alexametrics
28.4 C
Bojonegoro
Thursday, May 26, 2022

Dukung Operasi Tim Gabungan Pelanggar Prokes

TAHUN lalu, Esti Ayu Kusuma Ningrum menjalani praktik kerja lapangan (PKL) di beberapa puskesmas dan RS. Dara asal Desa Kedung Megari, Kecamatan Kembangbahu ini turut membantu tenaga kesehatan (nakes) yang menangani lonjakan kasus Covid-19 gelombang kedua pada Juli. Pengalaman tersebut menjadi momen yang tak terlupakan baginya.

‘’Sebagai garda terdepan pandemi, para nakes tidak memedulikan berapa gaji yang didapat. Tapi bagaimana menyelamatkan pasien dulu. Harus siap siaga 24 jam,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (21/1).

Menurut Esti, dalam menangani pandemi seharusnya tidak hanya mengandalkan insan-insan di dunia kesehatan. Pandemi Covid-19 bisa berakhir bila semua pihak saling bersinergi melakukan pencegahan dengan cara masing-masing. Seperti taat menerapkan protokol kesehatan (prokes). Lonjakan kasus yang sudah terjadi sebelum-sebelumnya bisa menjadi pelajaran berharga.

Baca Juga :  Wujud Aslinya Tak Bisa Dilihat setelah Perang Agresi Militer

‘’Kita sama-sama takut kalau gelombang ketiga terjadi beneran. Semakin ke sini, harusnya semua pihak lebih aware (menyadari, Red) harus mencegah seperti apa. Vaksinasi dua dosis lengkap dan tetap taat prokes,’’ tuturnya.

Mahasiswi semester enam jurusan keperawatan itu menilai, masih ada masyarakat yang mengabaikan prokes karena merasa sudah divaksin dengan dosis lengkap. Esti mengatakan, operasi gabungan terhadap para pelanggar prokes sebaiknya dilakukan secara rutin agar menimbulkan efek jera.

‘’Sejauh ini yang cuma bisa bikin masyarakat takut melanggar prokes yang karena takut dihukum. Cara seperti itu lebih efektif karena pelanggar bisa ditindak saat itu juga,’’ tutur gadis berusia 20 tahun ini.

TAHUN lalu, Esti Ayu Kusuma Ningrum menjalani praktik kerja lapangan (PKL) di beberapa puskesmas dan RS. Dara asal Desa Kedung Megari, Kecamatan Kembangbahu ini turut membantu tenaga kesehatan (nakes) yang menangani lonjakan kasus Covid-19 gelombang kedua pada Juli. Pengalaman tersebut menjadi momen yang tak terlupakan baginya.

‘’Sebagai garda terdepan pandemi, para nakes tidak memedulikan berapa gaji yang didapat. Tapi bagaimana menyelamatkan pasien dulu. Harus siap siaga 24 jam,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (21/1).

Menurut Esti, dalam menangani pandemi seharusnya tidak hanya mengandalkan insan-insan di dunia kesehatan. Pandemi Covid-19 bisa berakhir bila semua pihak saling bersinergi melakukan pencegahan dengan cara masing-masing. Seperti taat menerapkan protokol kesehatan (prokes). Lonjakan kasus yang sudah terjadi sebelum-sebelumnya bisa menjadi pelajaran berharga.

Baca Juga :  KPUK Lamongan Masih Kekurangan Tenaga Pemungutan Suara

‘’Kita sama-sama takut kalau gelombang ketiga terjadi beneran. Semakin ke sini, harusnya semua pihak lebih aware (menyadari, Red) harus mencegah seperti apa. Vaksinasi dua dosis lengkap dan tetap taat prokes,’’ tuturnya.

Mahasiswi semester enam jurusan keperawatan itu menilai, masih ada masyarakat yang mengabaikan prokes karena merasa sudah divaksin dengan dosis lengkap. Esti mengatakan, operasi gabungan terhadap para pelanggar prokes sebaiknya dilakukan secara rutin agar menimbulkan efek jera.

‘’Sejauh ini yang cuma bisa bikin masyarakat takut melanggar prokes yang karena takut dihukum. Cara seperti itu lebih efektif karena pelanggar bisa ditindak saat itu juga,’’ tutur gadis berusia 20 tahun ini.

Artikel Terkait

Most Read

Muatan Lebih 5 Persen Langsung Tilang

Target Seribu Embung Tak Tercapai

Amankan Enam Pasangan Mesum

Artikel Terbaru


/