alexametrics
27.6 C
Bojonegoro
Tuesday, May 24, 2022

Bayi Delapan Bulan Ikut Ibunya Ditahan

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Siti Marfuah terpaksa mendekam di tahanan mengajak bayinya yang masih berusia delapan bulan. Bayinya diajak menginap di tahanan lembaga pemasyarakatan (lapas). 

Sikap nekat ini terpaksa dilakukan terdakwa dugaan suap proyek Kantor Kecamatan Sukosewu 2017,  karena tak tega bayi laki-lakinya dibawa pulang. Justru ia lebih nyaman apabila bayinya ikut dengannya meskipun sedang berada di dalam rumah tahanan. 

Alasan utamanya karena usia bayinya masih delapan bulan. Sehingga butuh air susu ibu (ASI) eksklusif. Marfuah sebagai kontraktor proyek ditahan sejak Kamis (18/7) atas perintah Mahkamah Agung (MA). Kasusnya belum inkracht (berkekuatan hukum tetap) dan masih upaya kasasi. 

Baca Juga :  Desak Penanaman Pohon Kawasan Hutan Untuk Pencegahan Bandang

Melihat bayinya masih mungil, Fajar Yulianto, penasihat hukumnya akan mengupayakan untuk mengubah status tahanan kliennya menjadi tahanan kota.

“Melihat kondisi ibu dan bayi di dalam lapas tentu kurang pas, kami akan memohon dan bersurat kepada MA agar mengembalikan status penahanan jadi tahanan kota,” tutur penasihat hukum asal Gresik itu.

Fajar mengaku baru berkesempatan menjenguk kliennya di lapas kemarin (22/7). Ia mengatakan kondisi klien dan bayinya sehat. Pun kondisi lapas yang dihuni oleh kliennya juga sudah layak. Selain menjenguk kliennya, pihaknya juga mengunjungi Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Bojonegoro untuk klarifikasi terkait penahanan kliennya. 

“Ternyata kejaksaan memang benar melaksanakan penetapan hakim MA atas perubahan status jenis penahanan, yang mana sebelumnya statusnya tahanan kota. Lalu diubah jadi tahanan rutan selama dua bulan,” terangnya.

Baca Juga :  Angka Pelajar Langgar Lalu Lintas Masih Tinggi

Saat ini, Siti Marfuah masih menempuh upaya hukum kasasi ke MA karena keberatan atas vonis dari Pengadilan Negeri (PN) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya, yakni pidana penjara 2 tahun. Pun upaya banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya juga ditolak, perempuan yang berprofesi sebagai kontraktor itu tetap divonis penjara dua tahun.

Sementara itu, Kepala Lapas Bojonegoro Bambang Harianto membenarkan, bahwa Siti Marfuah bersama bayinya di dalam tahanan. Ia menerangkan bahwa itu hak yang bersangkutan. Tetapi, bayi boleh dibawa di dalam tahanan hingga usia 2 tahun. 

“Terdakwa ditempatkan bersama dengan sesama tahanan wanita,” pungkasnya.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Siti Marfuah terpaksa mendekam di tahanan mengajak bayinya yang masih berusia delapan bulan. Bayinya diajak menginap di tahanan lembaga pemasyarakatan (lapas). 

Sikap nekat ini terpaksa dilakukan terdakwa dugaan suap proyek Kantor Kecamatan Sukosewu 2017,  karena tak tega bayi laki-lakinya dibawa pulang. Justru ia lebih nyaman apabila bayinya ikut dengannya meskipun sedang berada di dalam rumah tahanan. 

Alasan utamanya karena usia bayinya masih delapan bulan. Sehingga butuh air susu ibu (ASI) eksklusif. Marfuah sebagai kontraktor proyek ditahan sejak Kamis (18/7) atas perintah Mahkamah Agung (MA). Kasusnya belum inkracht (berkekuatan hukum tetap) dan masih upaya kasasi. 

Baca Juga :  Kasus Kades : Polisi Bidik ‘Bandar’ Besar

Melihat bayinya masih mungil, Fajar Yulianto, penasihat hukumnya akan mengupayakan untuk mengubah status tahanan kliennya menjadi tahanan kota.

“Melihat kondisi ibu dan bayi di dalam lapas tentu kurang pas, kami akan memohon dan bersurat kepada MA agar mengembalikan status penahanan jadi tahanan kota,” tutur penasihat hukum asal Gresik itu.

Fajar mengaku baru berkesempatan menjenguk kliennya di lapas kemarin (22/7). Ia mengatakan kondisi klien dan bayinya sehat. Pun kondisi lapas yang dihuni oleh kliennya juga sudah layak. Selain menjenguk kliennya, pihaknya juga mengunjungi Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Bojonegoro untuk klarifikasi terkait penahanan kliennya. 

“Ternyata kejaksaan memang benar melaksanakan penetapan hakim MA atas perubahan status jenis penahanan, yang mana sebelumnya statusnya tahanan kota. Lalu diubah jadi tahanan rutan selama dua bulan,” terangnya.

Baca Juga :  Desak Penanaman Pohon Kawasan Hutan Untuk Pencegahan Bandang

Saat ini, Siti Marfuah masih menempuh upaya hukum kasasi ke MA karena keberatan atas vonis dari Pengadilan Negeri (PN) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya, yakni pidana penjara 2 tahun. Pun upaya banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya juga ditolak, perempuan yang berprofesi sebagai kontraktor itu tetap divonis penjara dua tahun.

Sementara itu, Kepala Lapas Bojonegoro Bambang Harianto membenarkan, bahwa Siti Marfuah bersama bayinya di dalam tahanan. Ia menerangkan bahwa itu hak yang bersangkutan. Tetapi, bayi boleh dibawa di dalam tahanan hingga usia 2 tahun. 

“Terdakwa ditempatkan bersama dengan sesama tahanan wanita,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/