alexametrics
23.7 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Awalnya Pengepul, Kini Memilih Produksi Sendiri

JATUH bangun merintis usaha dijalani Abdul Kamid. Modal minim tidak menjadi hambatan buatnya memulai usaha pembuatan tas ransel.

Belasan tas ransel berjajar rapi di ruang tamu rumah Abdul Kamid. Warnanya beragam. Mulai merah hingga biru. Tas-tas itu akan dijual ke salah satu pemesan. ’’Kebetulan saat ini saya memang ada pesanan. Alhamdulillah mulai lancar,’’ katanya kepada  Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Kamid sudah cukup lama menggeluti usaha tas ini. Sekitar tujuh tahun lalu. Namun, kala itu dia belum produksi sendiri. Masih menjadi pengepul tas dari salah satu produsen. ’’Sampai saat ini saya juga masih dipercaya menjadi pengepul. Namun, sudah mulai produksi sendiri,’’ terangnya.

Tujuh tahun menjadi pengepul tas, perekonomian Kamid tidak mengalami perubahan. Masih berjalan begitu-begitu saja. Tidak mengalami perubahan. ’’Tapi tetap saya syukuri. Alhamdulillah cukup buat makan,’’ ujarnya dengan ramah.

Baca Juga :  3.905 Guru SMA SMK Menanti Vaksinasi

Namun, lanjut dia, kala itu dia harus banyak menahan diri. Sebab, mau beli apapun harus berpikir ulang. Penghasilannya minim sekali. Apalagi saat anak keduanya lahir. Dia semakin cemas dengan berbagai kebutuhan yang menantinya.

Kemudian, dia berdiskusi dengan istrinya membuat usaha tas. Dari menjadi pengepul naik menjadi produsen. Dia harus memproduksi sendiri tas yang akan dijualnya. ’’Saya mulai memikirkan bagaimana mendapatkan modal banyak,’’ jelasnya.

Dia hanya memiliki uang Rp 3 juta. Dana itu dia rasa tidak cukup untuk modal produksi tas. Akhirnya dia menjual kambing. Satu ekor. Namun, kambing itu laku Rp 800.000. ’’Saya bilang ke istri. Modal segini saya tidak apa-apa. Daripada kita utang,’’ ujarnya kepada istrinya saat itu.

Dengan modal minim, akhirnya banyak pekerjaan yang seharusnya dikerjakan dua orang, dia lakukan sendiri. Misalnya memotong kain, bahkan belanja kain harus dia lakukan sendiri.

’’Saya dulu belajarnya sama pak lek (paman). Kebetulan paman dulu bekerja di sebuah perusahaan tas,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Jual Gorengan di Kelas

Setelah berjibaku proses pembuatan tas, akhirnya dia berhasil menyelesaikannya. Namun, tidak selesai sampai di situ. Kamid harus memutar otak lagi. Memasarkan produknya.

Dia memasarkannya ke sejumlah instansi di Bojonegoro dan Kecamatan Cepu, Blora. Juga ke perusahaan-perusahaan swasta. ’’Saya keliling-keliling. Kadang dapat uang, kadang juga tidak,’’ jelasnya.

Omzet per bulannya tidak pasti. Kadang bisa sampai Rp 6 juta, kadang lebih. Tergantung jumlah pesanan yang didapatkan. Saat ini, Kamid tidak banyak memproduksi. Dia memproduksi banyak hanya saat ada pesanan saja. ’’Untuk harga tergantung anggarannya,’’ jelasnya.

Kamid hanya tamatan SD. Namun, dia tidak menyerah dengan keadaannya itu. Justru hanya tamatan SD, dia harus mengasah keterampilan. ’’Kalau saya tidak memiliki keterampilan bagaimana. Saya hanya lulusan SD,’’ jelas pria kelahiran 1988 itu.

Menurut dia, siapa pun orangnya asalkan bekerja keras pasti akan berhasil. Meskipun hanya tamatan SD.

JATUH bangun merintis usaha dijalani Abdul Kamid. Modal minim tidak menjadi hambatan buatnya memulai usaha pembuatan tas ransel.

Belasan tas ransel berjajar rapi di ruang tamu rumah Abdul Kamid. Warnanya beragam. Mulai merah hingga biru. Tas-tas itu akan dijual ke salah satu pemesan. ’’Kebetulan saat ini saya memang ada pesanan. Alhamdulillah mulai lancar,’’ katanya kepada  Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Kamid sudah cukup lama menggeluti usaha tas ini. Sekitar tujuh tahun lalu. Namun, kala itu dia belum produksi sendiri. Masih menjadi pengepul tas dari salah satu produsen. ’’Sampai saat ini saya juga masih dipercaya menjadi pengepul. Namun, sudah mulai produksi sendiri,’’ terangnya.

Tujuh tahun menjadi pengepul tas, perekonomian Kamid tidak mengalami perubahan. Masih berjalan begitu-begitu saja. Tidak mengalami perubahan. ’’Tapi tetap saya syukuri. Alhamdulillah cukup buat makan,’’ ujarnya dengan ramah.

Baca Juga :  Manfaatkan Kulit Pohon Mahoni dan Daun Sawo untuk Warna Rendaman Batik

Namun, lanjut dia, kala itu dia harus banyak menahan diri. Sebab, mau beli apapun harus berpikir ulang. Penghasilannya minim sekali. Apalagi saat anak keduanya lahir. Dia semakin cemas dengan berbagai kebutuhan yang menantinya.

Kemudian, dia berdiskusi dengan istrinya membuat usaha tas. Dari menjadi pengepul naik menjadi produsen. Dia harus memproduksi sendiri tas yang akan dijualnya. ’’Saya mulai memikirkan bagaimana mendapatkan modal banyak,’’ jelasnya.

Dia hanya memiliki uang Rp 3 juta. Dana itu dia rasa tidak cukup untuk modal produksi tas. Akhirnya dia menjual kambing. Satu ekor. Namun, kambing itu laku Rp 800.000. ’’Saya bilang ke istri. Modal segini saya tidak apa-apa. Daripada kita utang,’’ ujarnya kepada istrinya saat itu.

Dengan modal minim, akhirnya banyak pekerjaan yang seharusnya dikerjakan dua orang, dia lakukan sendiri. Misalnya memotong kain, bahkan belanja kain harus dia lakukan sendiri.

’’Saya dulu belajarnya sama pak lek (paman). Kebetulan paman dulu bekerja di sebuah perusahaan tas,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Jembatan Tanjungharjo Mulai Digarap

Setelah berjibaku proses pembuatan tas, akhirnya dia berhasil menyelesaikannya. Namun, tidak selesai sampai di situ. Kamid harus memutar otak lagi. Memasarkan produknya.

Dia memasarkannya ke sejumlah instansi di Bojonegoro dan Kecamatan Cepu, Blora. Juga ke perusahaan-perusahaan swasta. ’’Saya keliling-keliling. Kadang dapat uang, kadang juga tidak,’’ jelasnya.

Omzet per bulannya tidak pasti. Kadang bisa sampai Rp 6 juta, kadang lebih. Tergantung jumlah pesanan yang didapatkan. Saat ini, Kamid tidak banyak memproduksi. Dia memproduksi banyak hanya saat ada pesanan saja. ’’Untuk harga tergantung anggarannya,’’ jelasnya.

Kamid hanya tamatan SD. Namun, dia tidak menyerah dengan keadaannya itu. Justru hanya tamatan SD, dia harus mengasah keterampilan. ’’Kalau saya tidak memiliki keterampilan bagaimana. Saya hanya lulusan SD,’’ jelas pria kelahiran 1988 itu.

Menurut dia, siapa pun orangnya asalkan bekerja keras pasti akan berhasil. Meskipun hanya tamatan SD.

Artikel Terkait

Most Read

Pejuang di Masa Pandemi

 Hanya Aktif di Sembilan Kecamatan

Artikel Terbaru


/