alexametrics
29.6 C
Bojonegoro
Sunday, May 22, 2022

Hujan Bikin Petani Melon Ini Sedih

LAMONGAN – Petani melon di Desa Turi Banjaran, Kecamatan Maduran terancam gagal panen. Penyebabnya, hujan cukup tinggi minggu ini membuat areal lahan melon berusia sekitar 35 hari banyak yang mengalami kerusakan karena terendam.

”Sudah seminggu ini terendam air,” tutur petani melon setempat, Benu Nuharto, kepada Jawa Pos Radar Lamongan, Kamis (21/3). 

Menurut dia, rendaman air membuat biaya perawatan membengkak. Sudah tujuh hari ini harus mengeluarkan biaya untuk menyedot air keluar dari sawah. Itu dilakukan agar buah yang belum rusak bisa diselamatkan dari kerusakan. ”Sehari mengeluarkan biaya Rp 50 Ribu untuk membeli bahan bakar pompa disel,” ungkapnya. 

Baca Juga :  Desak Aparat Tegas Tangani Pencemaran Bengawan Solo

Dia mengungkapkan, di areal sawahnya seluas 30 x 50 meter (m) terdapat 2 Ribu bibit tanaman melon. Kurang sebulan lagi sebenarnya sudah dipanen. Namun kondisi ini membuatnya tak bisa berharap banyak. Balik modal saja dirasa sudah cukup bagus. ”Kira-kira ya 20 hari lagi panen,” katanya. 

Benu belum merinci secara detil berapa jumlah melon miliknya yang rusak. Namun, bapak dua anak tersebut mengamati ada lebih dari seratus buah melon yang mengalami kerusakan. ”Yang penting bagaimana mengantisipasi kerusakannya tidak bertambah banyak,” ujarnya. 

Petani berencana mengikat buah ke atas. Hal itu dilakukan sebagai antisipasi jika rendaman makin tinggi. Kini rendaman air sudah mencapai selutut orang dewasa. ”Semoga saja masih banyak buah yang selamat,” tukasnya. 

Baca Juga :  Wisuda UMM Tetap Diselenggarakan Luring

Benu mengatakan, rendaman air juga menimbulkan virus terhadap tanaman melon. Sehingga dirinya harus merogoh biaya perawatan lebih untuk menangkal penyakit Melon di musim hujan tersebut. ”Selain berpikir mengantisipasi rendaman juga mencegah penyakitnya,” kata dia.

LAMONGAN – Petani melon di Desa Turi Banjaran, Kecamatan Maduran terancam gagal panen. Penyebabnya, hujan cukup tinggi minggu ini membuat areal lahan melon berusia sekitar 35 hari banyak yang mengalami kerusakan karena terendam.

”Sudah seminggu ini terendam air,” tutur petani melon setempat, Benu Nuharto, kepada Jawa Pos Radar Lamongan, Kamis (21/3). 

Menurut dia, rendaman air membuat biaya perawatan membengkak. Sudah tujuh hari ini harus mengeluarkan biaya untuk menyedot air keluar dari sawah. Itu dilakukan agar buah yang belum rusak bisa diselamatkan dari kerusakan. ”Sehari mengeluarkan biaya Rp 50 Ribu untuk membeli bahan bakar pompa disel,” ungkapnya. 

Baca Juga :  Selesaikan Satu Lajur Jalan

Dia mengungkapkan, di areal sawahnya seluas 30 x 50 meter (m) terdapat 2 Ribu bibit tanaman melon. Kurang sebulan lagi sebenarnya sudah dipanen. Namun kondisi ini membuatnya tak bisa berharap banyak. Balik modal saja dirasa sudah cukup bagus. ”Kira-kira ya 20 hari lagi panen,” katanya. 

Benu belum merinci secara detil berapa jumlah melon miliknya yang rusak. Namun, bapak dua anak tersebut mengamati ada lebih dari seratus buah melon yang mengalami kerusakan. ”Yang penting bagaimana mengantisipasi kerusakannya tidak bertambah banyak,” ujarnya. 

Petani berencana mengikat buah ke atas. Hal itu dilakukan sebagai antisipasi jika rendaman makin tinggi. Kini rendaman air sudah mencapai selutut orang dewasa. ”Semoga saja masih banyak buah yang selamat,” tukasnya. 

Baca Juga :  Baru Terpenuhi 79 Persen Kebutuhan Air

Benu mengatakan, rendaman air juga menimbulkan virus terhadap tanaman melon. Sehingga dirinya harus merogoh biaya perawatan lebih untuk menangkal penyakit Melon di musim hujan tersebut. ”Selain berpikir mengantisipasi rendaman juga mencegah penyakitnya,” kata dia.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/