alexametrics
29.3 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

PMI Bojonegoro Belum Miliki Mesin Mengambil Plasma Konvalesen

Radar Bojonegoro – Palang Merah Indonesia (PMI) Bojonegoro telah mengajukan pengadaan mesin apheresis guna mengambil plasma konvalesen (PK) dari para penyintas Covid-19. Pengajuan kepada Pemkab Bojonegoro itu diperkirakan sejak sebulan lalu.

Saat ini, PMI setempat sudah mulai menginventarisasi data para penyintas Covid-19. “Kami sudah menyebar formulir kepada para penyintas Covid-19 di wilayah Bojonegoro. Sebab, seseorang penyintas Covid-19 yang hendak mendonorkan PK butuh proses seleksi,” kata Kepala Bidang (Kabid) Administrasi dan Keuangan Unit Transfusi Daerah (UTD) PMI Bojonegoro Ali Syafaat.

Ali mengatakan, nilai pengadaan satu unit mesin apheresis sekitar Rp 1,2 miliar. Adapun kabupaten tetangga seperti Lamongan dan Tuban telah memiliki mesin tersebut. Pihaknya telah memper siapkan petugas serta sarana prasarana pendukungnya. Jadi, apabila nanti telah ada mesin apheresis, pendonor tidak perlu lagi pergi ke Tuban atau Lamongan.

Baca Juga :  Kunjungan Redaksi

Tetapi, proses mengambil PK tidak sama seperti donor darah biasa. Proses seleksi bagi calon pendonor PK sangat ketat. Persyaratan minimal sembuh dari Covid-19 setelah 14 hari. Terbukti hasil PCR swab negatif sebanyak dua kali, berat badan minimal 55 kilogram (kg), dan usia antara 18-60 tahun.

Jadi, meskipun nanti sudah punya mesin apheresis, sampel darah calon pendonor PK tetap dikirim ke Surabaya untuk dilakukan pemeriksaan layak atau tidak darahnya. Ali memperkirakan proses agar bisa mendapat PK setidaknya butuh waktu kurang lebih tiga hari.

“Se-Jawa Timur pemeriksaan sampel darahnya hanya bisa di Surabaya. Di sana menggunakan alat pemeriksaan nucleic acid test (NAT). Sedangkan di sini maupun kota-kota lain masih belum pakai NAT, di sini metode uji saringnya yaitu enzymelinked immunosorbent assay (Elisa),” kata Ali.

Baca Juga :  Masih Berharap Proyek JTB

Alat NAT memiliki teknologi uji saring mampu mendeteksi keberadaan DNA/ RNA virus dengan masa jendela lebih pendek. Sehingga mampu memastikan darah dari calon pendonor PK benar-benar bebas dari virus. Sementara itu, selama ini pasien Covid-19 di Bojonegoro yang butuh PK harus antre selama seminggu. PK ambil di PMI Surabaya maupun Sidoarjo.

Radar Bojonegoro – Palang Merah Indonesia (PMI) Bojonegoro telah mengajukan pengadaan mesin apheresis guna mengambil plasma konvalesen (PK) dari para penyintas Covid-19. Pengajuan kepada Pemkab Bojonegoro itu diperkirakan sejak sebulan lalu.

Saat ini, PMI setempat sudah mulai menginventarisasi data para penyintas Covid-19. “Kami sudah menyebar formulir kepada para penyintas Covid-19 di wilayah Bojonegoro. Sebab, seseorang penyintas Covid-19 yang hendak mendonorkan PK butuh proses seleksi,” kata Kepala Bidang (Kabid) Administrasi dan Keuangan Unit Transfusi Daerah (UTD) PMI Bojonegoro Ali Syafaat.

Ali mengatakan, nilai pengadaan satu unit mesin apheresis sekitar Rp 1,2 miliar. Adapun kabupaten tetangga seperti Lamongan dan Tuban telah memiliki mesin tersebut. Pihaknya telah memper siapkan petugas serta sarana prasarana pendukungnya. Jadi, apabila nanti telah ada mesin apheresis, pendonor tidak perlu lagi pergi ke Tuban atau Lamongan.

Baca Juga :  Warna Cerah Dominasi Penjualan HelmĀ 

Tetapi, proses mengambil PK tidak sama seperti donor darah biasa. Proses seleksi bagi calon pendonor PK sangat ketat. Persyaratan minimal sembuh dari Covid-19 setelah 14 hari. Terbukti hasil PCR swab negatif sebanyak dua kali, berat badan minimal 55 kilogram (kg), dan usia antara 18-60 tahun.

Jadi, meskipun nanti sudah punya mesin apheresis, sampel darah calon pendonor PK tetap dikirim ke Surabaya untuk dilakukan pemeriksaan layak atau tidak darahnya. Ali memperkirakan proses agar bisa mendapat PK setidaknya butuh waktu kurang lebih tiga hari.

“Se-Jawa Timur pemeriksaan sampel darahnya hanya bisa di Surabaya. Di sana menggunakan alat pemeriksaan nucleic acid test (NAT). Sedangkan di sini maupun kota-kota lain masih belum pakai NAT, di sini metode uji saringnya yaitu enzymelinked immunosorbent assay (Elisa),” kata Ali.

Baca Juga :  Jemnbatan KaRe Dipastikan Selesai Penghujung Tahun

Alat NAT memiliki teknologi uji saring mampu mendeteksi keberadaan DNA/ RNA virus dengan masa jendela lebih pendek. Sehingga mampu memastikan darah dari calon pendonor PK benar-benar bebas dari virus. Sementara itu, selama ini pasien Covid-19 di Bojonegoro yang butuh PK harus antre selama seminggu. PK ambil di PMI Surabaya maupun Sidoarjo.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/