alexametrics
24.9 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Nguri-Nguri Budaya Lewat Wayang Kulit

TUBAN – Pementasan wayang kulit dalam rangka peringatan HUT ke-60 Pabrik Gresik PT. Semen Indonesia (SI) pada Jumat malam (20/10) lalu memberikan hiburan yang merakyat bagi warga Tuban. 

Pentas seni tradisional yang digelar di Perumdin Semen Gresik (SG), Desa Sumurgung, Kecamatan Tuban itu berlangsung meriah.

Diiringi karawitan Sanggar Seni Cakraningrat dari Rembang, pergelaran wayang dengan dalang Sigid Arianto itu membawakan lakon ‘’Wisanggeni Lahir’’. 

Warga yang hadir terlihat antusias menyimak jalan cerita lahirnya Wisanggeni yang diawali kecemburuan Dewasrani, putra Batari Durga terhadap Arjuna yang telah menikahi Batari Dresanala tersebut.

Direktur keuangan SG Ginarko Isnubroto dalam sambutannya menyampaikan, pementasan wayang kulit ini merupakan bagian dari nguri-nguri kebudayaan yang semakin hari semakin terkikis.

Baca Juga :  Bertemu Kades, Pastikan Jalan akan Dicor Beton

Diharapkan, dengan kegiatan ini seni tradisional wayang kulit bisa terus lestari.

‘’Saya melihat ada banyak anak yang ikut melihat. Ini merupakan momen yang sangat baik untuk mengenalkan kepada anak-anak.

Mengajak mereka untuk nguri-nguri kebudayaan yang luhur ini,’’ tuturnya memberikan apresiasi atas antusiasme masyarakat yang hadir bersama keluarga.

TUBAN – Pementasan wayang kulit dalam rangka peringatan HUT ke-60 Pabrik Gresik PT. Semen Indonesia (SI) pada Jumat malam (20/10) lalu memberikan hiburan yang merakyat bagi warga Tuban. 

Pentas seni tradisional yang digelar di Perumdin Semen Gresik (SG), Desa Sumurgung, Kecamatan Tuban itu berlangsung meriah.

Diiringi karawitan Sanggar Seni Cakraningrat dari Rembang, pergelaran wayang dengan dalang Sigid Arianto itu membawakan lakon ‘’Wisanggeni Lahir’’. 

Warga yang hadir terlihat antusias menyimak jalan cerita lahirnya Wisanggeni yang diawali kecemburuan Dewasrani, putra Batari Durga terhadap Arjuna yang telah menikahi Batari Dresanala tersebut.

Direktur keuangan SG Ginarko Isnubroto dalam sambutannya menyampaikan, pementasan wayang kulit ini merupakan bagian dari nguri-nguri kebudayaan yang semakin hari semakin terkikis.

Baca Juga :  Diberi Pohon Tabebuya, Anggaran Telan Rp 233 Juta 

Diharapkan, dengan kegiatan ini seni tradisional wayang kulit bisa terus lestari.

‘’Saya melihat ada banyak anak yang ikut melihat. Ini merupakan momen yang sangat baik untuk mengenalkan kepada anak-anak.

Mengajak mereka untuk nguri-nguri kebudayaan yang luhur ini,’’ tuturnya memberikan apresiasi atas antusiasme masyarakat yang hadir bersama keluarga.

Artikel Terkait

Most Read

Tiap Hari Nabung di Celengan

MA Swasta Bersaing Mutu dengan MAN

Sekolah Tergenang, Siswa Dipulangkan

Bengkel Terbakar, Satu Orang Terluka 

Artikel Terbaru

Dari Dangdut ke Salawat

Mampu Berbuah Lebih Cepat

Anak Desa Harus Semangat Kuliah


/