alexametrics
29.7 C
Bojonegoro
Friday, August 12, 2022

Fashion Bekas Mulai Dilirik, Ini Alasannya

BISNIS – Fashion bekas kini menjadi sektor bisnis yang memiliki pangsa pasar. Alasannya, meski fashion bekas, tapi bermerek dan orisinal. Rata-rata pelaku bisnis ini dijalankan para remaja. Ternyata, respons pasar cukup bagus dan terbuka.

Biasanya yang kerap dijual merupakan koleksi pribadi (kolpri). Juga, titipan dari beberapa kawan yang memiliki koleksi fashion dan barang bermerek. 

“Awalnya saya jual kolpri sendiri. Lama-kelamaan habis, tapi masih banyak konsumen yang tanya. Akhirnya kawan nitip, kadang saya juga berburu sendiri,” kata Ardian, salah satu pengusaha barang secondhand kemarin (22/2).

Selain pemasaran secara langsung, kata dia, juga menjalankan bisnisnya dijalankan secara online. Sebagian besar barang dijualnya merupakan titipan dari kawan-kawannya. Biasanya, dia juga berburu di toko-toko yang menjual fashion secondhand. 

Baca Juga :  Batik Blora Masih Dinilai MahalĀ 

Harga barang secondhand tak jauh beda dengan barang baru. Sebab barangnya bermerek dan orisinal. Barang kerap dijualnya kaus, celana, dan jaket.

“Saya pasti jual yang kondisinya masih bagus. Mereknya terkenal, dan orisinal. Sekaligus sudah saya cuci bersih, jadi konsumen nyaman beli,” ujarnya yang meraup omzet per bulan sekitar Rp 1,5 juta.

Reza pelaku usaha barang secondhand lain menambahkan,  kebutuhan fashion anak muda bisa diatur sedemikian rupa.

Ada yang ingin bergaya dengan barang baru. Namun, ada juga yang cukup mengenakan barang yang jelas bagus sekaligus orisinal, namun bekas. 

Dia menyadari, rata-rata konsumen paling tertarik beli jaket-jaket impor yang tebal. 

BISNIS – Fashion bekas kini menjadi sektor bisnis yang memiliki pangsa pasar. Alasannya, meski fashion bekas, tapi bermerek dan orisinal. Rata-rata pelaku bisnis ini dijalankan para remaja. Ternyata, respons pasar cukup bagus dan terbuka.

Biasanya yang kerap dijual merupakan koleksi pribadi (kolpri). Juga, titipan dari beberapa kawan yang memiliki koleksi fashion dan barang bermerek. 

“Awalnya saya jual kolpri sendiri. Lama-kelamaan habis, tapi masih banyak konsumen yang tanya. Akhirnya kawan nitip, kadang saya juga berburu sendiri,” kata Ardian, salah satu pengusaha barang secondhand kemarin (22/2).

Selain pemasaran secara langsung, kata dia, juga menjalankan bisnisnya dijalankan secara online. Sebagian besar barang dijualnya merupakan titipan dari kawan-kawannya. Biasanya, dia juga berburu di toko-toko yang menjual fashion secondhand. 

Baca Juga :  Bucket Hat Diminati Pehobi Outdoor

Harga barang secondhand tak jauh beda dengan barang baru. Sebab barangnya bermerek dan orisinal. Barang kerap dijualnya kaus, celana, dan jaket.

“Saya pasti jual yang kondisinya masih bagus. Mereknya terkenal, dan orisinal. Sekaligus sudah saya cuci bersih, jadi konsumen nyaman beli,” ujarnya yang meraup omzet per bulan sekitar Rp 1,5 juta.

Reza pelaku usaha barang secondhand lain menambahkan,  kebutuhan fashion anak muda bisa diatur sedemikian rupa.

Ada yang ingin bergaya dengan barang baru. Namun, ada juga yang cukup mengenakan barang yang jelas bagus sekaligus orisinal, namun bekas. 

Dia menyadari, rata-rata konsumen paling tertarik beli jaket-jaket impor yang tebal. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/