alexametrics
24.1 C
Bojonegoro
Friday, August 12, 2022

Usulan Belum Diputuskan

KOTA – Usulan  wisata cagar budaya (geopark) Lamongan belum mendapatkan jawaban pemerintah pusat. Padahal, usulan itu dilayangkan dinas pariwisata dan kebudayaan (disparbud) setempat sejak 2015. ‘’Sudah diusulkan dua obyek wisata sebagai wisata cagar budaya tapi masih belum jelas keputusannya bagaimana,” ujar Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Disparbud Lamongan, Erdiana Renawati, minggu (21/1). 

Menurut perempuan yang akrab disapa Dina tersebut, wisata pemandian air panas brumbun di Desa Kranji, Kecamatan Paciran dan Puncak Wangi, Kecamatan  Babat, yang diusulkan sebagai wisata cagar alam. Usulan tersebut harus melalui pertimbangan keanekaragaman geologi, hayati, dan budaya. “Itu yang bisa menetapkan peneliti geologi,” ujarnya. Dia menuturkan, disparbud hanya sebatas mengusulkan. “Apakah lolos sebagai wisata geopark atau tidak, belum tahu,” imbuhnya. 

Baca Juga :  Macet Sepanjang 5 Km, Kendaraan Berat Dilarang lewat Widang

Dina mengatakan, saat ini wisata brumbun masih dikelola pihak desa. Pemkab hanya sebagai fasilitator dan pembina untuk pengembangan wisata serta kelompok sadar wisata (pokdarwis).  Jika tempat tersebut sudah ditetapkan sebagai wisata cagar budaya, maka pemerintah akan terlibat untuk mengelola. Sebab, terkait pelestarian budaya. “Kita tunggu saja mekanisme dan pengelolaan ke depannya bagaimana,” tuturnya.

KOTA – Usulan  wisata cagar budaya (geopark) Lamongan belum mendapatkan jawaban pemerintah pusat. Padahal, usulan itu dilayangkan dinas pariwisata dan kebudayaan (disparbud) setempat sejak 2015. ‘’Sudah diusulkan dua obyek wisata sebagai wisata cagar budaya tapi masih belum jelas keputusannya bagaimana,” ujar Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Disparbud Lamongan, Erdiana Renawati, minggu (21/1). 

Menurut perempuan yang akrab disapa Dina tersebut, wisata pemandian air panas brumbun di Desa Kranji, Kecamatan Paciran dan Puncak Wangi, Kecamatan  Babat, yang diusulkan sebagai wisata cagar alam. Usulan tersebut harus melalui pertimbangan keanekaragaman geologi, hayati, dan budaya. “Itu yang bisa menetapkan peneliti geologi,” ujarnya. Dia menuturkan, disparbud hanya sebatas mengusulkan. “Apakah lolos sebagai wisata geopark atau tidak, belum tahu,” imbuhnya. 

Baca Juga :  Macet Sepanjang 5 Km, Kendaraan Berat Dilarang lewat Widang

Dina mengatakan, saat ini wisata brumbun masih dikelola pihak desa. Pemkab hanya sebagai fasilitator dan pembina untuk pengembangan wisata serta kelompok sadar wisata (pokdarwis).  Jika tempat tersebut sudah ditetapkan sebagai wisata cagar budaya, maka pemerintah akan terlibat untuk mengelola. Sebab, terkait pelestarian budaya. “Kita tunggu saja mekanisme dan pengelolaan ke depannya bagaimana,” tuturnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/