alexametrics
32.7 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

9.57 Persen Balita Lamongan Stunting

LAMONGAN, Radar Lamongan – Angka stunting  di Lamongan masih 9,57 persen. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, meminta Pemkab Lamongan menurunkan lagi angka persentase tersebut.

“Tuntaskan tahun depan karena persentase Lamongan tidak terlalu tinggi,” ujarnya saat menghadiri Karya Bakti TNI AL dalam rangka renovasi RTLH di Lamongan kemarin (21/8). 

Menurut dia, masalah stunting menjadi persoalan global. Khofifah mengakui angka stunting Jatim sangat tinggi. Namun, dia tak menyebut angkanya. 

Menurut dia, target penurunan bukan hanya menjadi kewajiban petugas kesehatan. Pemicu stunting bukan hanya masalah gizi. Ada komponen pendidikan, UKM, rumah layak huni, serta mandi, cuci, dan kakus (MCK) sehat. 

Pencegahan stunting bisa dimulai dari tempat tinggal yang sehat. Serta memanfaatkan MCK berbasis rumah tangga, bukan komunal. “Ini (tempat tinggal) kerap diabaikan, padahal penting,” tutur gubernur perempuan tersebut. 

Baca Juga :  Identitas Mayat Mr X di Alun-Alun Diketahui

Kepala Dinas Kesehatan Lamongan, Taufik Hidayat, menuturkan, sesuai data bulan timbang pada Februari 2018, terdapat 10 ribu balita stunting di Lamongan. Agustus 2018, turun menjadi 6.623 balita. Februari tahun ini ditemukan 6.511 balita dari total 68 ribu balita. Pemeriksaan ini dilakukan sesuai periodik bulan timbang enam bulan sekali. “Penurunannya bertahap, karena kasus stunting melibatkan banyak stakeholder,” ujarnya. 

Berdasarkan data Riskesdas, Lamongan masuk sebelas besar resiko stunting.

LAMONGAN, Radar Lamongan – Angka stunting  di Lamongan masih 9,57 persen. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, meminta Pemkab Lamongan menurunkan lagi angka persentase tersebut.

“Tuntaskan tahun depan karena persentase Lamongan tidak terlalu tinggi,” ujarnya saat menghadiri Karya Bakti TNI AL dalam rangka renovasi RTLH di Lamongan kemarin (21/8). 

Menurut dia, masalah stunting menjadi persoalan global. Khofifah mengakui angka stunting Jatim sangat tinggi. Namun, dia tak menyebut angkanya. 

Menurut dia, target penurunan bukan hanya menjadi kewajiban petugas kesehatan. Pemicu stunting bukan hanya masalah gizi. Ada komponen pendidikan, UKM, rumah layak huni, serta mandi, cuci, dan kakus (MCK) sehat. 

Pencegahan stunting bisa dimulai dari tempat tinggal yang sehat. Serta memanfaatkan MCK berbasis rumah tangga, bukan komunal. “Ini (tempat tinggal) kerap diabaikan, padahal penting,” tutur gubernur perempuan tersebut. 

Baca Juga :  Satu Jalur Dibuka

Kepala Dinas Kesehatan Lamongan, Taufik Hidayat, menuturkan, sesuai data bulan timbang pada Februari 2018, terdapat 10 ribu balita stunting di Lamongan. Agustus 2018, turun menjadi 6.623 balita. Februari tahun ini ditemukan 6.511 balita dari total 68 ribu balita. Pemeriksaan ini dilakukan sesuai periodik bulan timbang enam bulan sekali. “Penurunannya bertahap, karena kasus stunting melibatkan banyak stakeholder,” ujarnya. 

Berdasarkan data Riskesdas, Lamongan masuk sebelas besar resiko stunting.

Artikel Terkait

Most Read

Band Pelajar jadi Aset Musik Masa Depan

Merasa Dibatalkan Sepihak

Artikel Terbaru


/