankan tanggung jawab dari sekolah,’’ tutur dia.

Kebanggaan pendidik yang tinggal di Perumnas Tasikmadu ini cukup beralasan. Untuk mendapat predikat tersebut, dia harus melalui serangkaian tes dan perjalanan yang cukup panjang nan melelahkan. Yang dinilai tidak hanya dari kemampuan saat menjalani tes, namun juga pengalaman mengajar dan aktivitas sosial. Terlebih, sebelum ke provinsi, ada penilaian guru berprestasi tingkat kabupaten. ‘’Alhamdulillah saya peringkat satu di kabupaten, kemudian lanjut ke Jawa Timur,’’ tutur dia.

Baca Juga :  Ketua MKKS SMK Dukung Tryout CBT

Tahap pertama untuk mendapatkan predikat guru berprestasi dimulai dari pengumpulan portofolio. Biodata tersebut bertujuan untuk menilai rekam jejak pengalaman para pendidik. Untuk menyiapkan syarat administrasi tersebut, Dewi menuliskan latar belakang pendidikan, berbagai prestasi, dan inovasi pembelajarannya untuk dijilid. ‘’Total portofolio saya satu boks seberat lebih dari 10 kilogram (kg),’’ jelas ibu tiga anak ini.

Ada perjuangan ekstra untuk menjilid sepuluh kilogram kertas portofolio tersebut. Untuk membawa tumpukan kertas bertuliskan pengalaman hidupnya, Dewi harus membawanya dengan mobil. Termasuk saat akan menjilidnya. Satu hari sebelum mengumpulkan syarat administrasi tersebut, Dewi beserta Hadi Jupri sang suami hendak membawa portofolio ke penjilidan. Di depan penjilidan, city car yang dikemudikan suaminya ditabrak tronton dari belakang.

Dalam insiden tersebut, Dewi dan suami selamat, namun bodi belakang mobilnya ringsek. Saat peristiwa tersebut, pendidik lulusan pascasarjana Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini sempat down. Ketika dia tak bersemangat, sang suami terus memotivasinya. Begitu juga rekan-rekan kerjanya juga menyemangatinya agar terus melanjutnya kompetisinya.

Baca Juga :  Siswa SMA Sudah Terbiasa Tryout CBT

Tahap pertama seleksi tersebut dilaluinya dengan mulus. Pendidik fisika ini dinyatakan lulus administrasi dan melanjutkan ke tahap computer based test (CBT) untuk mengetahui kemampuan teknisnya dalam mengajar.

Tahap berikutnya, wanita yang juga waka bidang humas SMAN 1 Tuban ini menjalani psikotes. Terakhir, Dewi harus mempresentasikan portofolio yang dia tulis. Termasuk penjelasan pengalaman organisasi, keaktifan pelatihan, pengembangan inovasi pembelajaran, serta kegiatan sosial yang dilakukan. ‘’Alhamdulillah, seluruh tes pada Juli lalu berjalan lancar,’’ kenang dia.

Wanita kelahiran Banyuwangi ini mengatakan, banyak kriteria yang dinilai dalam kompetisi tahunan tersebut. Selain pengalaman pribadi, peserta seleksi juga dinilai dari tingkat kesuksesan dalam mendidik siswa. Dewi selama ini dikenal sebagai guru pembina ekstrakurikuler olimpiade siswa nasional (OSN). Sudah tak terhitung jumlah anak didiknya yang menjuarai OSN hingga level provinsi dan nasional. Nah, salah satu kriteria yang disyaratkan adalah memiliki anak didik juara nasional.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/