alexametrics
29.7 C
Bojonegoro
Wednesday, August 10, 2022

Tiga Desa Masih Terendam, Ular Piton Ditemukan di Kalianyar

Radar Bojonegoro – Riuh ramai kondisi di dalam Gedung SSC (Sukorejo Sport Center) kemarin sore (22/1). Karena gedung yang dimanfaatkan sebagai tempat pengungsian warga terdampak banjir itu masih aktif digunakan untuk latihan bulutangkis.

Sisi selatan di dalam gedung telah berjejer bilik-bilik untuk beristirahat. Di sudut gedung juga telah tersedia peralatan dapur umum. Beberapa warga juga menggelar karpet untuk bersantai sekaligus memasang stop kontak untuk mengisi daya gawainya masing-masing.

Andri, salah satu pengungsi mengatakan, mengungsi bersama semua anggota keluarganya, sejak Kamis sore lalu (21/1). Bapak tiga anak memastikan semua pengungsi di Gedung SSC merupakan warga RT 29 RW 07 atau warga komplek tempat penimbunan kayu (TPK) Perhutani. Adapun kondisi banjir di rumahnya setinggi pinggang orang dewasa. “Tapi yang bikin susah, kayu-kayu di TPK itu mengapung semua. Jadi ketika jalan harus menyingkirkan kayu-kayu itu terlebih dahulu,” tutur Andri.

Baca Juga :  Pembahasan Raperda RTRW Dikebut, Pelebaran Kota Hingga Kapas-Dander

Dia menceritakan, banjir di komplek TPK Perhutani baru terjadi dua kali. Pertama saat banjir luapan Bengawan Solo pada 2007 silam dan kedua banjir luapan sungai wilayah selatan Bojonegoro. Andri berharap air segera surut, agar bisa segera membersihkan rumah. “Meskipun di tempat pengungsian ini aman dan nyaman, tapi tetap lebih nyaman berada di rumah,” imbuh pria yang berprofesi sebagai karyawan swasta itu.

Terpisah, Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Nadif Ulfia mengatakan, masih ada tiga desa yang terendam banjir. Di antaranya Desa Sukorejo dan Desa Pacul, Kecamatan Bojonegoro Kota serta Desa Kalianyar, Kecamatan Kapas. Di Desa Sukorejo total 99 KK terdampak banjir. Namun, 56 KK di antaranya yakni warga komplek TPK Perhutani mengungsi sementara di Gedung SSC.

Kondisi ketinggian air sekitar 70-90 sentimeter. Selain itu, ada satu musala dan Pasar Sukorejo turut terendam. “Lalu, di wilayah Desa Pacul terpantau kawasan permukiman dan jalan masih tergenang air,” tuturnya.

Baca Juga :  Pejabat Kedubes Australia Kunjungi Tuban

Kemudian, di Desa Kalianyar, Kecamatan Kapas masih ada 618 KK dan 44.337 hektare area persawahan terdampak banjir. Sedangkan di kawasa Desa Wedi, Tanjungharjo, dan Bangilan turut Kecamatan Kapas terpantau normal, tanpa genangan air.

“Di kawasan Desa Wedi, sawah seluas 830 hektare terendam banjir, namun hari ini (kemarin) sudah surut,” imbuh Ulfia. Sementara itu, warga RT 07 RW 02 Desa Kalianyar Kecamatan Kapas dikagetkan dengan munculnya ular jenis piton. Ular dengan panjang lebih dari 2 meter muncul di permukiman terdampak banjir.

Munculnya ular berwarna cokelat kombinasi kuning itu mengagetkan warga setempat. ‘’Sempat mengagetkan warga, tapi berhasil ditangkap,’’ kata Abdul Rouf salah satu warga Desa Kalianyar.

Radar Bojonegoro – Riuh ramai kondisi di dalam Gedung SSC (Sukorejo Sport Center) kemarin sore (22/1). Karena gedung yang dimanfaatkan sebagai tempat pengungsian warga terdampak banjir itu masih aktif digunakan untuk latihan bulutangkis.

Sisi selatan di dalam gedung telah berjejer bilik-bilik untuk beristirahat. Di sudut gedung juga telah tersedia peralatan dapur umum. Beberapa warga juga menggelar karpet untuk bersantai sekaligus memasang stop kontak untuk mengisi daya gawainya masing-masing.

Andri, salah satu pengungsi mengatakan, mengungsi bersama semua anggota keluarganya, sejak Kamis sore lalu (21/1). Bapak tiga anak memastikan semua pengungsi di Gedung SSC merupakan warga RT 29 RW 07 atau warga komplek tempat penimbunan kayu (TPK) Perhutani. Adapun kondisi banjir di rumahnya setinggi pinggang orang dewasa. “Tapi yang bikin susah, kayu-kayu di TPK itu mengapung semua. Jadi ketika jalan harus menyingkirkan kayu-kayu itu terlebih dahulu,” tutur Andri.

Baca Juga :  Motor v Truk, Pasutri Tewas

Dia menceritakan, banjir di komplek TPK Perhutani baru terjadi dua kali. Pertama saat banjir luapan Bengawan Solo pada 2007 silam dan kedua banjir luapan sungai wilayah selatan Bojonegoro. Andri berharap air segera surut, agar bisa segera membersihkan rumah. “Meskipun di tempat pengungsian ini aman dan nyaman, tapi tetap lebih nyaman berada di rumah,” imbuh pria yang berprofesi sebagai karyawan swasta itu.

Terpisah, Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Nadif Ulfia mengatakan, masih ada tiga desa yang terendam banjir. Di antaranya Desa Sukorejo dan Desa Pacul, Kecamatan Bojonegoro Kota serta Desa Kalianyar, Kecamatan Kapas. Di Desa Sukorejo total 99 KK terdampak banjir. Namun, 56 KK di antaranya yakni warga komplek TPK Perhutani mengungsi sementara di Gedung SSC.

Kondisi ketinggian air sekitar 70-90 sentimeter. Selain itu, ada satu musala dan Pasar Sukorejo turut terendam. “Lalu, di wilayah Desa Pacul terpantau kawasan permukiman dan jalan masih tergenang air,” tuturnya.

Baca Juga :  PPDB SMPN di Bojonegoro Tahap Pendataan Lulusan SD dan MI

Kemudian, di Desa Kalianyar, Kecamatan Kapas masih ada 618 KK dan 44.337 hektare area persawahan terdampak banjir. Sedangkan di kawasa Desa Wedi, Tanjungharjo, dan Bangilan turut Kecamatan Kapas terpantau normal, tanpa genangan air.

“Di kawasan Desa Wedi, sawah seluas 830 hektare terendam banjir, namun hari ini (kemarin) sudah surut,” imbuh Ulfia. Sementara itu, warga RT 07 RW 02 Desa Kalianyar Kecamatan Kapas dikagetkan dengan munculnya ular jenis piton. Ular dengan panjang lebih dari 2 meter muncul di permukiman terdampak banjir.

Munculnya ular berwarna cokelat kombinasi kuning itu mengagetkan warga setempat. ‘’Sempat mengagetkan warga, tapi berhasil ditangkap,’’ kata Abdul Rouf salah satu warga Desa Kalianyar.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/