alexametrics
30.4 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Biaya Retribusi Dikeluhkan Karena Lokasi Sepi 

BOJONEGORO – Penyewa kios Taman Rajekwesi keluhkan tingginya biaya retribusi kios. Sebab, harga pembayaran dinilai terlampau tinggi dan tidak seimbang dengan jumlah pengunjung. Bahkan, penyewa cenderung minus karena jualan tidak laku. 

’’Ingin ada keringanan, ini (retribusi) terlalu tinggi,” kata salah seorang penyewa kios yang enggan disebut namanya kemarin (22/8).

Dia mengatakan, pihak Dinas Perdagangan (Disdag) Bojonegoro memang sudah menginstruksikan bagi para penyewa kios untuk melakukan pembayaran retribusi terhitung tanggal 13 Juni sampai 31 Desember mendatang, sesuai harga telah disepakati sebelumnya. Yakni, Rp 4,5 juta untuk ukuran 9 meter dan Rp 6 Juta untuk ukuran 12 meter. Padahal, kata dia, lokasi berjualan sangat sepi dan jarang bisa laku. ’’Sudah dua bulan coba berjualan tapi masih sepi, bahkan sering minus,” kata dia. 

Baca Juga :  Sinkronisasi Soal UNBK Dimulai Hari Sabtu

Dengan membayar biaya retribusi sebesar harga tersebut untuk waktu 13 Juni hingga 31 Desember (202 hari), menurut dia, masih berat. Karena itu, dia berharap ada keringanan dari pihak disdag berupa masa free (bebas retribusi) selama tiga atau empat bulan. Alasanya, agar minus akibat berjualan bisa ditekan. 

Terpisah, Kabid Promosi dan Kerjasama Dinas Perdagangan Bojonegoro Luhri Budirianto mengatakan, pihaknya barusaja melaksanakan penandatanganan sewa-menyewa sekaligus pembayaran retribusi untuk masing-masing kios. Bahkan, para pedagang dinilai kooperatif. Hanya, kata dia, sampai sejauh ini memang kendala utama adalah sepinya pengunjung. 

’’Yang banyak dirasakan pedagang, memang lokasi tersebut masih sangat sepi,” kata Luhri 

Dia menambahkan, sampai saat ini, pihaknya sedang merencanakan inovasi agar kawasan tersebut mulai didatangi pengunjung. Mengingat, meski sudah dibuka lebih dari dua bulan, pengunjung masih sepi. Saat ini, memang ada sejumlah event organizer (EO) mulai melakukan penjajakan untuk mengadakan acara agar meramaikan kawasan tersebut. ’’Masih dalam penjajakan untuk melakukan kerja sama,” pungkas dia.

Baca Juga :  Kebijakan Mandatori B30 Terbukti Untungkan Petani Sawit

BOJONEGORO – Penyewa kios Taman Rajekwesi keluhkan tingginya biaya retribusi kios. Sebab, harga pembayaran dinilai terlampau tinggi dan tidak seimbang dengan jumlah pengunjung. Bahkan, penyewa cenderung minus karena jualan tidak laku. 

’’Ingin ada keringanan, ini (retribusi) terlalu tinggi,” kata salah seorang penyewa kios yang enggan disebut namanya kemarin (22/8).

Dia mengatakan, pihak Dinas Perdagangan (Disdag) Bojonegoro memang sudah menginstruksikan bagi para penyewa kios untuk melakukan pembayaran retribusi terhitung tanggal 13 Juni sampai 31 Desember mendatang, sesuai harga telah disepakati sebelumnya. Yakni, Rp 4,5 juta untuk ukuran 9 meter dan Rp 6 Juta untuk ukuran 12 meter. Padahal, kata dia, lokasi berjualan sangat sepi dan jarang bisa laku. ’’Sudah dua bulan coba berjualan tapi masih sepi, bahkan sering minus,” kata dia. 

Baca Juga :  Diduga Salah Konsep, Kios Kuliner Rajekwesi Tutup

Dengan membayar biaya retribusi sebesar harga tersebut untuk waktu 13 Juni hingga 31 Desember (202 hari), menurut dia, masih berat. Karena itu, dia berharap ada keringanan dari pihak disdag berupa masa free (bebas retribusi) selama tiga atau empat bulan. Alasanya, agar minus akibat berjualan bisa ditekan. 

Terpisah, Kabid Promosi dan Kerjasama Dinas Perdagangan Bojonegoro Luhri Budirianto mengatakan, pihaknya barusaja melaksanakan penandatanganan sewa-menyewa sekaligus pembayaran retribusi untuk masing-masing kios. Bahkan, para pedagang dinilai kooperatif. Hanya, kata dia, sampai sejauh ini memang kendala utama adalah sepinya pengunjung. 

’’Yang banyak dirasakan pedagang, memang lokasi tersebut masih sangat sepi,” kata Luhri 

Dia menambahkan, sampai saat ini, pihaknya sedang merencanakan inovasi agar kawasan tersebut mulai didatangi pengunjung. Mengingat, meski sudah dibuka lebih dari dua bulan, pengunjung masih sepi. Saat ini, memang ada sejumlah event organizer (EO) mulai melakukan penjajakan untuk mengadakan acara agar meramaikan kawasan tersebut. ’’Masih dalam penjajakan untuk melakukan kerja sama,” pungkas dia.

Baca Juga :  DPRD Kaget, Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tembus Rp 2,3 Triliun

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/