alexametrics
29.2 C
Bojonegoro
Monday, June 27, 2022

Ternak Ayam Petelur Prospektif

BOJONEGORO – Konsumsi komoditas telur di Bojonegoro cukup tinggi. Namun, tidak diimbangi dengan produksi telur. Sehingga, peluang menjadi peternak ayam petelur sangat prospektif. Karena selama ini, pasokan telur masih didatangkan dari luar daerah seperti Blitar dan Nganjuk.

Tak berimbangnya konsumsi dan produksi memicu harga telur rentan naik. Kasi Ketersediaan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Bojonegoro Revi Puspitasari mengatakan, pada 2018 ini kebutuhan telur tiap bulan sekitar 967 ton. Dari proyeksi yang disusun, jumlah konsumsi tahun ini mencapai 9.217 ton, namun ketersediannya hanya 913 ton. “Kita kekurangan pasokan telur sebanyak 8.304 ton,” jelasnya.

Hal tersebut tentu menjadi atensi Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro. Sehingga, setiap ada pertemuan dengan para peternak kerap diberikan motivasi untuk mebudidayakan ayam petelur. Alasan utama para peternak enggan budidaya ayam petelur karena suhu dan kelembapan kandang harus benar-benar terjaga. “Ayam petelur suhunya sekitar 28 derajat celcius, salah satu solusinya tentu dibuatkan kandang di tempat yang teduh, karena suhu Bojonegoro bisa mencapai 30 derajat lebih,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Budidaya dan Pengembangan Ternak Elvia Nuraini.

Baca Juga :  Dibesarkan dari Keluarga Petani, Gadis ini Kepincut Pertanian

Perempuan yang akrab disapa Elvi ternyata telah terjun secara langsung membudidayakan ayam petelur di rumah bersama suaminya. Sehingga, dia pun bisa berbagi pengalaman kepada para peternak, jadi tak sekadar teori saja. Dia membeli bibit ayam petelur di wilayah Blitar seharga Rp 40 ribuan per ekornya. Lalu membuat kandang sederhana di rumah. “Awal tahun 2018, saya dan suami beli 100 ekor ayam petelur dan bangun kandang, perkiraan modal awal sekitar Rp 10 juta,” jelasnya.

Kemudian hasil panennya diproyeksi 2.000 butir per bulan. Harga jualnya per butir sekitar Rp 1.000, jadi per bulan bisa meraup omzet Rp 2 juta. “Hitungan itu kalau semuanya berhasil bertelur 20 butir per ekor per bulan,” tuturnya. Dia pun menambahkan bahwa diperkirakan kurang dari satu tahun sudah bisa balik modal. Tetapi, jangan sampai lupa lakukan vaksinasi. “Kemudian ayam petelur ketika sudah berusia 72 hingga 80 minggu sudah afkir atau sudah tidak bisa produksi lagi, ayamnya bisa dipotong untuk dijual atau dikonsumsi sendiri,” pungkasnya.

Baca Juga :  Satu Desa Satu Bank Sampah

BOJONEGORO – Konsumsi komoditas telur di Bojonegoro cukup tinggi. Namun, tidak diimbangi dengan produksi telur. Sehingga, peluang menjadi peternak ayam petelur sangat prospektif. Karena selama ini, pasokan telur masih didatangkan dari luar daerah seperti Blitar dan Nganjuk.

Tak berimbangnya konsumsi dan produksi memicu harga telur rentan naik. Kasi Ketersediaan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Bojonegoro Revi Puspitasari mengatakan, pada 2018 ini kebutuhan telur tiap bulan sekitar 967 ton. Dari proyeksi yang disusun, jumlah konsumsi tahun ini mencapai 9.217 ton, namun ketersediannya hanya 913 ton. “Kita kekurangan pasokan telur sebanyak 8.304 ton,” jelasnya.

Hal tersebut tentu menjadi atensi Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro. Sehingga, setiap ada pertemuan dengan para peternak kerap diberikan motivasi untuk mebudidayakan ayam petelur. Alasan utama para peternak enggan budidaya ayam petelur karena suhu dan kelembapan kandang harus benar-benar terjaga. “Ayam petelur suhunya sekitar 28 derajat celcius, salah satu solusinya tentu dibuatkan kandang di tempat yang teduh, karena suhu Bojonegoro bisa mencapai 30 derajat lebih,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Budidaya dan Pengembangan Ternak Elvia Nuraini.

Baca Juga :  Terimbas Kedelai Mahal, Minimarket Harus Bantu Penjualan Tempe

Perempuan yang akrab disapa Elvi ternyata telah terjun secara langsung membudidayakan ayam petelur di rumah bersama suaminya. Sehingga, dia pun bisa berbagi pengalaman kepada para peternak, jadi tak sekadar teori saja. Dia membeli bibit ayam petelur di wilayah Blitar seharga Rp 40 ribuan per ekornya. Lalu membuat kandang sederhana di rumah. “Awal tahun 2018, saya dan suami beli 100 ekor ayam petelur dan bangun kandang, perkiraan modal awal sekitar Rp 10 juta,” jelasnya.

Kemudian hasil panennya diproyeksi 2.000 butir per bulan. Harga jualnya per butir sekitar Rp 1.000, jadi per bulan bisa meraup omzet Rp 2 juta. “Hitungan itu kalau semuanya berhasil bertelur 20 butir per ekor per bulan,” tuturnya. Dia pun menambahkan bahwa diperkirakan kurang dari satu tahun sudah bisa balik modal. Tetapi, jangan sampai lupa lakukan vaksinasi. “Kemudian ayam petelur ketika sudah berusia 72 hingga 80 minggu sudah afkir atau sudah tidak bisa produksi lagi, ayamnya bisa dipotong untuk dijual atau dikonsumsi sendiri,” pungkasnya.

Baca Juga :  Ngopi Sambil Ajari Pelajar Bertani, Bikin Pupuk Organik

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/