alexametrics
28.4 C
Bojonegoro
Thursday, May 26, 2022

Teringat Bersekolah Jalan Kaki Melintas Hutan dari Bubulan

Kisah Arif Yudho Purwanto menginspirasi para siswa saat ini. Dandim 0813 Bojonegoro itu harus menempuh perjalanan 22 kilometer dengan berjalan kaki atau menumpang truk kayu Perhutani. Jalan bebatuan dan melintasi hutan.

RAMAH, hal pertama tergambar dari Dandim 0813 Bojonegoro Letkol Arm. Arif Yudho Purwanto. Senyum tidak pernah terlepas dari gurat wajahnya saat bertutur. Logat komunikasinya pun khas, yakni logat bahasa Bojonegaran.

Ternyata ini orang nomor satu di Kodim 0813 itu merupakan putra daerah. Lahir dari kampung tak jauh dari hutan, yakni Dusun Tlotok, Desa/Kecamatan Bubulan. Meski ramah, namun ketegasan tetap terlihat dari sosok Dandim 0813 yang baru menjabat sekitar seminggu itu. 

Tegap dengan topi dan tongkat komando menjadi atribut menamani ketika berkunjung ke kantor Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin siang (21/1). ‘’Pokoknya sebagai Dandim harus berdiri dari semua golongan,’’ ujarnya dengan senyum guyonan saat duduk di meeting room Radar Bojonegoro.

‘’Saya kaget ketika bertugas di Bojonegoro. Banyak perubahan, jalan-jalan ngelenyer. Berbeda jauh dari masa kecil saya waktu  sekolah, jalan-jalannya bebatuan,’’ lanjut Arif sapaan akrabnya.

Baca Juga :  Anggota TNI Perajin Tongkat Komando, Pemesan Perwira hingga Jenderal

Sambil melihat koran Jawa Pos Radar Bojonegoro, Dandim begitu luwes bercerita tentang kenangan kabupaten kelahirannya ini. Terutama kenangan ketika menempuh pendidikan di SMAN 2 Bojonegoro, paling diingat olehnya. Jarak dari rumahnya di Dusun Tlotok cukup jauh dengan SMA di Jalan HOS. Cokroaminoto itu.

Arif harus menempuh perjalanan 22 kilometer (km) melalui jalan berbatu di tengah hutan Kecamatan Bubulan hingga Dander. Tidak ada kendaraan umum beroperasi ketika itu. Sehingga harus berjalan kaki atau menumpang truk kayu Perhutani yang kebetulan melintas. “Jalannya masih batu, belum nyelenyer seperti sekarang,” ujarnya. 

Bahkan Arif pernah berjalan dari Kecamatan Bubulan hingga Dander dengan jarak sekitar 10 km akibat tidak ada truk yang bisa ditumpangi menuju sekolah. Perjuangan itu ditempuh karena esok harinya harus bersekolah. 

Selain itu, alumni SD Bubulan itu pernah menggendong sepeda temannya ketika melewati hutan. Akibat ban bocor saat melewati jalan berbatu. Perjuangan keras itu dilakukan demi menempuh pendidikan. “Di zaman itu tidak banyak yang melanjutkan pendidikan,” ujar ayah satu putra itu.

Baca Juga :  Kesulitan Atasi Penyakit Jamur

Selama bersekolah di SMA, Arif tidak setiap hari pulang ke Desa Bubulan. Dan memilih ngekos di Kelurahan Klangon, tepatnya di sekitar Treteg Penceng. Namun untuk berangkat ke sekolah tetap harus berjalan kaki sekitar 2 km. Karena tidak memiliki sepeda. “Tidak semua orang memiliki sepeda saat itu,” jelas alumni SMPN Bubulan itu.

Selain perjuangan ketika menempuh pendidikan SMA, Arif mengenang keterbatasan alat komunikasi dulu. Telepon umum menggunakan koin menjadi alat komunikasi sering digunakan menghubungi keluarganya. Meski harus antre lama untuk menggunakan, namun telepon umum menjadi salah satu alat komunikasi yang bisa digunakan saat itu.

“Di depan SMAN 2 Bojonegoro dulu ada telepon umum,” jelas Dandim hobi bermain bulutangkis itu. 

Perbedaan kondisi Bojonegoro kini dibanding dulu membuat Dandim senang. Sebab berpengaruh positif dengan perkembangan masyarakat. Akses pendidikan lebih mudah, tentu ekonomi bisa meningkat. ‘’Karena itu, saya hanya berharap agar siswa sekarang mestinya lebih bersemangat kalau bersekolah,’’ ujar suami dari Luluk Nur Azizah, salah satu dokter bertugas di RSUD Sumberrejo.

Kisah Arif Yudho Purwanto menginspirasi para siswa saat ini. Dandim 0813 Bojonegoro itu harus menempuh perjalanan 22 kilometer dengan berjalan kaki atau menumpang truk kayu Perhutani. Jalan bebatuan dan melintasi hutan.

RAMAH, hal pertama tergambar dari Dandim 0813 Bojonegoro Letkol Arm. Arif Yudho Purwanto. Senyum tidak pernah terlepas dari gurat wajahnya saat bertutur. Logat komunikasinya pun khas, yakni logat bahasa Bojonegaran.

Ternyata ini orang nomor satu di Kodim 0813 itu merupakan putra daerah. Lahir dari kampung tak jauh dari hutan, yakni Dusun Tlotok, Desa/Kecamatan Bubulan. Meski ramah, namun ketegasan tetap terlihat dari sosok Dandim 0813 yang baru menjabat sekitar seminggu itu. 

Tegap dengan topi dan tongkat komando menjadi atribut menamani ketika berkunjung ke kantor Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin siang (21/1). ‘’Pokoknya sebagai Dandim harus berdiri dari semua golongan,’’ ujarnya dengan senyum guyonan saat duduk di meeting room Radar Bojonegoro.

‘’Saya kaget ketika bertugas di Bojonegoro. Banyak perubahan, jalan-jalan ngelenyer. Berbeda jauh dari masa kecil saya waktu  sekolah, jalan-jalannya bebatuan,’’ lanjut Arif sapaan akrabnya.

Baca Juga :  Perkara APBDes, Kades Jari Dituntut Lima Tahun Penjara

Sambil melihat koran Jawa Pos Radar Bojonegoro, Dandim begitu luwes bercerita tentang kenangan kabupaten kelahirannya ini. Terutama kenangan ketika menempuh pendidikan di SMAN 2 Bojonegoro, paling diingat olehnya. Jarak dari rumahnya di Dusun Tlotok cukup jauh dengan SMA di Jalan HOS. Cokroaminoto itu.

Arif harus menempuh perjalanan 22 kilometer (km) melalui jalan berbatu di tengah hutan Kecamatan Bubulan hingga Dander. Tidak ada kendaraan umum beroperasi ketika itu. Sehingga harus berjalan kaki atau menumpang truk kayu Perhutani yang kebetulan melintas. “Jalannya masih batu, belum nyelenyer seperti sekarang,” ujarnya. 

Bahkan Arif pernah berjalan dari Kecamatan Bubulan hingga Dander dengan jarak sekitar 10 km akibat tidak ada truk yang bisa ditumpangi menuju sekolah. Perjuangan itu ditempuh karena esok harinya harus bersekolah. 

Selain itu, alumni SD Bubulan itu pernah menggendong sepeda temannya ketika melewati hutan. Akibat ban bocor saat melewati jalan berbatu. Perjuangan keras itu dilakukan demi menempuh pendidikan. “Di zaman itu tidak banyak yang melanjutkan pendidikan,” ujar ayah satu putra itu.

Baca Juga :  Resign Kerja Migas, Pernah Rugi Puluhan Juta karena Kebakaran

Selama bersekolah di SMA, Arif tidak setiap hari pulang ke Desa Bubulan. Dan memilih ngekos di Kelurahan Klangon, tepatnya di sekitar Treteg Penceng. Namun untuk berangkat ke sekolah tetap harus berjalan kaki sekitar 2 km. Karena tidak memiliki sepeda. “Tidak semua orang memiliki sepeda saat itu,” jelas alumni SMPN Bubulan itu.

Selain perjuangan ketika menempuh pendidikan SMA, Arif mengenang keterbatasan alat komunikasi dulu. Telepon umum menggunakan koin menjadi alat komunikasi sering digunakan menghubungi keluarganya. Meski harus antre lama untuk menggunakan, namun telepon umum menjadi salah satu alat komunikasi yang bisa digunakan saat itu.

“Di depan SMAN 2 Bojonegoro dulu ada telepon umum,” jelas Dandim hobi bermain bulutangkis itu. 

Perbedaan kondisi Bojonegoro kini dibanding dulu membuat Dandim senang. Sebab berpengaruh positif dengan perkembangan masyarakat. Akses pendidikan lebih mudah, tentu ekonomi bisa meningkat. ‘’Karena itu, saya hanya berharap agar siswa sekarang mestinya lebih bersemangat kalau bersekolah,’’ ujar suami dari Luluk Nur Azizah, salah satu dokter bertugas di RSUD Sumberrejo.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/