alexametrics
29.7 C
Bojonegoro
Friday, August 12, 2022

Dishub Pemprov Surati Presiden RI, Perihal Jalan Alternatif

LAMONGAN – Sejak Jembatan Cincim Lama Lamongan – Tuban rusak, arus dialihkan ke jalur pantura Lamongan. Volume kendaraan yang tak terkontrol menimbulkan banyak permasalahan. Salah satunya meningkatnya kasus kecelakaan lalu lintas (lalin) di pantura Lamongan. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim mulai merespons hal itu, dengan melayangkan surat pada Presiden Republik Indonesia (RI). Surat nomor 630/1892/113.2.1/2018 itu berisi tentang tindak lanjut penanganan putusnya Jembatan Cincim Lama. 

“Usulan kita. Karena yang punya jalan dan kebijakan di jalan nasional itu adalah Kemenhub. Maka yang bisa memutuskan dan memberlakukan mereka (Kemenhub),” tutur Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim Wahid Wahyudi kepada Jawa Pos Radar Lamongan Minggu (22/4).

Ada tujuh poin dalam surat tersebut. Yakni, dampak peningkatan kepadatan kendaraan dan kemacetan di Jalan Deandels (Tuban-Brondong-Paciran-Gresik). Selain itu, kendaraan besar melintasi tiga jembatan. Di antaranya Jembatan Sedayulawas-Brondong, Jembatan Blimbing-Paciran, dan Jembatan Sembayat-Gresik. 

“Jembatan Sembayat, Jembatan Sedayulawas, dan Jembatan Blimbing harus dicek oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) kekuatannya,” ujar Wahid saat dikonfirmasi via ponsel. Dia menjelaskan, terjadinya kepadatan dan kemacetan yang luar biasa, karena jalur pantura itu lebarnya hanya 7 meter untuk dua arah. Sehingga kendaraan besar yang berpapasan harus pelan-pelan. 

Baca Juga :  Misa Paskah, Berlanjut Jumat Agung di Bojonegoro

“Itu yang menyebabkan kemacetan utama. Yang kedua, hambatan samping yang beberapa pasar dan banyak akses jalan ke kampung,” katanya. Sebab, diakuinya, kondisi tiga jembatan itu perlu dilihat kembali. Contohnya Jembatan Sembayat yang sekarang dibangun di sampingnya. Otomatis karena jembatan yang eksis sekarang, merupakan jembatan yang kondisinya sudah waktunya diganti. 

“Sehingga perlu dicek betul-betul kekuatan saat ini. Jangan sampai nanti terjadi peristiwa kedua, ketiga, dan keempat seperti di Jembatan Cincim Lama,” ungkap Wahid. Poin ketiga, yakni di wilayah Kecamatan Paciran terdapat tanjakan terjal arah Gresik – Paciran – Tuban. Imbasnya truk yang diduga tak kuat menanjak, sehingga mundur dan melindas motor yang berada di belakangnya. Hal itu menyebabkan korban meninggal dunia. 

Wahid menjelaskan, paling membahayakan yakni masyarakat belum terbiasa dengan lalin padat. Sehingga masyarakatnya kurang waspada ketika berkendara. Hal itu menjadi pemicu terjadinya kecelakaan paling utama. 

“Oleh sebab itu gubernur mengusulkan pengaturan seperti surat itu,” katanya. Poin keempat merupakan solusi diusulkan dengan yang berisi tiga poin. Di antaranya arus lalin kendaraan berat diarahkan melalui ruas jalan nasional Tuban-Paciran-Gresik-Surabaya (Jalan Deandels). 

Serta arus lalin kendaraat berat dari Surabaya-Tuban-Jakarta diarahkan melalui ruas jalan nasional Surabaya – Gresik – Lamongan melalui Jembatan Cincim Baru. Selain itu, arus lalin kendaraan sedang/ kecil melewati Jembatan Cincim Baru dua arah. Atau melewati Jalan Deandels. 

Baca Juga :  Menko Airlangga Apresiasi Dukungan OJK & Perbankan

“Besok (hari ini) Dishub Provinsi Jatim mengadakan rapat terkait surat Gubernur Jatim itu agar segera dilakukan di lapangan,” ujar Wahid. Poin kelima imbauan untuk dilakukan percepatan coastal shipping, sehingga meringankan beban angkutan jalan di lintas pantura. Antara lain Pelabuhan Tanjung Perak, Pelabuhan Paciran, Pelabuhan Kendal-Jateng, dan Pelabuhan Tanjung Priok-Jakarta. 

“Jadi Kemenhub punya program coastal shipping. Yaitu, menggunakan kapal role on-role of (Roro),” terangnya.  

Wahid mengatakan, kapal Roro sistemnya yakni truk bisa masuk ke dalam kapal saat akan menyebarang. Rencananya dioperasikan di Pelabuhan Paciran atau Tanjung Perak. Sehingga truk yang hendak ke Jateng, ke Tanjung Priok supaya tidak terlalu memadati pantura. 

“Sehingga diusulkan truk itu masuk ke kapal. Nah, kapal itulah nanti yang akan jalan,” katanya. 

Poin selanjutnya, yakni imbauan untuk pemasangan jembatan bailey. Sebab, Jembatan Cincim Lamongan – Tuban menjadi jalur utama logistik Surabaya – Jakarta. Hal itu guna menyongsong angkutan Lebaran nanti. Terakhir desakan adanya peningkatan kelas jalan di sejumlah jalur.

LAMONGAN – Sejak Jembatan Cincim Lama Lamongan – Tuban rusak, arus dialihkan ke jalur pantura Lamongan. Volume kendaraan yang tak terkontrol menimbulkan banyak permasalahan. Salah satunya meningkatnya kasus kecelakaan lalu lintas (lalin) di pantura Lamongan. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim mulai merespons hal itu, dengan melayangkan surat pada Presiden Republik Indonesia (RI). Surat nomor 630/1892/113.2.1/2018 itu berisi tentang tindak lanjut penanganan putusnya Jembatan Cincim Lama. 

“Usulan kita. Karena yang punya jalan dan kebijakan di jalan nasional itu adalah Kemenhub. Maka yang bisa memutuskan dan memberlakukan mereka (Kemenhub),” tutur Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim Wahid Wahyudi kepada Jawa Pos Radar Lamongan Minggu (22/4).

Ada tujuh poin dalam surat tersebut. Yakni, dampak peningkatan kepadatan kendaraan dan kemacetan di Jalan Deandels (Tuban-Brondong-Paciran-Gresik). Selain itu, kendaraan besar melintasi tiga jembatan. Di antaranya Jembatan Sedayulawas-Brondong, Jembatan Blimbing-Paciran, dan Jembatan Sembayat-Gresik. 

“Jembatan Sembayat, Jembatan Sedayulawas, dan Jembatan Blimbing harus dicek oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) kekuatannya,” ujar Wahid saat dikonfirmasi via ponsel. Dia menjelaskan, terjadinya kepadatan dan kemacetan yang luar biasa, karena jalur pantura itu lebarnya hanya 7 meter untuk dua arah. Sehingga kendaraan besar yang berpapasan harus pelan-pelan. 

Baca Juga :  Sensasi Salat di Tempat Imam

“Itu yang menyebabkan kemacetan utama. Yang kedua, hambatan samping yang beberapa pasar dan banyak akses jalan ke kampung,” katanya. Sebab, diakuinya, kondisi tiga jembatan itu perlu dilihat kembali. Contohnya Jembatan Sembayat yang sekarang dibangun di sampingnya. Otomatis karena jembatan yang eksis sekarang, merupakan jembatan yang kondisinya sudah waktunya diganti. 

“Sehingga perlu dicek betul-betul kekuatan saat ini. Jangan sampai nanti terjadi peristiwa kedua, ketiga, dan keempat seperti di Jembatan Cincim Lama,” ungkap Wahid. Poin ketiga, yakni di wilayah Kecamatan Paciran terdapat tanjakan terjal arah Gresik – Paciran – Tuban. Imbasnya truk yang diduga tak kuat menanjak, sehingga mundur dan melindas motor yang berada di belakangnya. Hal itu menyebabkan korban meninggal dunia. 

Wahid menjelaskan, paling membahayakan yakni masyarakat belum terbiasa dengan lalin padat. Sehingga masyarakatnya kurang waspada ketika berkendara. Hal itu menjadi pemicu terjadinya kecelakaan paling utama. 

“Oleh sebab itu gubernur mengusulkan pengaturan seperti surat itu,” katanya. Poin keempat merupakan solusi diusulkan dengan yang berisi tiga poin. Di antaranya arus lalin kendaraan berat diarahkan melalui ruas jalan nasional Tuban-Paciran-Gresik-Surabaya (Jalan Deandels). 

Serta arus lalin kendaraat berat dari Surabaya-Tuban-Jakarta diarahkan melalui ruas jalan nasional Surabaya – Gresik – Lamongan melalui Jembatan Cincim Baru. Selain itu, arus lalin kendaraan sedang/ kecil melewati Jembatan Cincim Baru dua arah. Atau melewati Jalan Deandels. 

Baca Juga :  SMAN 1 Kasiman Unggul di Olahraga Volley dan Optimalkan Double Track

“Besok (hari ini) Dishub Provinsi Jatim mengadakan rapat terkait surat Gubernur Jatim itu agar segera dilakukan di lapangan,” ujar Wahid. Poin kelima imbauan untuk dilakukan percepatan coastal shipping, sehingga meringankan beban angkutan jalan di lintas pantura. Antara lain Pelabuhan Tanjung Perak, Pelabuhan Paciran, Pelabuhan Kendal-Jateng, dan Pelabuhan Tanjung Priok-Jakarta. 

“Jadi Kemenhub punya program coastal shipping. Yaitu, menggunakan kapal role on-role of (Roro),” terangnya.  

Wahid mengatakan, kapal Roro sistemnya yakni truk bisa masuk ke dalam kapal saat akan menyebarang. Rencananya dioperasikan di Pelabuhan Paciran atau Tanjung Perak. Sehingga truk yang hendak ke Jateng, ke Tanjung Priok supaya tidak terlalu memadati pantura. 

“Sehingga diusulkan truk itu masuk ke kapal. Nah, kapal itulah nanti yang akan jalan,” katanya. 

Poin selanjutnya, yakni imbauan untuk pemasangan jembatan bailey. Sebab, Jembatan Cincim Lamongan – Tuban menjadi jalur utama logistik Surabaya – Jakarta. Hal itu guna menyongsong angkutan Lebaran nanti. Terakhir desakan adanya peningkatan kelas jalan di sejumlah jalur.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/