alexametrics
30.3 C
Bojonegoro
Wednesday, May 18, 2022

Angga Bagus Susilo, Seniman Muda Asal Gayam

FEATURES – Hasrat berkesenian memang sudah tumbuh sejak Angga Bagus Susilo duduk di bangku SD. Proses berkarya hingga menjadi ladang mengais rezeki. Dia pun aktif mengembangkan kreativitas di desanya.Tak sulit membuat janji bertemu dengan seorang pemuda asal Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, yang dikenal piawai dalam dunia seni menggambar sketsa wajah. Karena pemuda tersebut bukan seorang karyawan, dia memilih menjadi pekerja lepas.

Dia memiliki bakat di bidang seni menggambar, jadi dari bakatnya tersebut, dia bisa mengais rezeki. Pemuda yang dibicarakan tersebut bernama Angga Bagus Susilo atau akrab disapa Angga.Ketika membuat janji, waktu yang dipilihnya untuk bertemu dengan Jawa Pos Radar Bojonegoro ialah pagi.

Tepatnya pukul 10.00 kemarin (22/3) bertemu di sebuah kedai kopi di wilayah Jetak, Bojonegoro. Tanpa menunggu, pria asal Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam itu sangat tepat waktu. Ketika wartawan koran ini sampai di kedai kopi tersebut, dia sudah sibuk menggoreskan pensilnya di buku gambarnya.

Kesan pertama yang didapat ialah keramahan. Sambil menikmati susu cokelat, dia gayeng bercerita dengan wartawan koran ini. Karena di usianya yang masih muda, Angga juga merupakan orang yang ingin selalu berinovasi di bidang menggambar.

Angga pun awalnya sudah menyukai seni menggambar sejak SD. Karena itu, bakatnya terus ia kembangkan. Ditambah dukungan dari kedua orang tuanya.

“Dulu almarhum ayah saya seorang seniman, beliau merupakan pemain ketoprak di desa setempat, tapi saya lupa nama grup ketopraknya, jadi kemungkinan darah seni itu berasal dari ayah saya,” jelas alumni SMKN Purwosari jurusan rekayasa perangkat lunak 2015 itu.

Baca Juga :  Pencairan BPNT Daerah Lambat, Beralasan Belum Masuk SIPD

Angga sangat menikmati prosesnya berkarya. Kemudian, ketika dulu masih di SMK, Angga memeroleh pesanan gambar sketsa wajah. “Awalnya dulu, saya jual karya sketsa wajah hanya Rp 15 ribu per wajah ukuran kertas A4,” terangnya.

Semangat Angga deras mengalir, dia pun berinisiatif membuat portofolio sebanyak mungkin. “Dulu saat bikin portofolio, saya bikin satu gambar per hari, lalu saya unggah di media sosial, sehingga banyak orang yang akan mengetahui keberadaan saya sebagai seorang seniman,” katanya. 

Uniknya, selain konsumen yang datang, Angga juga bertemu dengan seorang seniman asal Desa/Kecamatan Kalitidu yang bernama Arifin atau akrab disapa Pak Pin melalui media sosial. Dia diajak Pak Pin untuk main ke sanggarnya untuk belajar bersama sekitar 2013 silam.

“Pak Pin dulu tahu saya sering unggah gambar di Facebook, lalu saya pun dikirimi pesan dan diajak ke sanggarnya,” ujarnya. Pertemuan dengan Pak Pin cukup berperan dalam hidupnya, karena dia pun memiliki banyak kawan baru yang sehobi dengannya. 

Kendati demikian, selain aktif di sanggar milik Pak Pin, Angga juga aktif dengan kawan-kawannya di rumah untuk berkarya. Karena, di sekitar Kecamatan Gayam juga ada beberapa kawannya yang ikut bergabung dengan sanggar yang didirikan oleh Pak Pin tersebut.

Baca Juga :  Pemkab Bojonegoro Pertahankan Opini WTP sejak 2014

“Saya pun ikut menggerakkan kawan-kawan dari Gayam yang ingin berkarya, kami pun buat pameran ketika ada acara di Gayam,” terangnya. Setidaknya di Gayam, Angga dan kawan-kawannya membuat perkumpulan sendiri secara sederhana guna menjadi wadah untuk berbagi ilmu atau menggambar bersama.

Ketika menggambar, Angga lebih nyaman menggambar menggunakan pensil. Karena selain ekonomis, gambar menggunakan pensil itu lebih realis ketika dinikmati. “Menggambar menggunakan pensil identik dengan kesederhanaan, karena itu saya nyaman,” ujarnya. 

Bahkan, kini tarif yang ia tawarkan kepada para pemesannya sudah naik menjadi Rp 300 ribu per wajah, kertas ukuran A4. “Proses naiknya nilai karya saya tentu bertahap, karena itu saya menikmatinya, jadi tak boleh berhenti berkembang, harus terus menambah jam terbang,” tutur pria berambut lurus itu.

Bahkan, dia menceritakan pernah memeroleh pesanan hingga Batam dan Sumatera Barat.Alasan karyanya bisa diketahui di luar kota disebabkan oleh keaktifan Angga mempromosikan karyanya di pelbagai media sosial seperti Instagram, Twitter, dan Facebook.

Angga pun mengembangkan sebuah situs untuk memuat tulisan dan karyanya di sebuah situs duniapensil.com yang dibuatnya. “Situs tersebut rencananya akan digunakan menjadi galeri karya-karya saya,” tuturnya.Di luar dunia menggambar, Angga juga terkadang membuat batik cap di rumahnya.

Pesanan batik biasanya datang ketika ada festival, karnaval, atau momen tertentu lainnya.

FEATURES – Hasrat berkesenian memang sudah tumbuh sejak Angga Bagus Susilo duduk di bangku SD. Proses berkarya hingga menjadi ladang mengais rezeki. Dia pun aktif mengembangkan kreativitas di desanya.Tak sulit membuat janji bertemu dengan seorang pemuda asal Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, yang dikenal piawai dalam dunia seni menggambar sketsa wajah. Karena pemuda tersebut bukan seorang karyawan, dia memilih menjadi pekerja lepas.

Dia memiliki bakat di bidang seni menggambar, jadi dari bakatnya tersebut, dia bisa mengais rezeki. Pemuda yang dibicarakan tersebut bernama Angga Bagus Susilo atau akrab disapa Angga.Ketika membuat janji, waktu yang dipilihnya untuk bertemu dengan Jawa Pos Radar Bojonegoro ialah pagi.

Tepatnya pukul 10.00 kemarin (22/3) bertemu di sebuah kedai kopi di wilayah Jetak, Bojonegoro. Tanpa menunggu, pria asal Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam itu sangat tepat waktu. Ketika wartawan koran ini sampai di kedai kopi tersebut, dia sudah sibuk menggoreskan pensilnya di buku gambarnya.

Kesan pertama yang didapat ialah keramahan. Sambil menikmati susu cokelat, dia gayeng bercerita dengan wartawan koran ini. Karena di usianya yang masih muda, Angga juga merupakan orang yang ingin selalu berinovasi di bidang menggambar.

Angga pun awalnya sudah menyukai seni menggambar sejak SD. Karena itu, bakatnya terus ia kembangkan. Ditambah dukungan dari kedua orang tuanya.

“Dulu almarhum ayah saya seorang seniman, beliau merupakan pemain ketoprak di desa setempat, tapi saya lupa nama grup ketopraknya, jadi kemungkinan darah seni itu berasal dari ayah saya,” jelas alumni SMKN Purwosari jurusan rekayasa perangkat lunak 2015 itu.

Baca Juga :  Setelah EHB BKS, Siswa SMA di Bojonegoro Hadapi USP

Angga sangat menikmati prosesnya berkarya. Kemudian, ketika dulu masih di SMK, Angga memeroleh pesanan gambar sketsa wajah. “Awalnya dulu, saya jual karya sketsa wajah hanya Rp 15 ribu per wajah ukuran kertas A4,” terangnya.

Semangat Angga deras mengalir, dia pun berinisiatif membuat portofolio sebanyak mungkin. “Dulu saat bikin portofolio, saya bikin satu gambar per hari, lalu saya unggah di media sosial, sehingga banyak orang yang akan mengetahui keberadaan saya sebagai seorang seniman,” katanya. 

Uniknya, selain konsumen yang datang, Angga juga bertemu dengan seorang seniman asal Desa/Kecamatan Kalitidu yang bernama Arifin atau akrab disapa Pak Pin melalui media sosial. Dia diajak Pak Pin untuk main ke sanggarnya untuk belajar bersama sekitar 2013 silam.

“Pak Pin dulu tahu saya sering unggah gambar di Facebook, lalu saya pun dikirimi pesan dan diajak ke sanggarnya,” ujarnya. Pertemuan dengan Pak Pin cukup berperan dalam hidupnya, karena dia pun memiliki banyak kawan baru yang sehobi dengannya. 

Kendati demikian, selain aktif di sanggar milik Pak Pin, Angga juga aktif dengan kawan-kawannya di rumah untuk berkarya. Karena, di sekitar Kecamatan Gayam juga ada beberapa kawannya yang ikut bergabung dengan sanggar yang didirikan oleh Pak Pin tersebut.

Baca Juga :  Pemkab Bojonegoro Pertahankan Opini WTP sejak 2014

“Saya pun ikut menggerakkan kawan-kawan dari Gayam yang ingin berkarya, kami pun buat pameran ketika ada acara di Gayam,” terangnya. Setidaknya di Gayam, Angga dan kawan-kawannya membuat perkumpulan sendiri secara sederhana guna menjadi wadah untuk berbagi ilmu atau menggambar bersama.

Ketika menggambar, Angga lebih nyaman menggambar menggunakan pensil. Karena selain ekonomis, gambar menggunakan pensil itu lebih realis ketika dinikmati. “Menggambar menggunakan pensil identik dengan kesederhanaan, karena itu saya nyaman,” ujarnya. 

Bahkan, kini tarif yang ia tawarkan kepada para pemesannya sudah naik menjadi Rp 300 ribu per wajah, kertas ukuran A4. “Proses naiknya nilai karya saya tentu bertahap, karena itu saya menikmatinya, jadi tak boleh berhenti berkembang, harus terus menambah jam terbang,” tutur pria berambut lurus itu.

Bahkan, dia menceritakan pernah memeroleh pesanan hingga Batam dan Sumatera Barat.Alasan karyanya bisa diketahui di luar kota disebabkan oleh keaktifan Angga mempromosikan karyanya di pelbagai media sosial seperti Instagram, Twitter, dan Facebook.

Angga pun mengembangkan sebuah situs untuk memuat tulisan dan karyanya di sebuah situs duniapensil.com yang dibuatnya. “Situs tersebut rencananya akan digunakan menjadi galeri karya-karya saya,” tuturnya.Di luar dunia menggambar, Angga juga terkadang membuat batik cap di rumahnya.

Pesanan batik biasanya datang ketika ada festival, karnaval, atau momen tertentu lainnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/