alexametrics
29.8 C
Bojonegoro
Sunday, August 14, 2022

Produsen Arak Oplosan Divonis Delapan Bulan

- Advertisement -

Radar  Lamongan – Tukul Wiguno, 63, beserta dua keponakannya M Azmi Ibrahim Sultoni, 23, dan Bambang Heri Subianto, 36, ketiganya warga Kecamatan Plumpang, Tuban, divonis masing – masing delapan bulan penjara di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Lamongan. Arak oplosan buatan mereka mengakibatkan empat orang tewas setelah pesta miras di Sekretariat LA Mania April lalu.

Namun, vonis majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) setempat yang terdiri atas Raden Ari Muladi, Agusty Hadi Widarto, dan Ery Acoka Bharata kemarin (21/7) itu lebih ringan dibandingkan tuntutan dari jaksa penuntut umum (JPU), setahun penjara.

‘’Hal yang meringankan, terdakwa menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulangi. Serta terdakwa bersikap sopan selama persidangan sehingga membantu proses pemeriksaan,’’ kata hakim.

Majelis hakim memberi kesempatan bagi para terdakwa untuk menanggapi vonis tersebut. Menerima, pikir-pikir selama tujuh hari, atau menyatakan banding. 

Namun, Adhimas Wahyu, penasihat hukum dari Posbakum yang mendampingi Tukul, Azmi, dan Bambang belum mengetahui pasti jawaban kliennya. ‘’Terdakwa hanya menjawab ya ya saja. Sidangnya via daring di polres dan PN. Suara dari PN tidak terlalu keras. Tapi kami sudah menjelaskan ke terdakwa maksudnya menerima, pikir-pikir, dan banding seperti apa. Soalnya sidang langsung ditutup, dilanjut sidangnya terdakwa Noer Hayati dan Tio (M Ragil Prasetya),’’ kata Adhimas.

Baca Juga :  Lamongan Zona Merah, Puskesmas Diusulkan Jadi RS Lapangan
- Advertisement -

Karena harus mendampingi Noer Hayati dan Tio, dia belum bisa menyimpulkan kemauan dari Tukul, Azmi, dan Bambang. 

Sementara itu, sidang beragendakan tuntutan bagi M Ragil Prasetya alias Tio, 35, asal Kelurahan Tumenggungan, Lamongan, dan istri sirinya Noer Hayati, 41, asal Desa Sukolilo, Kecamatan Sukodadi, yang bertindak sebagai penjual oplosan kembali ditunda. Sebab, JPU Dwi Dara Agustina dan Deti Rostini belum menyiapkan tuntutannya. Persidangan bagi pasutri tersebut dilanjutkan pekan depan.

Seperti diberitakan, Tukul mengaku baru empat bulan memroduksi miras jenis arak di rumahnya. Namun, dia tidak tahu bahwa miras racikannya mengandung methanol. Tukul mendapatkan bahan dan alat membuat arak dari seorang sales asal Jawa Tengah. Tukul tertarik karena keuntungan yang didapatkan tinggi. Dalam meracik arak, dia juga diajari oleh sales. Arak racikannya yang dibantu Azmi dan Bambang dikemas dalam botol plastik ukuran 1,5 liter dengan tutup warna merah. Dia menjual Rp 230 ribu per dus. 

Baca Juga :  Petani Keluhkan Pendampingan dari Dinas Pertanian

Salah satu jalur distribusinya ke Tio dan Noer Hayati. Oplosan itu kemudian dibeli dan digunakan pesta miras di sekretariat LA Mania. Akibat pesta miras tersebut, empat orang tewas. Korban tewas itu, Nanang Putra Setiawan, 27; Aji Risdianto alias Aris, 31; Resti, 30; dan Aples.

Tio dan istri sirinya diseret ke meja hijau. Barang bukti 115 botol miras ditemukan di belakang rumah salah satu kerabat Tio di wilayah Desa Made.

Tukul beserta dua keponakannya Azmi dan Bambang ikut terseret karena mereka produsennya. 

Radar  Lamongan – Tukul Wiguno, 63, beserta dua keponakannya M Azmi Ibrahim Sultoni, 23, dan Bambang Heri Subianto, 36, ketiganya warga Kecamatan Plumpang, Tuban, divonis masing – masing delapan bulan penjara di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Lamongan. Arak oplosan buatan mereka mengakibatkan empat orang tewas setelah pesta miras di Sekretariat LA Mania April lalu.

Namun, vonis majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) setempat yang terdiri atas Raden Ari Muladi, Agusty Hadi Widarto, dan Ery Acoka Bharata kemarin (21/7) itu lebih ringan dibandingkan tuntutan dari jaksa penuntut umum (JPU), setahun penjara.

‘’Hal yang meringankan, terdakwa menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulangi. Serta terdakwa bersikap sopan selama persidangan sehingga membantu proses pemeriksaan,’’ kata hakim.

Majelis hakim memberi kesempatan bagi para terdakwa untuk menanggapi vonis tersebut. Menerima, pikir-pikir selama tujuh hari, atau menyatakan banding. 

Namun, Adhimas Wahyu, penasihat hukum dari Posbakum yang mendampingi Tukul, Azmi, dan Bambang belum mengetahui pasti jawaban kliennya. ‘’Terdakwa hanya menjawab ya ya saja. Sidangnya via daring di polres dan PN. Suara dari PN tidak terlalu keras. Tapi kami sudah menjelaskan ke terdakwa maksudnya menerima, pikir-pikir, dan banding seperti apa. Soalnya sidang langsung ditutup, dilanjut sidangnya terdakwa Noer Hayati dan Tio (M Ragil Prasetya),’’ kata Adhimas.

Baca Juga :  Awasi Proyek Agar Tidak Molor
- Advertisement -

Karena harus mendampingi Noer Hayati dan Tio, dia belum bisa menyimpulkan kemauan dari Tukul, Azmi, dan Bambang. 

Sementara itu, sidang beragendakan tuntutan bagi M Ragil Prasetya alias Tio, 35, asal Kelurahan Tumenggungan, Lamongan, dan istri sirinya Noer Hayati, 41, asal Desa Sukolilo, Kecamatan Sukodadi, yang bertindak sebagai penjual oplosan kembali ditunda. Sebab, JPU Dwi Dara Agustina dan Deti Rostini belum menyiapkan tuntutannya. Persidangan bagi pasutri tersebut dilanjutkan pekan depan.

Seperti diberitakan, Tukul mengaku baru empat bulan memroduksi miras jenis arak di rumahnya. Namun, dia tidak tahu bahwa miras racikannya mengandung methanol. Tukul mendapatkan bahan dan alat membuat arak dari seorang sales asal Jawa Tengah. Tukul tertarik karena keuntungan yang didapatkan tinggi. Dalam meracik arak, dia juga diajari oleh sales. Arak racikannya yang dibantu Azmi dan Bambang dikemas dalam botol plastik ukuran 1,5 liter dengan tutup warna merah. Dia menjual Rp 230 ribu per dus. 

Baca Juga :  Proyek Drainase Jalan Turi - Sukodadi Ditarget Rampung Bulan Depan

Salah satu jalur distribusinya ke Tio dan Noer Hayati. Oplosan itu kemudian dibeli dan digunakan pesta miras di sekretariat LA Mania. Akibat pesta miras tersebut, empat orang tewas. Korban tewas itu, Nanang Putra Setiawan, 27; Aji Risdianto alias Aris, 31; Resti, 30; dan Aples.

Tio dan istri sirinya diseret ke meja hijau. Barang bukti 115 botol miras ditemukan di belakang rumah salah satu kerabat Tio di wilayah Desa Made.

Tukul beserta dua keponakannya Azmi dan Bambang ikut terseret karena mereka produsennya. 

Artikel Terkait

Most Read

Hutan Sekitar 5 Hektare Terbakar

Tertutup Kertas

Bekuk Tiga Tersangka asal Babat

Produsen Tahu dan UMKM Menjerit

Artikel Terbaru


/