alexametrics
30.4 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Melihat Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di Bojonegoro

Karena setiap hari sudah menggunakan bahasa Indonesia/Jawa sebagai bahasa lisan, sejumlah siswa memilih menulis buku dengan bahasa inggris. Selain untuk membagi semangat belajar, menulis buku berbeda dari sekadar bertutur. 

——————————–

W. RIZKIAWAN, Bojonegoro 

——————————–

Puluhan buku tertata rapi di atas meja, buku-buku itu, hampir semua buku tersebut, masih menguarkan aroma tinta yang benar-benar bisa ditangkap indera penciuman.

Di sampingnya, sejumlah siswa berseragam asyik membuka-buka buku itu, sesekali mereka tertawa, menyaksikan apa yang baru saja mereka baca. 

Suasana riuh itu tersaji di halaman belakang SMPN 1 Bojonegoro kemarin (21/11).

Selain menata buku-buku hasil tulisannya, sejumlah pelajar tingkat menengah itu juga tampak sangat bersemangat menjelaskan perihal apa yang ada di dalam buku tersebut, kepada para pengunjung yang menanyai mereka.

Selain rasa semangat yang tercermin dari raut wajah, kebanggaan juga memancar dari tatapan mata mereka.

Membukukan sebuah tulisan yang merupakan sebuah kemewahan bagi orang-orang dewasa, sudah mereka rasakan saat duduk di bangku sekolah menengah.

Dari yang telah dilakukan para siswa, keraguan akan masa depan literasi di Bojonegoro pun sirna seketika.

Dari sepuluh buku yang terpampang di meja tersebut, tidak hanya buku berbahasa Indonesia saja. Sejumlah buku ditulis oleh siswa menggunakan Bahasa Inggris.

Menulis buku menggunakan bahasa Inggris tentu sangat jarang dilakukan, bahkan oleh orang dewasa. Namun, siswa-siswa tingkat menengah ini membuktikan bahwa masa depan literasi Bojonegoro aman di tangan mereka.      

Baca Juga :  Geruduk Kantor Dewan, Suporter Siap Golput

“Sebenarnya saya suka menulis sejak SD, tapi baru SMP ini bisa mengeksplor tulisan secara maksimal,” kata Anisa Putri Khairina, salah seorang penulis yang berhasil diwawancara Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin. 

Siswa kelas 9 itu merupakan salah satu penulis di dua buku berjudul Dozen Ways To Learn English dan Learning Is Fun. Dua buku nonfiksi berbahasa inggris yang dia kerjakan secara keroyokan bersama teman-temannya.

Diantara 10 judul buku yang terletak di atas meja, ada dua judul buku yang ditulis menggunakan bahasa inggris. Dan Anisa menjadi salah satu penulis konten di dua buku tersebut. 

Anisa mengaku, dirinya  lebih condong menulis dengan berbahasa Inggris karena alasan yang sangat sederhana. Setiap hari, dia menggunakan bahasa Indonesia/Jawa sebagai bahasa lisan.

Karena itu, saat menulis buku, dia ingin menulisnya menggunakan bahasa Inggris. Sebab, menurut dia, menulis untuk buku dengan berbicara saja harus dibedakan. 

“Setiap hari kan sudah pakai bahasa Indonesia, jadi untuk buku saya memilih menulisnya menggunakan bahasa Inggris,” kata anak ketiga dari tiga bersaudara itu. 

Keberaniannya menulis menggunakan bahasa inggris, tidak terlepas dari sejumlah buku yang dia baca. Anisa mengakui, kemauannya menulis sangat terinspirasi sejumlah penulis. Diantaranya Najwa Zebian dan Malala Yousafzai.

Baca Juga :  SMKN 2 Semakin Dipercaya

Terutama Malala, Anisa mengaku sangat terinspirasi olehnya. Jika Malala menulis tentang perdamaian, Anisa lebih memilih menulis tentang semangat belajar. Salah satunya, semangat belajar mengenal berbagai bahasa. 

Salah seorang guru pembina GLS SMPN1 Bojonegoro, Waskito Arifin mengatakan, menulis sepuluh buku dengan konsep antologi memang awalnya dirasa berat.

Namun, setelah keinginan itu dilempar kepada para siswa, akhirnya terwujud juga. Sebab, siswa-siswa tersebut diberi kebebasan untuk memilih tema apa yang mereka inginkan untuk ditulis. 

“Awalnya hanya kegiatan membaca. Namun kegiatan itu berkembang menjadi menulis dan menghasilkan karya berupa buku,” kata dia. 

Sebelum menghasilkan sebuah karya buku, terang dia, para siswa memang sudah hobi menulis resume  dari buku-buku yang pernah mereka baca.

Dari tulisan resume itulah, timbul keberanian untuk menulis buku yang dikerjakan secara antologi. Jika menulis resume buku saja bisa, tentu menulis conten antologi pasti lebih bisa. 

Saat ini, siswa-siswa tersebut sudah menulis sebanyak 10 buku antologi. Dari sepuluh buku itu, terdiri dari buku fiksi dan nonfiksi yang dikerjakan bersama-sama sesuai tema.

Para penulis boleh memilih mau menulis dengan tema sesuai keinginan. Pengerjaan buku itu tidak terlalu lama. seminggu menulis buku, seminggu diedit, dan seminggu dicetak. 

“Saat ini, anak-anak sudah menulis 10 buku antologi, dua buku ditulis menggunakan Bahasa Inggris,” pungkas dia.

Karena setiap hari sudah menggunakan bahasa Indonesia/Jawa sebagai bahasa lisan, sejumlah siswa memilih menulis buku dengan bahasa inggris. Selain untuk membagi semangat belajar, menulis buku berbeda dari sekadar bertutur. 

——————————–

W. RIZKIAWAN, Bojonegoro 

——————————–

Puluhan buku tertata rapi di atas meja, buku-buku itu, hampir semua buku tersebut, masih menguarkan aroma tinta yang benar-benar bisa ditangkap indera penciuman.

Di sampingnya, sejumlah siswa berseragam asyik membuka-buka buku itu, sesekali mereka tertawa, menyaksikan apa yang baru saja mereka baca. 

Suasana riuh itu tersaji di halaman belakang SMPN 1 Bojonegoro kemarin (21/11).

Selain menata buku-buku hasil tulisannya, sejumlah pelajar tingkat menengah itu juga tampak sangat bersemangat menjelaskan perihal apa yang ada di dalam buku tersebut, kepada para pengunjung yang menanyai mereka.

Selain rasa semangat yang tercermin dari raut wajah, kebanggaan juga memancar dari tatapan mata mereka.

Membukukan sebuah tulisan yang merupakan sebuah kemewahan bagi orang-orang dewasa, sudah mereka rasakan saat duduk di bangku sekolah menengah.

Dari yang telah dilakukan para siswa, keraguan akan masa depan literasi di Bojonegoro pun sirna seketika.

Dari sepuluh buku yang terpampang di meja tersebut, tidak hanya buku berbahasa Indonesia saja. Sejumlah buku ditulis oleh siswa menggunakan Bahasa Inggris.

Menulis buku menggunakan bahasa Inggris tentu sangat jarang dilakukan, bahkan oleh orang dewasa. Namun, siswa-siswa tingkat menengah ini membuktikan bahwa masa depan literasi Bojonegoro aman di tangan mereka.      

Baca Juga :  Gadis ini Manfaatkan IG untuk Pertemanan

“Sebenarnya saya suka menulis sejak SD, tapi baru SMP ini bisa mengeksplor tulisan secara maksimal,” kata Anisa Putri Khairina, salah seorang penulis yang berhasil diwawancara Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin. 

Siswa kelas 9 itu merupakan salah satu penulis di dua buku berjudul Dozen Ways To Learn English dan Learning Is Fun. Dua buku nonfiksi berbahasa inggris yang dia kerjakan secara keroyokan bersama teman-temannya.

Diantara 10 judul buku yang terletak di atas meja, ada dua judul buku yang ditulis menggunakan bahasa inggris. Dan Anisa menjadi salah satu penulis konten di dua buku tersebut. 

Anisa mengaku, dirinya  lebih condong menulis dengan berbahasa Inggris karena alasan yang sangat sederhana. Setiap hari, dia menggunakan bahasa Indonesia/Jawa sebagai bahasa lisan.

Karena itu, saat menulis buku, dia ingin menulisnya menggunakan bahasa Inggris. Sebab, menurut dia, menulis untuk buku dengan berbicara saja harus dibedakan. 

“Setiap hari kan sudah pakai bahasa Indonesia, jadi untuk buku saya memilih menulisnya menggunakan bahasa Inggris,” kata anak ketiga dari tiga bersaudara itu. 

Keberaniannya menulis menggunakan bahasa inggris, tidak terlepas dari sejumlah buku yang dia baca. Anisa mengakui, kemauannya menulis sangat terinspirasi sejumlah penulis. Diantaranya Najwa Zebian dan Malala Yousafzai.

Baca Juga :  PDAM Pastikan Tidak Pengaruhi Kondisi Bengawan Solo

Terutama Malala, Anisa mengaku sangat terinspirasi olehnya. Jika Malala menulis tentang perdamaian, Anisa lebih memilih menulis tentang semangat belajar. Salah satunya, semangat belajar mengenal berbagai bahasa. 

Salah seorang guru pembina GLS SMPN1 Bojonegoro, Waskito Arifin mengatakan, menulis sepuluh buku dengan konsep antologi memang awalnya dirasa berat.

Namun, setelah keinginan itu dilempar kepada para siswa, akhirnya terwujud juga. Sebab, siswa-siswa tersebut diberi kebebasan untuk memilih tema apa yang mereka inginkan untuk ditulis. 

“Awalnya hanya kegiatan membaca. Namun kegiatan itu berkembang menjadi menulis dan menghasilkan karya berupa buku,” kata dia. 

Sebelum menghasilkan sebuah karya buku, terang dia, para siswa memang sudah hobi menulis resume  dari buku-buku yang pernah mereka baca.

Dari tulisan resume itulah, timbul keberanian untuk menulis buku yang dikerjakan secara antologi. Jika menulis resume buku saja bisa, tentu menulis conten antologi pasti lebih bisa. 

Saat ini, siswa-siswa tersebut sudah menulis sebanyak 10 buku antologi. Dari sepuluh buku itu, terdiri dari buku fiksi dan nonfiksi yang dikerjakan bersama-sama sesuai tema.

Para penulis boleh memilih mau menulis dengan tema sesuai keinginan. Pengerjaan buku itu tidak terlalu lama. seminggu menulis buku, seminggu diedit, dan seminggu dicetak. 

“Saat ini, anak-anak sudah menulis 10 buku antologi, dua buku ditulis menggunakan Bahasa Inggris,” pungkas dia.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/