alexametrics
26 C
Bojonegoro
Saturday, May 21, 2022

Kelelahan Ekstrem Picu Kematian KPPS

DUKA menyelimuti penyelenggaraan pesta demokrasi tahun ini. Betapa tidak, banyak anggota kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) dan petugas jaga yang bekerja ekstra mengalami kelelahan. Tidak sedikit dari mereka mengalami sakit dan meninggal.

Dalam siaran persnya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mencatat hingga kemarin 54 petugas KPPS se-Indonesia meninggal. Sementara 32 lainnya tergeletak sakit dan masih dirawat di rumah sakit.

Di Tuban, kabar duka itu menyelimuti keluarga Edi Supandi, 48, petugas KPPS 24 Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding yang meninggal setelah merekap surat suara pada Minggu (21/4) sore.

Bagaimana dunia kesehatan menilai bahaya dampak bekerja ekstra? Dokter Didik Suharsoyo menjelaskan, waktu optimal untuk bekerja manusia wajarnya maksimal delapan jam per hari.

Baca Juga :  Beda Nasib Dua Eks Caleg Gagal

Jika dituntut lebih maksimal, tubuh manusia wajarnya bisa menerima penambahan empat jam kerja per hari. Lebih dari itu, hampir dipastikan pekerjaan kurang maksimal karena minim konsentrasi.

Apalagi jika orang tersebut mempunyai riwayat penyakit berat. Tentu, akan sangat berbahaya bagi kesehatan. Ditambah tubuh lelah dan pikiran mulai kacau karena stres. Jika diakumulasi, petugas KPPS bekerja sekitar 20-24 jam selama pemungutan suara hingga proses penghitungan. Jam istirahat pun sangat minim. ‘’Kelelahan ekstrem ini bisa menyebabkan kematian bagi orang yang punya riwayat penyakit jantung dan diabetes melitus,’’ tutur dokter Didik.

Direktur Utama Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) Tuban ini menerangkan, yang membuat kondisi tubuh semakin buruk adalah kafein yang terkandung dalam kopi. Sebab, detak jantung semakin kuat.

Baca Juga :  Perahu Penyeberangan Jembatan Bojonegoro Blora Akan Dikonsep Wisata

Ditambah pikiran harus tetap fokus dalam pekerjaan. Bagi orang berusia paro baya, aktivitas tersebut sangat berbahaya bagi kesehatan. ‘’Pekerjaan secapek itu tidak dianjurkan untuk orang tua yang kondisi tubuhnya kurang fit,’’ ujar Didik.

Dokter lulusan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta ini mengatakan, petugas KPPS yang meninggal diduga karena kelelahan memang fenomena baru di Indonesia. Sebab, pemilu serentak baru digelar tahun ini. Sehingga, banyak yang tidak menduga pekerjaan mereka sangat berat. Berbeda dengan pemilu sebelumnya yang hanya menggelar pilpres atau pileg saja. ‘’Banyak orang yang tidak mengira kalau pekerjaan mereka pada pemilu serentak kali ini sangat melelahkan hingga berhari-hari,’’ tutur Didik merefleksi pemilu serentak tersebut.

DUKA menyelimuti penyelenggaraan pesta demokrasi tahun ini. Betapa tidak, banyak anggota kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) dan petugas jaga yang bekerja ekstra mengalami kelelahan. Tidak sedikit dari mereka mengalami sakit dan meninggal.

Dalam siaran persnya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mencatat hingga kemarin 54 petugas KPPS se-Indonesia meninggal. Sementara 32 lainnya tergeletak sakit dan masih dirawat di rumah sakit.

Di Tuban, kabar duka itu menyelimuti keluarga Edi Supandi, 48, petugas KPPS 24 Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding yang meninggal setelah merekap surat suara pada Minggu (21/4) sore.

Bagaimana dunia kesehatan menilai bahaya dampak bekerja ekstra? Dokter Didik Suharsoyo menjelaskan, waktu optimal untuk bekerja manusia wajarnya maksimal delapan jam per hari.

Baca Juga :  Dua Kali Melamar OB Ditolak

Jika dituntut lebih maksimal, tubuh manusia wajarnya bisa menerima penambahan empat jam kerja per hari. Lebih dari itu, hampir dipastikan pekerjaan kurang maksimal karena minim konsentrasi.

Apalagi jika orang tersebut mempunyai riwayat penyakit berat. Tentu, akan sangat berbahaya bagi kesehatan. Ditambah tubuh lelah dan pikiran mulai kacau karena stres. Jika diakumulasi, petugas KPPS bekerja sekitar 20-24 jam selama pemungutan suara hingga proses penghitungan. Jam istirahat pun sangat minim. ‘’Kelelahan ekstrem ini bisa menyebabkan kematian bagi orang yang punya riwayat penyakit jantung dan diabetes melitus,’’ tutur dokter Didik.

Direktur Utama Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) Tuban ini menerangkan, yang membuat kondisi tubuh semakin buruk adalah kafein yang terkandung dalam kopi. Sebab, detak jantung semakin kuat.

Baca Juga :  Beda Nasib Dua Eks Caleg Gagal

Ditambah pikiran harus tetap fokus dalam pekerjaan. Bagi orang berusia paro baya, aktivitas tersebut sangat berbahaya bagi kesehatan. ‘’Pekerjaan secapek itu tidak dianjurkan untuk orang tua yang kondisi tubuhnya kurang fit,’’ ujar Didik.

Dokter lulusan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta ini mengatakan, petugas KPPS yang meninggal diduga karena kelelahan memang fenomena baru di Indonesia. Sebab, pemilu serentak baru digelar tahun ini. Sehingga, banyak yang tidak menduga pekerjaan mereka sangat berat. Berbeda dengan pemilu sebelumnya yang hanya menggelar pilpres atau pileg saja. ‘’Banyak orang yang tidak mengira kalau pekerjaan mereka pada pemilu serentak kali ini sangat melelahkan hingga berhari-hari,’’ tutur Didik merefleksi pemilu serentak tersebut.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/