alexametrics
25.5 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Rokok Naik? Bea Cukai Pastikan Belum Ada Informasi Resmi

Radar Bojonegoro – Kabar kenaikan tarif cukai rokok membuat Paguyuban Mitra Produksi Sigaret Indonesia (PMPSI) prihatin. Sebab, kenaikan itu akan berdampak karyawan pelinting sigaret kretek tangan (SKT).

Terlebih, terjadi di tengah pandemi korona. Namun, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C (KPPBC TMP C) Bojonegoro, memastikan belum mendapatkan informasi resmi, tentang rencana kenaikan tersebut.

Ketua Paguyupan MPSI Sriyadi Purnomo mengatakan, kenaikan tinggi di masa pandemi Covid-19 berdampak negatif. Khususnya bagi karyawan pelinting SKT, mayoritas tulang punggung keluarga. “Kabarnya Kementerian Keuangan akan menaikkan tarif cukai rokok sebesar 17 hingga 19 persen,” ungkapnya.

Yadi menjelaskan, karyawan akan terancam kehilangan pekerjaan, karena permintaan pasar terhadap produk SKT menurun. Seiring kenaikan cukai tinggi dan berkurangnya daya saing terhadap rokok yang diproduksi mesin atau sigaret kretek mesin (SKM).

Baca Juga :  Pengerjaan Satu Bentang Jembatan Widang Tak Kunjung Tuntas

“Pelinting SKT merupakan padat karya. Satu pelinting hanya mampu memproduksi tujuh batang per menit, sementara mesin dapat menghasilkan 16 ribu batang per menit,” jelas Direktur Koperasi Kareb itu.

Menurut Yadi, perekonomian di sekitar lokasi produksi SKT, seperti warung, pedagang kaki lima, toko kelontong, transportasi, dan rumah kos akan turut terdampak. Padahal usaha tersebut bergantung pada karyawan SKT.

Perlu pertimbangan ulang terkait rencana kenaikan tarif cukai tersebut. Sehingga, dalam pandemi korona para buruh linting tetap dapat bekerja. Dan tidak dihantui kehilangan pekerjaan.

Selain itu, perlu ada penentuan tarif dengan selisih cukup jauh dari tarif cukai rokok SKT dengan rokok SKM. Dengan begitu produk SKT mampu kompetitif dan karyawan pelinting terlindungi. “Karyawan kebanyakan ibu-ibu dengan pendidikan SD dan SMP,” ungkapnya.

Sementara itu, Seksi Kepatuhan Internal dan Penyuluhan KPPBC TMP C Bojonegoro, Murya Basuki mengatakan belum ada informasi resmi terkait kenaikan tarif cukai rokok. Basuki menjelaskan, kenaikan selalu terjadi setiap tahun.

Baca Juga :  Pengecoran Jembatan Cincim di Dua Bentang

Namun, sempat kenaikan tidak terjadi. Sedangkan tahun ini jumlah dan waktu kenaikan belum diketahui. “Kabar kenaikan sudah banyak terdengar,” jelasnya. Menurut Basuki, penentuan tarif dilakukan kementrian keuangan dan beberapa pihak terkait. Termasuk berkoordinasi dengan pengusaha pabrik hasil tembakau.

Meski begitu dampak kenaikan akan tetap dirasakan. Bedasarkan Permen Keuangan Republik Indonesia Nomor 152/ PMK.010/2019 tentang Perubahan Kedua Atas Permen Keuangan nomor 146/PMK.010/2017 Tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau, Tarif Cukai SKT paling rendah Rp 110 dan paling tinggi Rp 425. Sedangkan tarif SKM paling rendah Rp 455 dan paling tinggi Rp 740. Sesuai batas harga jual eceran perbatang atau gram. (irv)

Radar Bojonegoro – Kabar kenaikan tarif cukai rokok membuat Paguyuban Mitra Produksi Sigaret Indonesia (PMPSI) prihatin. Sebab, kenaikan itu akan berdampak karyawan pelinting sigaret kretek tangan (SKT).

Terlebih, terjadi di tengah pandemi korona. Namun, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C (KPPBC TMP C) Bojonegoro, memastikan belum mendapatkan informasi resmi, tentang rencana kenaikan tersebut.

Ketua Paguyupan MPSI Sriyadi Purnomo mengatakan, kenaikan tinggi di masa pandemi Covid-19 berdampak negatif. Khususnya bagi karyawan pelinting SKT, mayoritas tulang punggung keluarga. “Kabarnya Kementerian Keuangan akan menaikkan tarif cukai rokok sebesar 17 hingga 19 persen,” ungkapnya.

Yadi menjelaskan, karyawan akan terancam kehilangan pekerjaan, karena permintaan pasar terhadap produk SKT menurun. Seiring kenaikan cukai tinggi dan berkurangnya daya saing terhadap rokok yang diproduksi mesin atau sigaret kretek mesin (SKM).

Baca Juga :  Deadline Pengerjaan Trotoar 23 Desember, Akankah Selesai Tepat Waktu?

“Pelinting SKT merupakan padat karya. Satu pelinting hanya mampu memproduksi tujuh batang per menit, sementara mesin dapat menghasilkan 16 ribu batang per menit,” jelas Direktur Koperasi Kareb itu.

Menurut Yadi, perekonomian di sekitar lokasi produksi SKT, seperti warung, pedagang kaki lima, toko kelontong, transportasi, dan rumah kos akan turut terdampak. Padahal usaha tersebut bergantung pada karyawan SKT.

Perlu pertimbangan ulang terkait rencana kenaikan tarif cukai tersebut. Sehingga, dalam pandemi korona para buruh linting tetap dapat bekerja. Dan tidak dihantui kehilangan pekerjaan.

Selain itu, perlu ada penentuan tarif dengan selisih cukup jauh dari tarif cukai rokok SKT dengan rokok SKM. Dengan begitu produk SKT mampu kompetitif dan karyawan pelinting terlindungi. “Karyawan kebanyakan ibu-ibu dengan pendidikan SD dan SMP,” ungkapnya.

Sementara itu, Seksi Kepatuhan Internal dan Penyuluhan KPPBC TMP C Bojonegoro, Murya Basuki mengatakan belum ada informasi resmi terkait kenaikan tarif cukai rokok. Basuki menjelaskan, kenaikan selalu terjadi setiap tahun.

Baca Juga :  Pengerjaan Satu Bentang Jembatan Widang Tak Kunjung Tuntas

Namun, sempat kenaikan tidak terjadi. Sedangkan tahun ini jumlah dan waktu kenaikan belum diketahui. “Kabar kenaikan sudah banyak terdengar,” jelasnya. Menurut Basuki, penentuan tarif dilakukan kementrian keuangan dan beberapa pihak terkait. Termasuk berkoordinasi dengan pengusaha pabrik hasil tembakau.

Meski begitu dampak kenaikan akan tetap dirasakan. Bedasarkan Permen Keuangan Republik Indonesia Nomor 152/ PMK.010/2019 tentang Perubahan Kedua Atas Permen Keuangan nomor 146/PMK.010/2017 Tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau, Tarif Cukai SKT paling rendah Rp 110 dan paling tinggi Rp 425. Sedangkan tarif SKM paling rendah Rp 455 dan paling tinggi Rp 740. Sesuai batas harga jual eceran perbatang atau gram. (irv)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/