alexametrics
27.6 C
Bojonegoro
Tuesday, May 24, 2022

ODGJ Bertambah, RSJ Semakin Mendesak

KOTA – Meski sudah berstatus daerah bebas pasung, namun Lamongan belum bisa lepas dari orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat, jumlah pasien jiwa di Kota Soto tersebut mencapai 2.971 orang. Kenaikan terjadi setiap tiga bulan.

‘’Jumlah pasien yang telah tertangani sebanyak 2.671 orang,’’ kata Kepala Dinkes Lamongan, Taufik Hidayat kamis (22/3). Menurut dia, upaya menemukan ODGJ terus dilakukan. Bahkan pihaknya sudah membentuk kader desa untuk pendamping jiwa. Namun kendalanya pada fasilitas yang ada.

Pengobatan ODGJ bisa dilakukan petugas puskesmas terlatih. Namun untuk perawatan intensif/rawat inap belum bisa dilakukan. “Karena kita belum punya rumah sakit jiwa (RSJ) atau puskesmas rujukan,” ungkapnya. Dia mengungkapkan, untuk pengobatan ODGJ, petugas sudah responsif. Bahkan mereka bersedia mendatangi rumah pasien.

Baca Juga :  Pilkada Kuras Dana Besar ABPD

Namun untuk rawat inap belum ada. Sehingga masih terkendala sarana prasarana (sarpras) dan masih bergantung ke daerah lain. Menurut dia, pelayanan pengobatan dan pemeriksaan ODGJ bisa dilakukan di Puskesmas. Sejumlah petugas sudah dilatih untuk memberikan pelayanan pemeriksaan, bahkan sudah disiapkan dokter ahli kejiwaan.

“Tapi belum semua puskesmas dilengkapi dokter kejiwaan,” tegasnya. Dia menambahkan, Pemkab Lamongan telah membangun RSJ tipe C di Babat, tapi bersifat multiyears mulai 2017 hingga 2019. Sehingga akan rampung tahun depan. ‘’Pembangunan RSJ ini memang cukup mendesak. Karena jumlah ODGJ siklusnya terus bertambah dan sebarannya cukup merata,’’ pungkasnya.

KOTA – Meski sudah berstatus daerah bebas pasung, namun Lamongan belum bisa lepas dari orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat, jumlah pasien jiwa di Kota Soto tersebut mencapai 2.971 orang. Kenaikan terjadi setiap tiga bulan.

‘’Jumlah pasien yang telah tertangani sebanyak 2.671 orang,’’ kata Kepala Dinkes Lamongan, Taufik Hidayat kamis (22/3). Menurut dia, upaya menemukan ODGJ terus dilakukan. Bahkan pihaknya sudah membentuk kader desa untuk pendamping jiwa. Namun kendalanya pada fasilitas yang ada.

Pengobatan ODGJ bisa dilakukan petugas puskesmas terlatih. Namun untuk perawatan intensif/rawat inap belum bisa dilakukan. “Karena kita belum punya rumah sakit jiwa (RSJ) atau puskesmas rujukan,” ungkapnya. Dia mengungkapkan, untuk pengobatan ODGJ, petugas sudah responsif. Bahkan mereka bersedia mendatangi rumah pasien.

Baca Juga :  Pilkada Kuras Dana Besar ABPD

Namun untuk rawat inap belum ada. Sehingga masih terkendala sarana prasarana (sarpras) dan masih bergantung ke daerah lain. Menurut dia, pelayanan pengobatan dan pemeriksaan ODGJ bisa dilakukan di Puskesmas. Sejumlah petugas sudah dilatih untuk memberikan pelayanan pemeriksaan, bahkan sudah disiapkan dokter ahli kejiwaan.

“Tapi belum semua puskesmas dilengkapi dokter kejiwaan,” tegasnya. Dia menambahkan, Pemkab Lamongan telah membangun RSJ tipe C di Babat, tapi bersifat multiyears mulai 2017 hingga 2019. Sehingga akan rampung tahun depan. ‘’Pembangunan RSJ ini memang cukup mendesak. Karena jumlah ODGJ siklusnya terus bertambah dan sebarannya cukup merata,’’ pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/