alexametrics
22.5 C
Bojonegoro
Wednesday, June 29, 2022

Tangkapi Orang Bergangguan Jiwa, Ini Alasan Kapolres

KOTA  –  Polres Lamongan melakukan langkah antisipasi agar kejadian pengejaran terhadap Kiai Hakam Mubarok, pengasuh Ponpes Karangasem Muhammadiyah Paciran tidak terulang. Kapolres Lamongan, AKBP Feby Hutagalung, memerintahkan jajarannya untuk menangkapi orang yang mempunyai kelainan jiwa.‘’Harus ditangkap serta dibawa ke Dinas Sosial agar dilakukan pengiriman ke Surabaya di tempat rehabilitasi. Menjaga hal yang tak diinginkan,’’ ujarnya. 

Menurut dia, keluarga Nandang Triyana, 23, asal  Desa Lemahabang Kulon, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon kemarin siang (21/2) ke mapolres dan selanjutnya ke Surabaya.

Mereka yang mendatangi mapolres adalah Satibi, 50, dan Sriyani, 45, orang tua Nandang, serta adiknya Indah, 16. Rombongan itu menumpang mobil pribadi bersama dua anggota dari Polres Cirebon.

Mereka sempat beristirahat di salah satu hotel karena kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh. ‘’Tujuan utama untuk bertemu terlebih dahulu (dengan Nandang). Yang lainnya, masih menunggu perintah terlebih dahulu,’’ kata Feby. 

Dia hingga kemarin belum mengetahui hasil tes kejiwaan yang dilakukan tim dokter. Namun, kemungkinan besar Nandang mempunyai kelainan jiwa.‘’Apakah keluarga korban harus tinggal di RS Bhayangkara, masih menunggu perintah lagi,’’ ujarnya. 

Seperti diberitakan, menjelang salat duhur (18/2), pengasuh Ponpes Karangasem Muhammadiyah Lamongan, Kiai Hakam Mubarok, dikejar seorang pemuda yang diduga gila. Awalnya, dia melihat seseorang duduk di depan gapura Masjid Al Manar. 

Kiai Hakam lalu meminta orang tersebut berpindah tempat. Alasannya, tidak pantas karena waktunya salat. Sarung orang tersebut ditarik agar yang bersangkutan mau pindah. Namun, pemuda tersebut ternyata tak mau berpindah tempat.

Baca Juga :  Pembukaan Wisata Masih Menunggu Instruksi Bupati

Dia tetap duduk sambil membawa makanan ringan. Makanan ringan tersebut akhirnya ditampel karena takut mengotori tempat sekitar. Pemuda tadi sontak berdiri. Dia mengamuk dan menantang Kiai Hakam untuk berkelahi.

‘’Ayo aku gak takut sama kamu kalau berani berkelahi sekarang,’’ kata Kiai Hakam menirukan perkataan pelaku.Sesaat kemudian, pemuda gundul itu menyerang Kiai Hakam menggunakan tangan kosong. Serangan itu tidak mengenai tubuh Kiai Hakam.

Takut serangan pemuda berkaus lengan panjang itu semakin membabi buta, Kiai Hakam memilih menghindar. Namun, dia ternyata dikejar. Kiai Hakam kemudian berusaha menyelamatkan diri dengan berputar – putar di lokasi setempat sejarak sekitar 30 meter. 

‘’Saya lari, sempat terjatuh karena kehabisan napas, hingga luka di bagian siku sebelah kanan,’’ ceritanya saat dikonfirmasi melalui ponsel.

Salah satu warga desa setempat yang mengetahui Kiai Hakam dikejar seseorang akhirnya melakukan pencegahan. Warga tersebut juga berteriak  meminta bantuan para santri ponpes setempat. 

‘’Langsung dikepung orang banyak, hingga diamankan ke dalam pondok,’’ imbuh Kiai Hakam.

Pemuda itu saat diperiksa polisi mengaku bernama Paijo. Namun, nama sebenarnya ternyata Nandang Triyana. Saat dikonfirmasi kemarin (21/2), Satibi merasa senang bakal bertemu anaknya.

Baca Juga :  Ada yang Pilih Lepaskan SMAN

Nandang sudah empat tahun tak pulang ke rumah. Keluarganya selama ini melakukan pencarian, namun tak membuahkan hasil. Nandang menghilang setelah pamit pergi ke rumah sang paman yang tak jauh dari rumahnya.

Hingga sore hari, Nandang tak kunjung pulang. ‘’Anak saya tak ke rumah pamannya sama sekali, hingga tak ada yang mengetahui kemana perginya,’’ kenangnya.  Dia juga mengaku bahwa anaknya mengalami kelainan jiwa.

Namun, Nandang tidak pernah diperiksakan ke dokter karena keterbatasan uang. Satibi mengetahui anaknya diamankan di Polres Lamongan (19/2) dari petugas Polres Cirebon. ‘’Saya dikasih tahu, foto anak saya di handphone anggota polisi tersebut,’’ katanya saat ditemui di halaman Mapolres Lamongan.

Sebelum berangkat ke Surabaya, Satibi dan keluarganya meminta maaf kepada KH Hakam Mubarok atas insiden yang melibatkan Nandang. Akibat insiden tersebut, menjadi pembicaraan banyak orang. Satibi juga menyampaikan keinginannya agar anaknya bisa dibawa pulang ke rumah. 

‘’Saya ingin Nandang diizinkan ikut pulang bersama kami nanti,’’ harap Satibi yang sempat bertemu Kiai Hakam di ruang lobi mapolres setempat.Jika dirawat di rumah sakit terdekat dari rumah, lanjut dia, pihak keluarga lebih mudah bertemu Nandang.

Jika perawatan di Surabaya, maka keluarganya sangat keberatan. Sebab, perjalanan Cirebon ke Surabaya membutuhkan waktu sekitar 15 jam. 

KOTA  –  Polres Lamongan melakukan langkah antisipasi agar kejadian pengejaran terhadap Kiai Hakam Mubarok, pengasuh Ponpes Karangasem Muhammadiyah Paciran tidak terulang. Kapolres Lamongan, AKBP Feby Hutagalung, memerintahkan jajarannya untuk menangkapi orang yang mempunyai kelainan jiwa.‘’Harus ditangkap serta dibawa ke Dinas Sosial agar dilakukan pengiriman ke Surabaya di tempat rehabilitasi. Menjaga hal yang tak diinginkan,’’ ujarnya. 

Menurut dia, keluarga Nandang Triyana, 23, asal  Desa Lemahabang Kulon, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon kemarin siang (21/2) ke mapolres dan selanjutnya ke Surabaya.

Mereka yang mendatangi mapolres adalah Satibi, 50, dan Sriyani, 45, orang tua Nandang, serta adiknya Indah, 16. Rombongan itu menumpang mobil pribadi bersama dua anggota dari Polres Cirebon.

Mereka sempat beristirahat di salah satu hotel karena kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh. ‘’Tujuan utama untuk bertemu terlebih dahulu (dengan Nandang). Yang lainnya, masih menunggu perintah terlebih dahulu,’’ kata Feby. 

Dia hingga kemarin belum mengetahui hasil tes kejiwaan yang dilakukan tim dokter. Namun, kemungkinan besar Nandang mempunyai kelainan jiwa.‘’Apakah keluarga korban harus tinggal di RS Bhayangkara, masih menunggu perintah lagi,’’ ujarnya. 

Seperti diberitakan, menjelang salat duhur (18/2), pengasuh Ponpes Karangasem Muhammadiyah Lamongan, Kiai Hakam Mubarok, dikejar seorang pemuda yang diduga gila. Awalnya, dia melihat seseorang duduk di depan gapura Masjid Al Manar. 

Kiai Hakam lalu meminta orang tersebut berpindah tempat. Alasannya, tidak pantas karena waktunya salat. Sarung orang tersebut ditarik agar yang bersangkutan mau pindah. Namun, pemuda tersebut ternyata tak mau berpindah tempat.

Baca Juga :  Enam Kursi Direbut 80 Caleg

Dia tetap duduk sambil membawa makanan ringan. Makanan ringan tersebut akhirnya ditampel karena takut mengotori tempat sekitar. Pemuda tadi sontak berdiri. Dia mengamuk dan menantang Kiai Hakam untuk berkelahi.

‘’Ayo aku gak takut sama kamu kalau berani berkelahi sekarang,’’ kata Kiai Hakam menirukan perkataan pelaku.Sesaat kemudian, pemuda gundul itu menyerang Kiai Hakam menggunakan tangan kosong. Serangan itu tidak mengenai tubuh Kiai Hakam.

Takut serangan pemuda berkaus lengan panjang itu semakin membabi buta, Kiai Hakam memilih menghindar. Namun, dia ternyata dikejar. Kiai Hakam kemudian berusaha menyelamatkan diri dengan berputar – putar di lokasi setempat sejarak sekitar 30 meter. 

‘’Saya lari, sempat terjatuh karena kehabisan napas, hingga luka di bagian siku sebelah kanan,’’ ceritanya saat dikonfirmasi melalui ponsel.

Salah satu warga desa setempat yang mengetahui Kiai Hakam dikejar seseorang akhirnya melakukan pencegahan. Warga tersebut juga berteriak  meminta bantuan para santri ponpes setempat. 

‘’Langsung dikepung orang banyak, hingga diamankan ke dalam pondok,’’ imbuh Kiai Hakam.

Pemuda itu saat diperiksa polisi mengaku bernama Paijo. Namun, nama sebenarnya ternyata Nandang Triyana. Saat dikonfirmasi kemarin (21/2), Satibi merasa senang bakal bertemu anaknya.

Baca Juga :  Sekkab Kirim Utusan ke PDIP

Nandang sudah empat tahun tak pulang ke rumah. Keluarganya selama ini melakukan pencarian, namun tak membuahkan hasil. Nandang menghilang setelah pamit pergi ke rumah sang paman yang tak jauh dari rumahnya.

Hingga sore hari, Nandang tak kunjung pulang. ‘’Anak saya tak ke rumah pamannya sama sekali, hingga tak ada yang mengetahui kemana perginya,’’ kenangnya.  Dia juga mengaku bahwa anaknya mengalami kelainan jiwa.

Namun, Nandang tidak pernah diperiksakan ke dokter karena keterbatasan uang. Satibi mengetahui anaknya diamankan di Polres Lamongan (19/2) dari petugas Polres Cirebon. ‘’Saya dikasih tahu, foto anak saya di handphone anggota polisi tersebut,’’ katanya saat ditemui di halaman Mapolres Lamongan.

Sebelum berangkat ke Surabaya, Satibi dan keluarganya meminta maaf kepada KH Hakam Mubarok atas insiden yang melibatkan Nandang. Akibat insiden tersebut, menjadi pembicaraan banyak orang. Satibi juga menyampaikan keinginannya agar anaknya bisa dibawa pulang ke rumah. 

‘’Saya ingin Nandang diizinkan ikut pulang bersama kami nanti,’’ harap Satibi yang sempat bertemu Kiai Hakam di ruang lobi mapolres setempat.Jika dirawat di rumah sakit terdekat dari rumah, lanjut dia, pihak keluarga lebih mudah bertemu Nandang.

Jika perawatan di Surabaya, maka keluarganya sangat keberatan. Sebab, perjalanan Cirebon ke Surabaya membutuhkan waktu sekitar 15 jam. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/