alexametrics
23.6 C
Bojonegoro
Friday, May 27, 2022

Menatap Revolusi Industri 4.0 Bidang Kesehatan

UPAYA itu tersirat dalam kuliah umum Public Lecture bertema Preparing Nurses to Face The Industrial Revolution 4.0 yang digelar STIKes NU Tuban di Pendapa Krido Manunggal, Kamis (18/7) lalu. Prof. Dr. Mohammad Raili Bin Suhaili, dosen SEGi University Kuala Lumpur Malaysia memberikan suntikan ilmu kepada seluruh mahasiswa kesehatan dari Tuban, Bojonegoro, Lamongan, dan tamu undangan.

Ketua Stikes NU Dr. H. Miftahul Munir, S.KM., M. KES, DIE dan Wabup Ir. H. Noor Nahar Hussein, M.Si sekaligus sebagai Ketua Senat Stikes NU hadir secara langsung. Begitu juga Sekretaris Dinas Kesehatan  Hj. Endah Nurul Kumarijati, ST, M.Kes dan tamu undangan. 

Noor Nahar dalam sambutannya menyampaikan, revolusi industri 4.0 menjadi tantangan seluruh masyarakat luas. Salah satunya di bidang kesehatan yang banyak terlahir teknologi canggih digunakan untuk medis. ’’Saat ini banyak sekali dikembangkan alat medis dengan tingkat akurasi tinggi untuk diagnosis suatu penyakit,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Produksinya di Rumah Kos, Sudah Terjual 250 Biji

Oleh karena itu, tenaga medis dituntut beradaptasi dengan pesatnya perkembangan teknologi di bidang medis. Maka perlu adanya sumberdaya manusia yang ahli dan mampu mengikuti perkembangan teknologi terbaru yang semakin canggih.

Sementara, Mohammad Raili menyampaikan tentang tren dan isu keperawatan era revolusi industri 4.0. Menurut dia, dalam revolusi kali ini semua serba instan dan mudah. Semua serba teknologi, mesin, dan robot. Termasuk dalam hal dunia perawatan. Salah satu dampak negatif dari revolusi industri 4.0 ini nantinya sekitar 800 juta pekerja akan digantikan oleh robot pada tahun 2030. Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap caring keperawatan. Oleh karena itu, dia berharap para mahasiswa supaya jangan sampai tergerus oleh revolusi industri 4.0 yang semua serba mudah.

Baca Juga :  Kapolres Minta Pemasok Arak Dikejar

‘’Semua tergantung dengan How we live, How we communicate, How we work, dan How we entertain ourselves. Tetap dengan pedoman Machine can’t replace the human,’’ tuturnya.

Ketua Stikes NU Tuban, Dr. H. Miftahul Munir, S.KM., M. KES, DIE menegaskan STIKes NU Tuban telah menjalin kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi dan institusi medis baik nasional maupun internasional. Bahkan lulusan institut kesehatan terbesar di Kota Tuban tersebut sudah banyak terjun di berbagai institusi medis di Indonesia. Selain itu, lulusan STIKes NU juga telah banyak belajar di luar negeri guna meningkatkan kualitas dan daya saing. ‘’Saat ini kampus ini telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan enam perguruan tinggi internasional,’’ tegasnya. (rif)

UPAYA itu tersirat dalam kuliah umum Public Lecture bertema Preparing Nurses to Face The Industrial Revolution 4.0 yang digelar STIKes NU Tuban di Pendapa Krido Manunggal, Kamis (18/7) lalu. Prof. Dr. Mohammad Raili Bin Suhaili, dosen SEGi University Kuala Lumpur Malaysia memberikan suntikan ilmu kepada seluruh mahasiswa kesehatan dari Tuban, Bojonegoro, Lamongan, dan tamu undangan.

Ketua Stikes NU Dr. H. Miftahul Munir, S.KM., M. KES, DIE dan Wabup Ir. H. Noor Nahar Hussein, M.Si sekaligus sebagai Ketua Senat Stikes NU hadir secara langsung. Begitu juga Sekretaris Dinas Kesehatan  Hj. Endah Nurul Kumarijati, ST, M.Kes dan tamu undangan. 

Noor Nahar dalam sambutannya menyampaikan, revolusi industri 4.0 menjadi tantangan seluruh masyarakat luas. Salah satunya di bidang kesehatan yang banyak terlahir teknologi canggih digunakan untuk medis. ’’Saat ini banyak sekali dikembangkan alat medis dengan tingkat akurasi tinggi untuk diagnosis suatu penyakit,’’ ujarnya.

Baca Juga :  HUT ke-27 PT KIG, KHOTMIL QURAN DAN DOA BERSAMA ANAK YATIM

Oleh karena itu, tenaga medis dituntut beradaptasi dengan pesatnya perkembangan teknologi di bidang medis. Maka perlu adanya sumberdaya manusia yang ahli dan mampu mengikuti perkembangan teknologi terbaru yang semakin canggih.

Sementara, Mohammad Raili menyampaikan tentang tren dan isu keperawatan era revolusi industri 4.0. Menurut dia, dalam revolusi kali ini semua serba instan dan mudah. Semua serba teknologi, mesin, dan robot. Termasuk dalam hal dunia perawatan. Salah satu dampak negatif dari revolusi industri 4.0 ini nantinya sekitar 800 juta pekerja akan digantikan oleh robot pada tahun 2030. Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap caring keperawatan. Oleh karena itu, dia berharap para mahasiswa supaya jangan sampai tergerus oleh revolusi industri 4.0 yang semua serba mudah.

Baca Juga :  Komitmen Cetak Lulusan Berkualitas dan Berdaya Saing Internasional

‘’Semua tergantung dengan How we live, How we communicate, How we work, dan How we entertain ourselves. Tetap dengan pedoman Machine can’t replace the human,’’ tuturnya.

Ketua Stikes NU Tuban, Dr. H. Miftahul Munir, S.KM., M. KES, DIE menegaskan STIKes NU Tuban telah menjalin kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi dan institusi medis baik nasional maupun internasional. Bahkan lulusan institut kesehatan terbesar di Kota Tuban tersebut sudah banyak terjun di berbagai institusi medis di Indonesia. Selain itu, lulusan STIKes NU juga telah banyak belajar di luar negeri guna meningkatkan kualitas dan daya saing. ‘’Saat ini kampus ini telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan enam perguruan tinggi internasional,’’ tegasnya. (rif)

Artikel Terkait

Most Read

Empat Jam, Dua Tewas Kecelakaan

Akhirnya Menyerah, Pilih Bayar Izin

Dilema Wacana Penghapusan Minyak Curah

Artikel Terbaru


/