alexametrics
30.3 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Pujiyanto, Seniman Barongsai Pernah Belajar dari W.S Rendra

FEATURES – Anak Pujianto sedang bermain pancing di halaman rumahnya. Dia tak mengenakan kaus pagi itu. Penceng, sapaan akrab Pujiyanto, meminta anaknya agar tak bermain pancing khawatir kailnya akan melukai orang. Dia merebut pancing itu dari tangan anaknya. Lantas mengarahkan anaknya untuk segera mandi. Penceng pun kembali ke aktivitasnya.

Membereskan sisa-sisa pekerjaannya. Pria 42 tahun ini sudah sepuluh tahun menekuni kerajinan barongsai. Bukan hanya memproduksi. Melainkan, dia juga ikut bermain atraksi barongsai. 

Penceng kini tinggal di Kelurahan Karangpacar Kota Bojonegoro bersama istri dan anak-anaknya. Usaha memproduksi barongsai juga dilakukan di halaman depan rumahnya. Semua, dia lakukan sendiri saat itu.

Mulai merakit hingga mewarnai kepala barongsai hingga leang leongnya. Di depan rumah itu pula, dia menerima tamu-tamunya serta teman-temannya. Terlihat kepala barongsai setengah jadi pun masih tergeletak.

Cat untuk mewarnai hingga rotan siap garap untuk barongsai berserakan di halam rumahnya. Sebelum menekuni memproduksi dan bermain barongsai, Penceng pernah hijrah ke Jakarta. Sebab, saat itu kedua orang tua juga merantau di sana.

Baca Juga :  Awas! Predator Anak Bergerilya Via Media Sosial

Di ibu kota inilah, dia pernah singgah ke sebuah sanggar milik sastrawan ternama saat itu, W.S. Rendra. “Awalnya diajak teman,” kata Penceng mengenang kisahnya saat berada di Jakarta. 

Dia kala itu berada di Jakarta sekitar tahun 1998-1999.  Dia pun tak banyak tahu tentang tokoh tersohor waktu itu. Dia yang punya bakat ukir dan melukis ini pun datang dan ikut nimbrung saja di Bengkel Teater milik sastrawan kenamaan tersebut. 

“Saya bingung saat pertama kali datang. Sebab, tidak ada yang mengajak bicara,” tutur dia. Penceng mengaku, gelisah saat itu. Bukan apa-apa. Namun, tidak biasanya dia didiamkan oleh orang-orang di sekitarnya.

Diam bukan berarti tidak disapa. Melainkan, dibiarkan saja ingin melakukan apa saat itu di Bengkel tersebut. Dia yang gelisah saat itu pun akhirnya pasrah. Pria berambut gondrong ini pun tetap saja nekat datang dan beraktivitas di sana.

Saking tekunnya, akhirnya sepekan kemudian dia disalami oleh seseorang dan diberikan ucapan selamat. Artinya, dia telah lolos dari sebuah ujian mental di komunitas tersebut. 

Baca Juga :  Pakaian Senam Banyak Peminat 

“Ya saya kaget kala itu. Tapi akhirnya cair,” katanya. Dia melanjutkan, dengan suasana menjadi cair. Akhirnya dia sering datang ke Bengkel tersebut. Penceng banyak belajar dari orang-orang di sekelilingnya.

Termasuk dengan W.S. Rendra. Namun, dia hanya bisa mendengar petuah Rendra saat kumpul bersama-sama dengan orang banyak dalam sebuah forum. 

“Banyak pesan kehidupan di sana,” ungkapnya. Penceng masih terngiang atas pesan mendiang Rendra, jadilah orang yang tekun dan sabar. Sebab, ketekunan dan kesabaran akan berbuah keberhasilan. Pesan itu pun dipegangnnya hingga kini.

Dia bahkan, menjalani usahanya sebagai seniman barongsai itu berbekal kesabaran dan ketekunan. “Ya kalau saya nggak sabar paling sudah tidak kerasan saat itu,” ujarnya. 

Dia berada di sana kira-kira lima bulan. Kemudian, dia kembali ke Bojonegoro dan menjalani hidup di kota kelahirannya itu. Lambat laun dia pun akhirnya belajar barongsai dan hingga kini hidupnya bisa dikatakan bergantung pada barongsai. 

“Sering mendapatkan undangan bermain barongsai,” ujarnya. Dirinya juga sering mendapat pesanan barongsai dari luar daerah.

FEATURES – Anak Pujianto sedang bermain pancing di halaman rumahnya. Dia tak mengenakan kaus pagi itu. Penceng, sapaan akrab Pujiyanto, meminta anaknya agar tak bermain pancing khawatir kailnya akan melukai orang. Dia merebut pancing itu dari tangan anaknya. Lantas mengarahkan anaknya untuk segera mandi. Penceng pun kembali ke aktivitasnya.

Membereskan sisa-sisa pekerjaannya. Pria 42 tahun ini sudah sepuluh tahun menekuni kerajinan barongsai. Bukan hanya memproduksi. Melainkan, dia juga ikut bermain atraksi barongsai. 

Penceng kini tinggal di Kelurahan Karangpacar Kota Bojonegoro bersama istri dan anak-anaknya. Usaha memproduksi barongsai juga dilakukan di halaman depan rumahnya. Semua, dia lakukan sendiri saat itu.

Mulai merakit hingga mewarnai kepala barongsai hingga leang leongnya. Di depan rumah itu pula, dia menerima tamu-tamunya serta teman-temannya. Terlihat kepala barongsai setengah jadi pun masih tergeletak.

Cat untuk mewarnai hingga rotan siap garap untuk barongsai berserakan di halam rumahnya. Sebelum menekuni memproduksi dan bermain barongsai, Penceng pernah hijrah ke Jakarta. Sebab, saat itu kedua orang tua juga merantau di sana.

Baca Juga :  Gadis ini Merintis Jadi Entrepeneur

Di ibu kota inilah, dia pernah singgah ke sebuah sanggar milik sastrawan ternama saat itu, W.S. Rendra. “Awalnya diajak teman,” kata Penceng mengenang kisahnya saat berada di Jakarta. 

Dia kala itu berada di Jakarta sekitar tahun 1998-1999.  Dia pun tak banyak tahu tentang tokoh tersohor waktu itu. Dia yang punya bakat ukir dan melukis ini pun datang dan ikut nimbrung saja di Bengkel Teater milik sastrawan kenamaan tersebut. 

“Saya bingung saat pertama kali datang. Sebab, tidak ada yang mengajak bicara,” tutur dia. Penceng mengaku, gelisah saat itu. Bukan apa-apa. Namun, tidak biasanya dia didiamkan oleh orang-orang di sekitarnya.

Diam bukan berarti tidak disapa. Melainkan, dibiarkan saja ingin melakukan apa saat itu di Bengkel tersebut. Dia yang gelisah saat itu pun akhirnya pasrah. Pria berambut gondrong ini pun tetap saja nekat datang dan beraktivitas di sana.

Saking tekunnya, akhirnya sepekan kemudian dia disalami oleh seseorang dan diberikan ucapan selamat. Artinya, dia telah lolos dari sebuah ujian mental di komunitas tersebut. 

Baca Juga :  HUT ke-33 RSUD dr. R. Koesma Tuban : Komitmen Tingkatkan Pelayanan

“Ya saya kaget kala itu. Tapi akhirnya cair,” katanya. Dia melanjutkan, dengan suasana menjadi cair. Akhirnya dia sering datang ke Bengkel tersebut. Penceng banyak belajar dari orang-orang di sekelilingnya.

Termasuk dengan W.S. Rendra. Namun, dia hanya bisa mendengar petuah Rendra saat kumpul bersama-sama dengan orang banyak dalam sebuah forum. 

“Banyak pesan kehidupan di sana,” ungkapnya. Penceng masih terngiang atas pesan mendiang Rendra, jadilah orang yang tekun dan sabar. Sebab, ketekunan dan kesabaran akan berbuah keberhasilan. Pesan itu pun dipegangnnya hingga kini.

Dia bahkan, menjalani usahanya sebagai seniman barongsai itu berbekal kesabaran dan ketekunan. “Ya kalau saya nggak sabar paling sudah tidak kerasan saat itu,” ujarnya. 

Dia berada di sana kira-kira lima bulan. Kemudian, dia kembali ke Bojonegoro dan menjalani hidup di kota kelahirannya itu. Lambat laun dia pun akhirnya belajar barongsai dan hingga kini hidupnya bisa dikatakan bergantung pada barongsai. 

“Sering mendapatkan undangan bermain barongsai,” ujarnya. Dirinya juga sering mendapat pesanan barongsai dari luar daerah.

Artikel Terkait

Most Read

Senang Pemilu Damai

Ideologi Republik dari Kansas 

Keindahan Bojonegoro Tergores dalam Kanvas

Diyakini Petilasan Abdi Raja Brawijaya

Artikel Terbaru


/