alexametrics
25.2 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Cerita di Balik Sebutan Gajah Bolong, di Kecamatan Baureno

Kecamatan Baureno memiliki taman atau ruang terbuka hijau (RTH). Taman diresmikan kemarin (22/1) dinamakan Taman Gajah Bolong. Penamaan Gajah Bolong tidak mengacu nama desa di lokasi setempat. Sebaliknya, sebutan populer masyarakat sesuai cerita sejarah di lokasi.

MUHDANY Y. LAKSONO, Radar Bojonegoro
Lalu lalang kendaraan di jalanan BojonegoroBabat masih terbilang padat siang kemarin (22/1). Kendaraan roda empat melaju bergantian dengan pengendara motor mengenakan jas hujan. Di Kecamatan Baureno, terdapat kawasan biasa disebut Gajah Bolong.

Padahal, penamaan Gajah Bolong tidak mengacu nama desa atau dusun. Jawa Pos Radar Bojonegoro berkesempatan mengunjungi lokasi dipercaya masyarakat setempat menjadi sumber muasal adanya sebutan kawasan Gajah Bolong. Yakni patung gajah di sebuah halaman rumah. Letaknya barat Kantor Kecamatan Baureno.

Rumah berpagar menghadap ke selatan. Sekilas dari luar, jalanan Bojonegoro-Babat, keberadaan patung gajah itu tidak begitu kentara. Sedikit terhalang pagar dan tumbuhan menjalar dan bergerombol di rumah tua itu. Patung gajah berdiri di areal layaknya taman di halaman rumah. Namun, keberadaan patung gajah akan kentara jika mendekat pagar atau masuk ke dalam rumah dengan arsitektur kuno itu.

Sekilas desaian taman di halaman rumah itu tertata. Ada bangunan kecil setengah melingkar sebagai tempat bersantai. Terdapat beragam pohon. Di taman rumah itu terlihat menyolok patung gajah. Juga ada beberapa patung lainnya. Hanya, patung gajah cukup dominan, karena ukurannya. Ada patung seorang prajurit bersenjata membawa bertameng. Juga beberapa hewan seperti angsa.

Baca Juga :  Kesulitan Atasi Penyakit Jamur

Dwi Rachmad Suhandhoko, salah satu kerabat dari pemilik terakhir yakni mendiang Mbah Sudjono mengatakan, berdasar cerita turun-menurun, patung gajah itu dulunya bagus, tanpa cacat. Namun, ketika zaman Belanda, patung tersebut terkena hempasan peluru. Mengingat ada cerita dulu rumah-rumah di sekitaran rumah kuno tersebut juga diserang oleh Belanda.

“Bolongnya itu ketika zaman agresi militer Belanda. Kalau tidak salah yang kedua. Dan rumah (berpatung gajah bolong) itu dulu katanya tempat logistik Belanda,” tuturnya ditemui kemarin. Menurut cerita diterima Rachmad, lubang pada patung itu awalnya beberapa kali sudah ditambal.

Namun, tambalan semennya luntur dan berlubang lagi. Tapi, akhirnya kini patung gajah sudah tidak memiliki lubang lagi. “Sekarang sudah tertutup. Tapi, cerita itu sudah melekat di masyarakat dan menjadi ikon sebutan di sekitaran wilayah itu,” ujar pria telah mengulas cerita Gajah Bolong dalam sebuah buku itu.

Menurut pria kelahiran 1970 itu, bangunan rumah berarsitektur kuno itu kini sudah tidak ditempati. Sosok pewaris yang ditunjuk Mbah Sudjono sudah bermukim di daerah lain. Namun, teras rumah dimanfaatkan Rachmad bersama istri sebagai tempat les bahasa inggris dan komputer.

Baca Juga :  Rajin Berolahraga, Mbah Yasmidi Masih Kuat Pikul Pasir Dalam Karung

Adapun sebelum Mbah Sudjono, rumah tersebut merupakan milik orang warga keturunan Tiongkok. Namanya, Jun Yok. Dulunya Mbah Sudjono juga seorang rekan kerjanya. Lambat laun karena usaha tembakaunya sukses, bisa membeli rumah tersebut. Sekitar 1975 atau 1980-an. “Saya kurang tahu apa orang Cina (Tiongkok) itu pemilik pertama atau bukan. Tapi, saya rasa ada orang lagi sebelumnya,” tandas pria juga berprofesi sebagai guru itu.

Dalam prosesnya menulis tentang Gajah Bolong itu, dia juga tidak mendapat informasi banyak. Sang pemilik, tetua dari keluarga Mbah Sudjono hingga kerabat sudah banyak yang meninggal dunia. Kalau ada pun sudah tidak begitu ingat ceritanya. Namun, Rachmad mengaku bisa saja mendapat informasi lebih dari ini.

Karena jauh sebelum menulis, ia pernah menjumpai seorang pria tua etnis Tionghoa sedang melihat lihat bangunan rumah dari luar. Ketika ditanyai maksud tindakannya, ternyata hanya untuk mengenang masa kecil. “Katanya mengenang masa kecil ketika di sini (rumah). Saya juga kaget dan sayangnya tidak banyak menanyai. Tapi, usut punya usut dimungkinkan itu anaknya Jun Yok,” jelasnya.

Patung gajah bolong itu mampu melintas zaman. Sejak zaman kolonial Belanda hingga saat ini masih berdiri kokoh. Generasi saat ini bisa melihat dan mencermati adanya sejarah pergolakan dengan Belanda, di kawasan Desa/ Kecamatan Baureno.

Kecamatan Baureno memiliki taman atau ruang terbuka hijau (RTH). Taman diresmikan kemarin (22/1) dinamakan Taman Gajah Bolong. Penamaan Gajah Bolong tidak mengacu nama desa di lokasi setempat. Sebaliknya, sebutan populer masyarakat sesuai cerita sejarah di lokasi.

MUHDANY Y. LAKSONO, Radar Bojonegoro
Lalu lalang kendaraan di jalanan BojonegoroBabat masih terbilang padat siang kemarin (22/1). Kendaraan roda empat melaju bergantian dengan pengendara motor mengenakan jas hujan. Di Kecamatan Baureno, terdapat kawasan biasa disebut Gajah Bolong.

Padahal, penamaan Gajah Bolong tidak mengacu nama desa atau dusun. Jawa Pos Radar Bojonegoro berkesempatan mengunjungi lokasi dipercaya masyarakat setempat menjadi sumber muasal adanya sebutan kawasan Gajah Bolong. Yakni patung gajah di sebuah halaman rumah. Letaknya barat Kantor Kecamatan Baureno.

Rumah berpagar menghadap ke selatan. Sekilas dari luar, jalanan Bojonegoro-Babat, keberadaan patung gajah itu tidak begitu kentara. Sedikit terhalang pagar dan tumbuhan menjalar dan bergerombol di rumah tua itu. Patung gajah berdiri di areal layaknya taman di halaman rumah. Namun, keberadaan patung gajah akan kentara jika mendekat pagar atau masuk ke dalam rumah dengan arsitektur kuno itu.

Sekilas desaian taman di halaman rumah itu tertata. Ada bangunan kecil setengah melingkar sebagai tempat bersantai. Terdapat beragam pohon. Di taman rumah itu terlihat menyolok patung gajah. Juga ada beberapa patung lainnya. Hanya, patung gajah cukup dominan, karena ukurannya. Ada patung seorang prajurit bersenjata membawa bertameng. Juga beberapa hewan seperti angsa.

Baca Juga :  Tunjangan Honorer Disdik Kian Menipis, Tunggu Realisasi Anggaran 6M

Dwi Rachmad Suhandhoko, salah satu kerabat dari pemilik terakhir yakni mendiang Mbah Sudjono mengatakan, berdasar cerita turun-menurun, patung gajah itu dulunya bagus, tanpa cacat. Namun, ketika zaman Belanda, patung tersebut terkena hempasan peluru. Mengingat ada cerita dulu rumah-rumah di sekitaran rumah kuno tersebut juga diserang oleh Belanda.

“Bolongnya itu ketika zaman agresi militer Belanda. Kalau tidak salah yang kedua. Dan rumah (berpatung gajah bolong) itu dulu katanya tempat logistik Belanda,” tuturnya ditemui kemarin. Menurut cerita diterima Rachmad, lubang pada patung itu awalnya beberapa kali sudah ditambal.

Namun, tambalan semennya luntur dan berlubang lagi. Tapi, akhirnya kini patung gajah sudah tidak memiliki lubang lagi. “Sekarang sudah tertutup. Tapi, cerita itu sudah melekat di masyarakat dan menjadi ikon sebutan di sekitaran wilayah itu,” ujar pria telah mengulas cerita Gajah Bolong dalam sebuah buku itu.

Menurut pria kelahiran 1970 itu, bangunan rumah berarsitektur kuno itu kini sudah tidak ditempati. Sosok pewaris yang ditunjuk Mbah Sudjono sudah bermukim di daerah lain. Namun, teras rumah dimanfaatkan Rachmad bersama istri sebagai tempat les bahasa inggris dan komputer.

Baca Juga :  Kota tanpa Perahu

Adapun sebelum Mbah Sudjono, rumah tersebut merupakan milik orang warga keturunan Tiongkok. Namanya, Jun Yok. Dulunya Mbah Sudjono juga seorang rekan kerjanya. Lambat laun karena usaha tembakaunya sukses, bisa membeli rumah tersebut. Sekitar 1975 atau 1980-an. “Saya kurang tahu apa orang Cina (Tiongkok) itu pemilik pertama atau bukan. Tapi, saya rasa ada orang lagi sebelumnya,” tandas pria juga berprofesi sebagai guru itu.

Dalam prosesnya menulis tentang Gajah Bolong itu, dia juga tidak mendapat informasi banyak. Sang pemilik, tetua dari keluarga Mbah Sudjono hingga kerabat sudah banyak yang meninggal dunia. Kalau ada pun sudah tidak begitu ingat ceritanya. Namun, Rachmad mengaku bisa saja mendapat informasi lebih dari ini.

Karena jauh sebelum menulis, ia pernah menjumpai seorang pria tua etnis Tionghoa sedang melihat lihat bangunan rumah dari luar. Ketika ditanyai maksud tindakannya, ternyata hanya untuk mengenang masa kecil. “Katanya mengenang masa kecil ketika di sini (rumah). Saya juga kaget dan sayangnya tidak banyak menanyai. Tapi, usut punya usut dimungkinkan itu anaknya Jun Yok,” jelasnya.

Patung gajah bolong itu mampu melintas zaman. Sejak zaman kolonial Belanda hingga saat ini masih berdiri kokoh. Generasi saat ini bisa melihat dan mencermati adanya sejarah pergolakan dengan Belanda, di kawasan Desa/ Kecamatan Baureno.

Artikel Terkait

Most Read

Permintaan CCTV Didominasi Pebisnis

Andalkan Duet Stoper Lokal

PPPK Tinggal Tunggu Pengumuman

Artikel Terbaru


/