alexametrics
27.4 C
Bojonegoro
Friday, July 1, 2022

Antisipasi Banjir, Gerakkan Setiap Rumah Buat Biopori

Radar Bojonegoro – Peristiwa banjir luapan baru baru ini menerpa Bojonegoro tidak hanya disebabkan satu faktor. Sebaliknya sudah kompilasi. Perlu penanganan jangka pendek hingga jangka panjang, mengingat potensi banjir masih rentan.

Kaprodi Ilmu Lingkungan Fakultas Sain dan Teknik Universitas Bojoegoro (Unigoro) Oktavianus Cahya Anggara mengatakan, banjir luapan ini mulai daya serap tanah terhadap air hujan.

Juga, dimensi saluran air sungai, hingga kemungkinan gundulnya hutan di wilayah selatan. ‘’Saya melihat banjir terjadi di Bojonegoro ini karena kompilasi dari beberapa faktor,” katanya kemarin (21/1).

Dia memastikan, banjir wilayah Kecamatan Kota, Dander, dan Kapas, bisa pengaruh perubahan penggunaan lahan. Banyak persawahan beralih fungsi dan terdapat kompleks perumahan.

Okta menyampaikan, adanya perubahan penggunaan lahan perlu diimbangi penerapan teknologi berbasis lingkungan. Misalnya pembuatan sumur resapan (biopori). Setidaknya, biopori dapat mengurangi run off. Sifatnya membantu air permukaan meresap ke dalam tanah, nantinya menjadi air tanah. Sehingga, biopori bisa menjadi salah satu solusi jangka pendek. Menjadi bagian edukasi pemkab setempat terkait langkah pencegahan banjir.

‘’Kalau hanya edukasi jangan buang sampah ke sungai, jangan menebang pohon, itu sudah biasa dilakukan. Tapi, yang belum banyak dilakukan yakni upaya mandiri di setiap rumah tangga membuat biopori,” jelasnya.

Menurut Okta, pembuatan biopori tidak perlu rumit. Cukup dari pipa paralon 4 dim dibenamkan kedalaman satu meter lalu diberi lubang pada dinding-dindingnya. Di dalam pipa diisi pecahan genteng, kerakal, hingga pasir. Sementara ujung permukaan ditutup menggunakan penutup pipa paralon dan diberi lubang sebesar paku. Supaya sampah tidak masuk ke dalam pipa dan menyumbat. Biopori jenis itu relevan diterapkan di tingkat rumah tangga.

Baca Juga :  Hobi Menjelajah, Wisata Bojonegoro Makin Bersinar

‘’Satu rumah jika memiliki dua sampai tiga sumur resapan, sudah bisa menyerap air hujan cukup banyak,” lanjut dia.

Pembuatan biopori bisa dilakukan di tingkat rukun tetangga (RT). Menggunakan bis beton diameter satu meter dengan kedalaman lebih dari satu meter. Sementara bagian bawahnya itu dengan pasangan bata merah tanpa plester.

‘’Menurut penelitian kami (pasangan bata merah tanpa plester) lebih mampu menyerap air hujan. Itu sudah berhasil di kampung-kampung padat penduduk di Kabupaten Malang,” katanya.

Disinggung solusi jangka panjang? Dia menjelaskan perlu perhitungan kapasitas saluran aliran sungai atau drainase. Mempersiapkan dimensi saluran air ketika memasuki tren debit air hujan tinggi. Siklusnya sekitar empat sampai lima tahunan. ‘’Sehingga nanti ada tren banjir tahunan, biasanya empat atau lima tahun sekali terulang. Itu kapasitas dipersiapkan benar-benar mampu menampung seluruh debit air hujan turun,” tutur dia.

‘’Memang siklus empat sampai lima tahunan itu debit air hujan pasti terulang tinggi lagi. Tahun depan menurun, tapi nanti di tahun selanjutnya (sekitaran siklus) tinggi lagi,” imbuhnya.

Baca Juga :  Dukungan PKS Tak Terpengaruh Pilgub

Selain itu, kata dia, penanaman pohon berkuntur keras dan mudah menyerap air menjadi alternatif jangka panjang selanjutnya. Contohnya menanami pohon jati. Tetapi jika kondisinya mendesak atau untuk jangka pendek, Okta lebih menyarankan menanam pohon trembesi. Karena pertumbuhannya cukup pesat. Sementara pohon jati pertumbuhannya lambat atau untuk jangka panjang.

‘’Pohon trembesi sifatnya suka dengan air. Mampu menyerap kelebihan air di permukaan ke tanah. Tapi, penanamannya membutuhkan kajian khusus. Jangan sampai berdekatan sumber air, karena bisa mematikan sumber airnya,” jelas dia. Sehingga memang penanamannya benar-benar di daerah cenderung cekungan. Dan itu bisa dilihat dari peta kontur.

Disingung mendesaknya normalisasi sungai? Okta menambahkan bisa saja upaya itu dilakukan. Asalkan bekerja sama dengan daerah di hulu sekitar. Tidak bisa hanya Bojonegoro melakukan normalisasi sungai.

‘’Kalaupun Bojonegoro memiliki program normalisasi sungai, belum menjamin tidak akan terjadi banjir lagi. Tidak bisa seperti itu,” tegasnya.

Upaya normalisasi sungai seperti pengerukan, pelebaran sungai, penertiban rumah di sekitar aliran sungai, terus pembersihan sungai dari sampah tersangkut memang bagus. Tapi, hanya untuk meminimalisir perluasan dampak banjir luapan.

‘’Kalaupun memiliki program normalisasi sungai, harus seluruh wilayah Bojonegoro. Tidak bisa di titik-titik banjir saja. Harus mulai dari sumbernya. Sehingga perlu mengidentifikasi muara sungai hingga anak sungai,” tutup dia.

Radar Bojonegoro – Peristiwa banjir luapan baru baru ini menerpa Bojonegoro tidak hanya disebabkan satu faktor. Sebaliknya sudah kompilasi. Perlu penanganan jangka pendek hingga jangka panjang, mengingat potensi banjir masih rentan.

Kaprodi Ilmu Lingkungan Fakultas Sain dan Teknik Universitas Bojoegoro (Unigoro) Oktavianus Cahya Anggara mengatakan, banjir luapan ini mulai daya serap tanah terhadap air hujan.

Juga, dimensi saluran air sungai, hingga kemungkinan gundulnya hutan di wilayah selatan. ‘’Saya melihat banjir terjadi di Bojonegoro ini karena kompilasi dari beberapa faktor,” katanya kemarin (21/1).

Dia memastikan, banjir wilayah Kecamatan Kota, Dander, dan Kapas, bisa pengaruh perubahan penggunaan lahan. Banyak persawahan beralih fungsi dan terdapat kompleks perumahan.

Okta menyampaikan, adanya perubahan penggunaan lahan perlu diimbangi penerapan teknologi berbasis lingkungan. Misalnya pembuatan sumur resapan (biopori). Setidaknya, biopori dapat mengurangi run off. Sifatnya membantu air permukaan meresap ke dalam tanah, nantinya menjadi air tanah. Sehingga, biopori bisa menjadi salah satu solusi jangka pendek. Menjadi bagian edukasi pemkab setempat terkait langkah pencegahan banjir.

‘’Kalau hanya edukasi jangan buang sampah ke sungai, jangan menebang pohon, itu sudah biasa dilakukan. Tapi, yang belum banyak dilakukan yakni upaya mandiri di setiap rumah tangga membuat biopori,” jelasnya.

Menurut Okta, pembuatan biopori tidak perlu rumit. Cukup dari pipa paralon 4 dim dibenamkan kedalaman satu meter lalu diberi lubang pada dinding-dindingnya. Di dalam pipa diisi pecahan genteng, kerakal, hingga pasir. Sementara ujung permukaan ditutup menggunakan penutup pipa paralon dan diberi lubang sebesar paku. Supaya sampah tidak masuk ke dalam pipa dan menyumbat. Biopori jenis itu relevan diterapkan di tingkat rumah tangga.

Baca Juga :  Nyekar Ke Rembang, Puti Guntur: Kartini Inspirasi Bagi Perempuan

‘’Satu rumah jika memiliki dua sampai tiga sumur resapan, sudah bisa menyerap air hujan cukup banyak,” lanjut dia.

Pembuatan biopori bisa dilakukan di tingkat rukun tetangga (RT). Menggunakan bis beton diameter satu meter dengan kedalaman lebih dari satu meter. Sementara bagian bawahnya itu dengan pasangan bata merah tanpa plester.

‘’Menurut penelitian kami (pasangan bata merah tanpa plester) lebih mampu menyerap air hujan. Itu sudah berhasil di kampung-kampung padat penduduk di Kabupaten Malang,” katanya.

Disinggung solusi jangka panjang? Dia menjelaskan perlu perhitungan kapasitas saluran aliran sungai atau drainase. Mempersiapkan dimensi saluran air ketika memasuki tren debit air hujan tinggi. Siklusnya sekitar empat sampai lima tahunan. ‘’Sehingga nanti ada tren banjir tahunan, biasanya empat atau lima tahun sekali terulang. Itu kapasitas dipersiapkan benar-benar mampu menampung seluruh debit air hujan turun,” tutur dia.

‘’Memang siklus empat sampai lima tahunan itu debit air hujan pasti terulang tinggi lagi. Tahun depan menurun, tapi nanti di tahun selanjutnya (sekitaran siklus) tinggi lagi,” imbuhnya.

Baca Juga :  Tetap Setor Minyak, Meski Sumur Tak Aktif

Selain itu, kata dia, penanaman pohon berkuntur keras dan mudah menyerap air menjadi alternatif jangka panjang selanjutnya. Contohnya menanami pohon jati. Tetapi jika kondisinya mendesak atau untuk jangka pendek, Okta lebih menyarankan menanam pohon trembesi. Karena pertumbuhannya cukup pesat. Sementara pohon jati pertumbuhannya lambat atau untuk jangka panjang.

‘’Pohon trembesi sifatnya suka dengan air. Mampu menyerap kelebihan air di permukaan ke tanah. Tapi, penanamannya membutuhkan kajian khusus. Jangan sampai berdekatan sumber air, karena bisa mematikan sumber airnya,” jelas dia. Sehingga memang penanamannya benar-benar di daerah cenderung cekungan. Dan itu bisa dilihat dari peta kontur.

Disingung mendesaknya normalisasi sungai? Okta menambahkan bisa saja upaya itu dilakukan. Asalkan bekerja sama dengan daerah di hulu sekitar. Tidak bisa hanya Bojonegoro melakukan normalisasi sungai.

‘’Kalaupun Bojonegoro memiliki program normalisasi sungai, belum menjamin tidak akan terjadi banjir lagi. Tidak bisa seperti itu,” tegasnya.

Upaya normalisasi sungai seperti pengerukan, pelebaran sungai, penertiban rumah di sekitar aliran sungai, terus pembersihan sungai dari sampah tersangkut memang bagus. Tapi, hanya untuk meminimalisir perluasan dampak banjir luapan.

‘’Kalaupun memiliki program normalisasi sungai, harus seluruh wilayah Bojonegoro. Tidak bisa di titik-titik banjir saja. Harus mulai dari sumbernya. Sehingga perlu mengidentifikasi muara sungai hingga anak sungai,” tutup dia.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/