alexametrics
29.2 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Tarif Naik, Air Kerap Mampet. Ini Kata Warga

BOJONEGORO – Penyesuaian tarif air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) segera diterapkan. Rencananya, tarif baru tersebut akan berlaku mulai Maret mendatang.

Pelaksana Jabatan Direktur PDAM Bojonegoro Dahlia Erly Yanti mengatakan, penyesuaian tarif dilakukan karena beberapa faktor. Pertama, adalah naiknya tarif dasar listrik dan kenaikan harga barang.

Karena itu, PDAM harus melakukan penyesuaian supaya tidak mengalami kerugian. ”PDAM ini dituntut untuk menghasilkan profit dan juga sosial,” ungkap dia kemarin.

Kenaikan tarif dasar tersebut bukan hanya terjadi di Bojonegoro. Namun, juga terjadi di seluruh Indonesia. Sebab, ada instruksi dari pemerintah pusat untuk menyesuaikan tarif dasar tersebut. ”Kami ini termasuk yang terakhir menerapkan kenaikan itu,” jelasnya.

Dahlia menjelaskan, ada beberapa perbedaan antara tarif saat ini dan tarif sebelumnya. Pada tarif sebelumnya, semua pelanggan dipukul rata Rp 2.000 per meter kubik.

Baik pelanggan yang ada di wilayah kota maupun di wilayah desa. Mulai Maret mendatang pemberlakuan tidak demikian. Warga yang tinggal di desa dan di kota akan dikenai tarif yang berbeda.

Baca Juga :  Minta Kejelasan: Jangan Sampai Bojonegoro Residence Mangkrak

Bahkan, warga yang tinggal di kota akan dikenai tarif yang berbeda juga. ”Kami sudah mengklasifikasi setiap pelanggan untuk menentukan tarifnya,” terangnya.

Ada lima tipe pelanggan rumah tangga. Mulai rumah tangga kriteria A sampai E. Kriteria A adalah rumah tangga sederhana. Tarif yang dikenakan senilai Rp 2.500 per meter kubik. Rumah tangga tipe B hingga tipe E tarifnya tentu di atas tipe A. 

Dahlia menjelaskan, kenaikan tarif tersebut diharapkan dapat menambah kualitas layanan di PDAM. Perusahaan juga bisa menghasilkan profit. ”Dan juga bisa melayani 100 persen warga Bojonegoro,” jelasnya.

Saat ini, sambungan PDAM Bojonegoro hanya ada di 13 Kecamatan dan 110 desa. Jumlah itu masih jauh dari target yang ditetapkan, yaitu 80 persen wilayah Bojonegoro.

Baca Juga :  Pedagang Puluhan Tahun atau demi Ruang Terbuka Hijau

Jika target tersebut tercapai, maka PDAM bisa menyetorkan PAD untuk pemkab. ”Selama ini kami belum mencapai 80 persen, kami tidak wajib menyetorkan PAD,” jelasnya.

Selama ini, imbuhnya, keuntungan yang diperoleh PDAM hanya digunakan untuk operasional. Mulai gaji karyawan, pemeliharaan, dan subsidi pemasangan sambungan. 

Rencana kenaikan tarif tersebut tidak diimbangi dengan tingkat pelayanan. 

Kemarin, mulai pagi hingga siang, air PDAM di wilayah Kota mampet. Itu membuat warga mengeluh karena tidak bisa melakukan aktivitas seperti mencuci dan memasak.

”Airnya mampet sejak pagi. Tidak bisa melakukan aktivitas,” ujar Winarti, warga Desa Pacul.

Kepala Bagian Hubungan Pelanggan Joko Siswanto mengatakan, mampetnya air PDAM tersebut disebabkan ada pemadaman listrik di wilayah Dander. Akibatnya, sumber yang ada di Desa Ngunut tidak bisa beroperasi. 

BOJONEGORO – Penyesuaian tarif air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) segera diterapkan. Rencananya, tarif baru tersebut akan berlaku mulai Maret mendatang.

Pelaksana Jabatan Direktur PDAM Bojonegoro Dahlia Erly Yanti mengatakan, penyesuaian tarif dilakukan karena beberapa faktor. Pertama, adalah naiknya tarif dasar listrik dan kenaikan harga barang.

Karena itu, PDAM harus melakukan penyesuaian supaya tidak mengalami kerugian. ”PDAM ini dituntut untuk menghasilkan profit dan juga sosial,” ungkap dia kemarin.

Kenaikan tarif dasar tersebut bukan hanya terjadi di Bojonegoro. Namun, juga terjadi di seluruh Indonesia. Sebab, ada instruksi dari pemerintah pusat untuk menyesuaikan tarif dasar tersebut. ”Kami ini termasuk yang terakhir menerapkan kenaikan itu,” jelasnya.

Dahlia menjelaskan, ada beberapa perbedaan antara tarif saat ini dan tarif sebelumnya. Pada tarif sebelumnya, semua pelanggan dipukul rata Rp 2.000 per meter kubik.

Baik pelanggan yang ada di wilayah kota maupun di wilayah desa. Mulai Maret mendatang pemberlakuan tidak demikian. Warga yang tinggal di desa dan di kota akan dikenai tarif yang berbeda.

Baca Juga :  Minta Kejelasan: Jangan Sampai Bojonegoro Residence Mangkrak

Bahkan, warga yang tinggal di kota akan dikenai tarif yang berbeda juga. ”Kami sudah mengklasifikasi setiap pelanggan untuk menentukan tarifnya,” terangnya.

Ada lima tipe pelanggan rumah tangga. Mulai rumah tangga kriteria A sampai E. Kriteria A adalah rumah tangga sederhana. Tarif yang dikenakan senilai Rp 2.500 per meter kubik. Rumah tangga tipe B hingga tipe E tarifnya tentu di atas tipe A. 

Dahlia menjelaskan, kenaikan tarif tersebut diharapkan dapat menambah kualitas layanan di PDAM. Perusahaan juga bisa menghasilkan profit. ”Dan juga bisa melayani 100 persen warga Bojonegoro,” jelasnya.

Saat ini, sambungan PDAM Bojonegoro hanya ada di 13 Kecamatan dan 110 desa. Jumlah itu masih jauh dari target yang ditetapkan, yaitu 80 persen wilayah Bojonegoro.

Baca Juga :  Pedagang Puluhan Tahun atau demi Ruang Terbuka Hijau

Jika target tersebut tercapai, maka PDAM bisa menyetorkan PAD untuk pemkab. ”Selama ini kami belum mencapai 80 persen, kami tidak wajib menyetorkan PAD,” jelasnya.

Selama ini, imbuhnya, keuntungan yang diperoleh PDAM hanya digunakan untuk operasional. Mulai gaji karyawan, pemeliharaan, dan subsidi pemasangan sambungan. 

Rencana kenaikan tarif tersebut tidak diimbangi dengan tingkat pelayanan. 

Kemarin, mulai pagi hingga siang, air PDAM di wilayah Kota mampet. Itu membuat warga mengeluh karena tidak bisa melakukan aktivitas seperti mencuci dan memasak.

”Airnya mampet sejak pagi. Tidak bisa melakukan aktivitas,” ujar Winarti, warga Desa Pacul.

Kepala Bagian Hubungan Pelanggan Joko Siswanto mengatakan, mampetnya air PDAM tersebut disebabkan ada pemadaman listrik di wilayah Dander. Akibatnya, sumber yang ada di Desa Ngunut tidak bisa beroperasi. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Delapan Incumbent Kalah Suara

PT DESI Bakal Dilarang Beroperasi

Matangkan Persiapan

Rudjito – Zaenuri Divonis 4 Tahun


/