alexametrics
24.5 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Mengajar di Negeri Jiran

SHE – Eka Hesti Wulandari punya pengalaman seru yang bisa dibagikan kepada pembaca yakni mengajar selama sebulan di Malaysia. Mahasiswi jurusan matematika IKIP PGRI Bojonegoro itu ikut program international teaching practicum (ITP) bersama dengan satu temannya. Salah satu hal yang paling susah bagi dia tentu dari segi bahasa. “Kalau bahasa di sana bahasa Melayu dan bahasa nomor duanya bahasa Inggris,” ujar gadis asal Desa Sumbertlaseh Kecamatan Dander itu.

Di Negeri Jiran itu, dia mengajar form 2 (kalau di sini SMP kelas 2), sedangkan untuk kualitas mutunya pendidikannya hampir mirip, karena sama2 pakai kurikulum student centered (berpusat pada siswa, kalau di Indonesia seperti kurikulum 2013), selain itu, di sana juga full day juga. “Nah kalau untuk semua siswanya sangat menyenangkan, friendly. Mereka juga suka salam dan menyapa kalau bertemu di mana aja, cikgu cikgu, hehe,” katanya.

Baca Juga :  Bu Anna dan Wabup Blora Blusukan di Bendungan Karangnongko

Mereka pun suka tanya-tanya tentang budaya Indonesia, seperti film, artis, sekaligus tempat wisata Indonesia dari melihat Instagram-nya. “Katanya juga nyaman diajar sama saya sih, mungkin karena saya cikgu termuda di sana. Usia saya masih 22 tahun. jadi kayak kakak mereka sih ya,” ujarnya.Pokoknya pengalaman yang sangat luar biasa banget di sana bagi Eka. Bertemu dengan manusia yang ‘asing’ dari cara bicaranya. “Bahkan mereka lebih suka saya bicara bahasa indonesia. Soalnya mereka pengin bisa bahasa Indonesia,” tutur gadis yang juga berprofesi sebagai penyiar Radio Puspa Jaya Fm Bojonegoro itu.

Dia sendiri juga belajar bahasa Melayu. Pelajaran matematika di sana buku panduannya Bahasa Melayu, jadi butuh membuka Google Translate dari bahasa Melayu ke bahasa Inggris, atau pun dari bahasa Melayu ke Indonesia, dan dari Indonesia ke Melayu. “Pokoknya ke mana-mana bawa laptop,” pungkasnya.

Baca Juga :  Waspada, Berpotensi Hujan Lebat hingga 21 Maret

SHE – Eka Hesti Wulandari punya pengalaman seru yang bisa dibagikan kepada pembaca yakni mengajar selama sebulan di Malaysia. Mahasiswi jurusan matematika IKIP PGRI Bojonegoro itu ikut program international teaching practicum (ITP) bersama dengan satu temannya. Salah satu hal yang paling susah bagi dia tentu dari segi bahasa. “Kalau bahasa di sana bahasa Melayu dan bahasa nomor duanya bahasa Inggris,” ujar gadis asal Desa Sumbertlaseh Kecamatan Dander itu.

Di Negeri Jiran itu, dia mengajar form 2 (kalau di sini SMP kelas 2), sedangkan untuk kualitas mutunya pendidikannya hampir mirip, karena sama2 pakai kurikulum student centered (berpusat pada siswa, kalau di Indonesia seperti kurikulum 2013), selain itu, di sana juga full day juga. “Nah kalau untuk semua siswanya sangat menyenangkan, friendly. Mereka juga suka salam dan menyapa kalau bertemu di mana aja, cikgu cikgu, hehe,” katanya.

Baca Juga :  Dander Kota Baru Menggelinding

Mereka pun suka tanya-tanya tentang budaya Indonesia, seperti film, artis, sekaligus tempat wisata Indonesia dari melihat Instagram-nya. “Katanya juga nyaman diajar sama saya sih, mungkin karena saya cikgu termuda di sana. Usia saya masih 22 tahun. jadi kayak kakak mereka sih ya,” ujarnya.Pokoknya pengalaman yang sangat luar biasa banget di sana bagi Eka. Bertemu dengan manusia yang ‘asing’ dari cara bicaranya. “Bahkan mereka lebih suka saya bicara bahasa indonesia. Soalnya mereka pengin bisa bahasa Indonesia,” tutur gadis yang juga berprofesi sebagai penyiar Radio Puspa Jaya Fm Bojonegoro itu.

Dia sendiri juga belajar bahasa Melayu. Pelajaran matematika di sana buku panduannya Bahasa Melayu, jadi butuh membuka Google Translate dari bahasa Melayu ke bahasa Inggris, atau pun dari bahasa Melayu ke Indonesia, dan dari Indonesia ke Melayu. “Pokoknya ke mana-mana bawa laptop,” pungkasnya.

Baca Juga :  PPKM, Agrowisata Kebun Belimbing Hanya Melayani Penjualan Buah

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/