alexametrics
25.5 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Penjual Nasi Boran Perlu Ditata

KOTA – Tidak hanya trotoar Jalan Panglima Sudirman Lamongan yang digunakan berjualan nasi boran. Sebab, hampir sebagian besar penjual makanan khas Lamongan itu berjualan di atas trotoar. 

Mereka berjualan dengan duduk lesehan di berbagai jalan protokol di Kota Soto tersebut. Padahal, sesuai aturan, di atas trotoar dilarang dipakai untuk aktivitas apapun, kecuali untuk pejalan kaki.

Kepala Satpol PP Lamongan, Bambang Hadjar Purwono, mengaku kesulitan untuk melakukan penertiban terhadap penjual nasi boran. ‘’Sebenarnya bisa saja dijaga selama 24 jam. Tapi itu tidak bisa menyelesaikan masalahnya. Dan saat ini kami masih melakukan koordinasi dengan disperindag (dinas perdagangan dan perindustrian) untuk mencari langkah paling efektif,’’ katanya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Disperindag Lamongan, M. Zamroni, menyatakan, jumlah penjual nasi boran di Lamongan sekitar 230 orang. Mereka berjualan menyebar di berbagai sudut Kota Lamongan. Sistem berjualannya secara shif. Ada yang berjualan pagi. Kemudian siang, sore, dan malam hari. ‘’Memang banyak dari mereka yang berjualan di lokasi terlarang, seperti di atas trotoar. Sehingga harus ditata,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Berharap Stadion Surajaya Jadi Venue Liga 1

Menurut dia, konsep penertiban atau penataan yang dilakukan dengan melakukan pembinaan secara terus menerus, khususnya terkait kebersihan dan lokasi jualan pedagang. ‘’Saat ini kami fokus menata penjual nasi boranan di trotoar Jalan Panglima Sudirman. Nantinya juga pedagang nasi boranan lainnya di seluruh kota,’’ janjinya.

Menurut dia, ada beberapa kendala yang dihadapi pihaknya. Antara lain, para pedagang dan pembeli nasi boran belum paham faktor keselamatan dan kebersihan. Sehingga banyak penjual yang kukuh berjualan di trotoar. 

Selain itu, mereka merasa sudah memiliki banyak pelanggan. ‘’Padahal, awalnya dulu mereka juga belum banyak pembeli. Kemudian lama kelamaan banyak pelanggan karena sudah tahu lokasi jualannya. Begitu pula tempatnya yang disediakan di halaman Lamongan Plasa dan Ruko Permata. Saat ini memang masih sepi, tapi nantinya lama kelamaan pasti akan ramai juga,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Harus Diberi Efek Jera

Ketua Lembaga Pengembangan Sumberdaya Indonesia (LaPSI) Lamongan, Fatur Rohim Suhadi, berharap penertiban itu dilakukan sebijak dan setegas mungkin. Para penjual nasi boran harus bisa direlokasi dari trotoar – trotoar tersebut. Sebab berjualan di atas trotoar melanggar aturan dan akan ditiru pedagang -pedagang kaki lima lainnya. ‘’Bahkan saat penilaian Adipura mereka tidak boleh berjualan dulu karena memang melanggar,’’ ujarnya.

Namun, lanjut dia, penertiban itu jangan sampai mematikan hingga membuat mereka tidak bisa berjualan lagi. Sebab, mereka merupakan para pengusaha mandiri yang tidak ‘’ngrepoti’’ keuangan pemerintah.  ‘’Aturan harus ditegakkan, tapi para penjual nasi boranan tersebut tetap harus bisa berjualan. Bahkan kalau bisa malah bisa lebih berkembang,’’ ujarnya.

KOTA – Tidak hanya trotoar Jalan Panglima Sudirman Lamongan yang digunakan berjualan nasi boran. Sebab, hampir sebagian besar penjual makanan khas Lamongan itu berjualan di atas trotoar. 

Mereka berjualan dengan duduk lesehan di berbagai jalan protokol di Kota Soto tersebut. Padahal, sesuai aturan, di atas trotoar dilarang dipakai untuk aktivitas apapun, kecuali untuk pejalan kaki.

Kepala Satpol PP Lamongan, Bambang Hadjar Purwono, mengaku kesulitan untuk melakukan penertiban terhadap penjual nasi boran. ‘’Sebenarnya bisa saja dijaga selama 24 jam. Tapi itu tidak bisa menyelesaikan masalahnya. Dan saat ini kami masih melakukan koordinasi dengan disperindag (dinas perdagangan dan perindustrian) untuk mencari langkah paling efektif,’’ katanya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Disperindag Lamongan, M. Zamroni, menyatakan, jumlah penjual nasi boran di Lamongan sekitar 230 orang. Mereka berjualan menyebar di berbagai sudut Kota Lamongan. Sistem berjualannya secara shif. Ada yang berjualan pagi. Kemudian siang, sore, dan malam hari. ‘’Memang banyak dari mereka yang berjualan di lokasi terlarang, seperti di atas trotoar. Sehingga harus ditata,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Sudah Bayar, Kartu Belum Selesai

Menurut dia, konsep penertiban atau penataan yang dilakukan dengan melakukan pembinaan secara terus menerus, khususnya terkait kebersihan dan lokasi jualan pedagang. ‘’Saat ini kami fokus menata penjual nasi boranan di trotoar Jalan Panglima Sudirman. Nantinya juga pedagang nasi boranan lainnya di seluruh kota,’’ janjinya.

Menurut dia, ada beberapa kendala yang dihadapi pihaknya. Antara lain, para pedagang dan pembeli nasi boran belum paham faktor keselamatan dan kebersihan. Sehingga banyak penjual yang kukuh berjualan di trotoar. 

Selain itu, mereka merasa sudah memiliki banyak pelanggan. ‘’Padahal, awalnya dulu mereka juga belum banyak pembeli. Kemudian lama kelamaan banyak pelanggan karena sudah tahu lokasi jualannya. Begitu pula tempatnya yang disediakan di halaman Lamongan Plasa dan Ruko Permata. Saat ini memang masih sepi, tapi nantinya lama kelamaan pasti akan ramai juga,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Berburu Spot Foto

Ketua Lembaga Pengembangan Sumberdaya Indonesia (LaPSI) Lamongan, Fatur Rohim Suhadi, berharap penertiban itu dilakukan sebijak dan setegas mungkin. Para penjual nasi boran harus bisa direlokasi dari trotoar – trotoar tersebut. Sebab berjualan di atas trotoar melanggar aturan dan akan ditiru pedagang -pedagang kaki lima lainnya. ‘’Bahkan saat penilaian Adipura mereka tidak boleh berjualan dulu karena memang melanggar,’’ ujarnya.

Namun, lanjut dia, penertiban itu jangan sampai mematikan hingga membuat mereka tidak bisa berjualan lagi. Sebab, mereka merupakan para pengusaha mandiri yang tidak ‘’ngrepoti’’ keuangan pemerintah.  ‘’Aturan harus ditegakkan, tapi para penjual nasi boranan tersebut tetap harus bisa berjualan. Bahkan kalau bisa malah bisa lebih berkembang,’’ ujarnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/