alexametrics
27.2 C
Bojonegoro
Friday, May 27, 2022

Tahun Lalu Tenar, Tahun Ini Tren Turun

KOTA – Beberapa desa wisata yang tenar tahun lalu, trennya tahun ini mulai turun. Karena objek yang ditawarkan destinasi wisata tersebut hanya spot untuk berswafoto para pengunjung. Misalnya, desa wisata Bukit Tono di Desa Sambongrejo, Kecamatan Gondang, dan Negeri Atas Angin di Kecamatan Sekar, butuh inovasi dari para pengelolanya.

“Karena keutamaan sebuah desa wisata ialah atraksi, amenitas, aksesbilitas, dan tingkat kunjungan. Satu hal lain tak kalah penting ialah produk dijual,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro Amir Syahid. Meski kini sudah ada Asosiasi Desa Wisata (Asidewi) Bojonegoro, namun disbudpar belum memiliki standardisasi acuan destinasi bisa disebut desa wisata.

Baca Juga :  Jalan Plembon-Sugio Digelontor Anggaran Perbaikan

Disbudpar berencana membuat peraturannya dulu. “Jadi kami tekankan untuk meningkatkan kualitasnya dulu, sehingga tidak semua destinasi bisa disebut desa wisata. Perlu ada kajian terlebih dahulu sebelum penetapan desa wisata,” ucapnya. Berdasarkan datanya, baru ada 14 desa wisata di Bojonegoro memiliki tingkat kunjungan secara konsisten.

Menurut Amir, upaya meningkatkan tingkat kunjungan, tiap desa harus punya produk kuat. Apabila hanya menawarkan satu objek, wisatawan tentu cepat bosan. “Cara paling mudah ialah di sekitar objek wisata dibuat agrowisata, sehingga wisatawan bisa juga ikut mencicipi buah hasil dari desa wisata,” tuturnya.

Saran tersebut mulai dilaksanakan pengelola Wisata Atas Angin, Krondonan, dan Bukit Tono. Rencananya sekitar objek wisata ditanami durian atau kelengkeng. “Biar pengelola sekaligus kepala desa paham bahwa desa wisata mampu memperbaiki perekonomian masyarakat sekitar,” ucapnya. 

Baca Juga :  Berkomitmen Kembangkan Wisata Desa Edukasi Pertanian

KOTA – Beberapa desa wisata yang tenar tahun lalu, trennya tahun ini mulai turun. Karena objek yang ditawarkan destinasi wisata tersebut hanya spot untuk berswafoto para pengunjung. Misalnya, desa wisata Bukit Tono di Desa Sambongrejo, Kecamatan Gondang, dan Negeri Atas Angin di Kecamatan Sekar, butuh inovasi dari para pengelolanya.

“Karena keutamaan sebuah desa wisata ialah atraksi, amenitas, aksesbilitas, dan tingkat kunjungan. Satu hal lain tak kalah penting ialah produk dijual,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro Amir Syahid. Meski kini sudah ada Asosiasi Desa Wisata (Asidewi) Bojonegoro, namun disbudpar belum memiliki standardisasi acuan destinasi bisa disebut desa wisata.

Baca Juga :  Jelang Lebaran, Intensifkan Tera SPBU

Disbudpar berencana membuat peraturannya dulu. “Jadi kami tekankan untuk meningkatkan kualitasnya dulu, sehingga tidak semua destinasi bisa disebut desa wisata. Perlu ada kajian terlebih dahulu sebelum penetapan desa wisata,” ucapnya. Berdasarkan datanya, baru ada 14 desa wisata di Bojonegoro memiliki tingkat kunjungan secara konsisten.

Menurut Amir, upaya meningkatkan tingkat kunjungan, tiap desa harus punya produk kuat. Apabila hanya menawarkan satu objek, wisatawan tentu cepat bosan. “Cara paling mudah ialah di sekitar objek wisata dibuat agrowisata, sehingga wisatawan bisa juga ikut mencicipi buah hasil dari desa wisata,” tuturnya.

Saran tersebut mulai dilaksanakan pengelola Wisata Atas Angin, Krondonan, dan Bukit Tono. Rencananya sekitar objek wisata ditanami durian atau kelengkeng. “Biar pengelola sekaligus kepala desa paham bahwa desa wisata mampu memperbaiki perekonomian masyarakat sekitar,” ucapnya. 

Baca Juga :  Kental dengan Kebudayaan Mataraman

Artikel Terkait

Most Read

Pelototi Rekam Jejak Pejabat

Ibu Lima Anak Produksi Miras 

Artikel Terbaru


/