alexametrics
28.4 C
Bojonegoro
Thursday, May 26, 2022

Pesona Kerajinan Akar Jati di Kecamatan Margomulyo

Sekali Kirim ke Luar Negeri Habiskan Biaya Rp 400 Juta

Pandemi menjadi tantangan sentra perajin kerajinan kayu jati di Kecamatan Margomulyo. Daya beli dari luar negeri menurun. Kini, asa perajin pulih memproduksi lagi setelah pandemi mulai mereda.

 

M. IRVAN RAMADHAN, Radar Bojonegoro

 

DEBU dan kusam menyelimuti beberapa akar jati terpajang di sepanjang Jalan Padangan-Ngawi, tepatnya di Desa Geneng, Kecamatan Margomulyo. Akar jati tersebut seperti sudah tak terawat dan dibiarkan begitu saja tergeletak.

Selain akar jati belum diolah tampak kusam, meja hingga patung dari akar jati juga seperti sudah lama dibiarkan. Bahkan salah satu rumah, rumput sudah tumbuh tinggi menutupi akar jati. Akar jati dibiarkan begitu saja karena pandemi membuat pesanan kerajinan akar jati menurun. Beberapa perajin, khususnya berskala kecil memilih tidak memproduksi.

 

Agus salah satu perajin akar jati mengatakan, pandemi korona berpengaruh besar pada kerajinan akar jati di Desa Geneng. Jumlah permintaan menurun. “Banyak kerajinan sudah jadi tidak laku,” ungkapnya.

Baca Juga :  10 Korban Tenggelam Selama 5 Bulan Didominasi Anak-Anak

 

Menurut Agus, terdapat beberapa perajin tidak memproduksi karena tidak ada pesanan. Khususnya perajin dengan skala kecil dan tidak memiliki banyak jaringan penjualan. Hanya perajin memiliki banyak jaringan mampu bertahan.

 

Bendahara Paguyuban Perajin Akar Jati itu menjelaskan, hampir selama tiga tahun sepi pembeli. Tidak ada pembeli datang langsung ke tempat produksi di Desa Geneng. Padahal, biasanya pembeli dari luar negeri intens berkunjung di kawasan sentra kerajinan akar jati Kecamatan Margomulyo.

 

Para perajin kini mengandalkan pembelian secara online. Terutama pembeli sudah langganan. Sehingga hanya perlu memesan melalui telepon. Bahkan tidak bisa hanya mengandalkan satu pembeli saja. Risiko batal dan kerajinan tidak terjual. Sehingga perlu memiliki beberapa calon pembeli.

 

Agus mengeluh harga kerajinan akar jati kini tidak bisa dipatok mahal. Terkendala biaya pengiriman tinggi. Sehingga jika harga kerajinan juga tinggi pembeli akan keberatan. Dulu pengiriman menggunakan kontainer hanya Rp 60 juta, namun kini mencapai Rp 400 juta. “Meja akar jati hanya berkisar Rp 1,2 juta,” jelasnya.

Baca Juga :  Puskesmas Gondang dan 386 Rumah Tergenang Banjir

 

Agus mengaku kini hanya memiliki sekitar 3 pembeli tetap. Berasal dari Polandia, Belanda, dan Amerika. “Terdapat pembeli sudah memesan namun tidak ada kelanjutan, padahal sudah ada DP sekitar Rp 40 juta,” jelasnya.

 

Sementara itu, Ketua Paguyuban Perajin Akar Jati Ali menjelaskan, pandemi korona membuat produksi kerajinan akar jati sempat lumpuh. Namun, kini mulai hidup kembali, meski penurunan dari sebelum pandemi korona masih mencapai 70 persen. “Mulai merintis lagi,” jelasnya.

 

Ali menjelaskan pembeli hanya berasal dari dalam negeri. Berbeda sebelum pandemi korona banyak berasal luar negeri. Pembeli sebatas wilayah Jepara, Jogjakarta, dan Tuban. “Pembeli dari Bali baru akhir-akhir ini,” ujarnya. (*/rij)

Pandemi menjadi tantangan sentra perajin kerajinan kayu jati di Kecamatan Margomulyo. Daya beli dari luar negeri menurun. Kini, asa perajin pulih memproduksi lagi setelah pandemi mulai mereda.

 

M. IRVAN RAMADHAN, Radar Bojonegoro

 

DEBU dan kusam menyelimuti beberapa akar jati terpajang di sepanjang Jalan Padangan-Ngawi, tepatnya di Desa Geneng, Kecamatan Margomulyo. Akar jati tersebut seperti sudah tak terawat dan dibiarkan begitu saja tergeletak.

Selain akar jati belum diolah tampak kusam, meja hingga patung dari akar jati juga seperti sudah lama dibiarkan. Bahkan salah satu rumah, rumput sudah tumbuh tinggi menutupi akar jati. Akar jati dibiarkan begitu saja karena pandemi membuat pesanan kerajinan akar jati menurun. Beberapa perajin, khususnya berskala kecil memilih tidak memproduksi.

 

Agus salah satu perajin akar jati mengatakan, pandemi korona berpengaruh besar pada kerajinan akar jati di Desa Geneng. Jumlah permintaan menurun. “Banyak kerajinan sudah jadi tidak laku,” ungkapnya.

Baca Juga :  Calon Pengantin Wajib Konseling Tes HIV

 

Menurut Agus, terdapat beberapa perajin tidak memproduksi karena tidak ada pesanan. Khususnya perajin dengan skala kecil dan tidak memiliki banyak jaringan penjualan. Hanya perajin memiliki banyak jaringan mampu bertahan.

 

Bendahara Paguyuban Perajin Akar Jati itu menjelaskan, hampir selama tiga tahun sepi pembeli. Tidak ada pembeli datang langsung ke tempat produksi di Desa Geneng. Padahal, biasanya pembeli dari luar negeri intens berkunjung di kawasan sentra kerajinan akar jati Kecamatan Margomulyo.

 

Para perajin kini mengandalkan pembelian secara online. Terutama pembeli sudah langganan. Sehingga hanya perlu memesan melalui telepon. Bahkan tidak bisa hanya mengandalkan satu pembeli saja. Risiko batal dan kerajinan tidak terjual. Sehingga perlu memiliki beberapa calon pembeli.

 

Agus mengeluh harga kerajinan akar jati kini tidak bisa dipatok mahal. Terkendala biaya pengiriman tinggi. Sehingga jika harga kerajinan juga tinggi pembeli akan keberatan. Dulu pengiriman menggunakan kontainer hanya Rp 60 juta, namun kini mencapai Rp 400 juta. “Meja akar jati hanya berkisar Rp 1,2 juta,” jelasnya.

Baca Juga :  Suka Kegiatan Sosial

 

Agus mengaku kini hanya memiliki sekitar 3 pembeli tetap. Berasal dari Polandia, Belanda, dan Amerika. “Terdapat pembeli sudah memesan namun tidak ada kelanjutan, padahal sudah ada DP sekitar Rp 40 juta,” jelasnya.

 

Sementara itu, Ketua Paguyuban Perajin Akar Jati Ali menjelaskan, pandemi korona membuat produksi kerajinan akar jati sempat lumpuh. Namun, kini mulai hidup kembali, meski penurunan dari sebelum pandemi korona masih mencapai 70 persen. “Mulai merintis lagi,” jelasnya.

 

Ali menjelaskan pembeli hanya berasal dari dalam negeri. Berbeda sebelum pandemi korona banyak berasal luar negeri. Pembeli sebatas wilayah Jepara, Jogjakarta, dan Tuban. “Pembeli dari Bali baru akhir-akhir ini,” ujarnya. (*/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/