alexametrics
28.1 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Kita Memiliki Semuanya, Bahari, Religi, dan Kuliner

Berbicara soal pariwisata, Tuban sebenarnya cukup unggul dan diperhitungkan di Jawa Timur. Merujuk data jumlah kunjungan pariwisata 2019 di Jatim, posisi Tuban berada di peringkat kedua. Posisi pertama ditempati Malang Raya. Data tersebut membuktikan bahwa pariwisata di Bumi Ronggolawe memiliki gaung tersendiri. 

JAWA Pos Radar Tuban yang mengunjungi Kota Batu dan Kota Malang pada 16-17 Desember menemukan fakta bahwa pariwisata di dua kota tersebut tak banyak berubah sejak sepuluh tahun terakhir. Yang mereka jual masih sama; cuaca dingin dan tempat ke ting gian (gunung dan bukit). Makanan? Malang Raya tak memiliki makanan yang unik dan menarik untuk dijual, selain Bakso Malang. Berbeda dengan Tuban yang memiliki beragam kuliner tradisional yang khas. Mulai kare rajungan, ulas-ulas ndas mayung, becek mentok, rica-rica welut, dan kuliner seafood lainnya. Satu-satunya yang menjadikan Malang tetap seksi untuk di kunjungi adalah cuaca pegunungan yang dingin dan sejuk. Beberapa tempat kuliner di Kota Arema memiliki daya ta rik karena menjual pemandangan dari ketinggian. Untuk masakan yang dijual layaknya restoran atau warung makan lain yang sangat mainstream. Seperti olahan ayam, daging, dan sayuran. Belum ada makanan khas yang dirindukan. 

Baca Juga :  Eksotisme Pantai Masih Jadi Andalan

Kabid Pariwisata Dinas Pariwisata, Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Dispar bud pora) Tuban Suwanto membe narkan jumlah kunjungan pa riwisata di Tuban sebelum pandemi bera da di urutan ke dua se-Jawa Timur. Angkanya sekitar 7 juta orang. Sementara urutan pertama Malang Raya yang meliputi Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu. Jumlah pengunjungnya sekitar belasan juta orang. Jika head to head jumlah kun jungan dari tiga kabupaten/ kota tersebut terpisah, posisi Tuban unggul telak. Itu artinya para wisatawan merindukan suasana baru dalam berwisata. Dan, Tuban adalah jawabannya. ‘’Tuban memiliki wisata sangat lengkap, kita hanya tidak punya cuaca dingin dan suasana pegunungan,’’ kata Suwanto membandingkan dengan Malang. 

Pejabat lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta ini mengatakan, sejak lima tahun terakhir, Tuban berguru cara pengelolaan wisata ke Malang, Jogjakarta, dan Bali. Bukan tidak mungkin melihat perkembangan pariwisata yang terus tumbuh selama lima tahun terakhir, suatu saat akan membuat posisi kabupaten di pesisir pantai utara Laut Jawa tersebut melebihi keung gulan Kota Batu dan Kota Ma lang. ‘’Malang yang memiliki ke unggulan banyak perguruan tinggi negeri dan swasta ikut mendongkrak pariwisata di sana,’’ ujarnya. Jika dilihat dari tingkat kunjungan pariwisata murni, Tuban lagi-lagi unggul. Tuban memiliki wisata religi yang tidak dimiliki Malang Raya. Satu-satunya wisata religi di Malang Raya yang memiliki branding kuat hanya Masjid Turen. Sementara Tuban memiliki belasan wisata religi. Sebagian sudah tertata dan tergarap serius. ‘’Bisa dibilang saingan pariwisata di Tuban saat ini hanya Malang Raya, kami masih berguru di sana terkait pengelolaan dan manajemennya,’’ tutur dia. 

Baca Juga :  Edy Sutrisno, Merasa Rumah Sendiri, Tak Pikirkan Nilai Kontrak

Bagaimana dengan Banyuwangi? Pejabat yang tinggal di Perumahan Bukit Karang ini mengatakan, Banyuwangi unggul pada konsep pariwisata event. Kunjungan ke kabupaten di ujung timur Jawa itu akan ramai jika ada event seperti Tour De Ijen dan semacamnya. Selebihnya, kunjungan wisata masih normal di bawah Tuban. Jika dari skala 1 – 100, Malang Raya mendapatkan angka 80, angka berapa yang tepat diberikan untuk pariwisata Tuban? Suwanto mantap men jawab 75. ‘’Pariwisata Tuban di bawah sedikit Malang Raya,’’ ucap dia percaya diri. 

Berbicara soal pariwisata, Tuban sebenarnya cukup unggul dan diperhitungkan di Jawa Timur. Merujuk data jumlah kunjungan pariwisata 2019 di Jatim, posisi Tuban berada di peringkat kedua. Posisi pertama ditempati Malang Raya. Data tersebut membuktikan bahwa pariwisata di Bumi Ronggolawe memiliki gaung tersendiri. 

JAWA Pos Radar Tuban yang mengunjungi Kota Batu dan Kota Malang pada 16-17 Desember menemukan fakta bahwa pariwisata di dua kota tersebut tak banyak berubah sejak sepuluh tahun terakhir. Yang mereka jual masih sama; cuaca dingin dan tempat ke ting gian (gunung dan bukit). Makanan? Malang Raya tak memiliki makanan yang unik dan menarik untuk dijual, selain Bakso Malang. Berbeda dengan Tuban yang memiliki beragam kuliner tradisional yang khas. Mulai kare rajungan, ulas-ulas ndas mayung, becek mentok, rica-rica welut, dan kuliner seafood lainnya. Satu-satunya yang menjadikan Malang tetap seksi untuk di kunjungi adalah cuaca pegunungan yang dingin dan sejuk. Beberapa tempat kuliner di Kota Arema memiliki daya ta rik karena menjual pemandangan dari ketinggian. Untuk masakan yang dijual layaknya restoran atau warung makan lain yang sangat mainstream. Seperti olahan ayam, daging, dan sayuran. Belum ada makanan khas yang dirindukan. 

Baca Juga :  Rintis Eks Lahan Tambang sebagai Wisata

Kabid Pariwisata Dinas Pariwisata, Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Dispar bud pora) Tuban Suwanto membe narkan jumlah kunjungan pa riwisata di Tuban sebelum pandemi bera da di urutan ke dua se-Jawa Timur. Angkanya sekitar 7 juta orang. Sementara urutan pertama Malang Raya yang meliputi Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu. Jumlah pengunjungnya sekitar belasan juta orang. Jika head to head jumlah kun jungan dari tiga kabupaten/ kota tersebut terpisah, posisi Tuban unggul telak. Itu artinya para wisatawan merindukan suasana baru dalam berwisata. Dan, Tuban adalah jawabannya. ‘’Tuban memiliki wisata sangat lengkap, kita hanya tidak punya cuaca dingin dan suasana pegunungan,’’ kata Suwanto membandingkan dengan Malang. 

Pejabat lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta ini mengatakan, sejak lima tahun terakhir, Tuban berguru cara pengelolaan wisata ke Malang, Jogjakarta, dan Bali. Bukan tidak mungkin melihat perkembangan pariwisata yang terus tumbuh selama lima tahun terakhir, suatu saat akan membuat posisi kabupaten di pesisir pantai utara Laut Jawa tersebut melebihi keung gulan Kota Batu dan Kota Ma lang. ‘’Malang yang memiliki ke unggulan banyak perguruan tinggi negeri dan swasta ikut mendongkrak pariwisata di sana,’’ ujarnya. Jika dilihat dari tingkat kunjungan pariwisata murni, Tuban lagi-lagi unggul. Tuban memiliki wisata religi yang tidak dimiliki Malang Raya. Satu-satunya wisata religi di Malang Raya yang memiliki branding kuat hanya Masjid Turen. Sementara Tuban memiliki belasan wisata religi. Sebagian sudah tertata dan tergarap serius. ‘’Bisa dibilang saingan pariwisata di Tuban saat ini hanya Malang Raya, kami masih berguru di sana terkait pengelolaan dan manajemennya,’’ tutur dia. 

Baca Juga :  Mbah Marsini Dan Mbah Taminem Semangat Bersihkan Mushola

Bagaimana dengan Banyuwangi? Pejabat yang tinggal di Perumahan Bukit Karang ini mengatakan, Banyuwangi unggul pada konsep pariwisata event. Kunjungan ke kabupaten di ujung timur Jawa itu akan ramai jika ada event seperti Tour De Ijen dan semacamnya. Selebihnya, kunjungan wisata masih normal di bawah Tuban. Jika dari skala 1 – 100, Malang Raya mendapatkan angka 80, angka berapa yang tepat diberikan untuk pariwisata Tuban? Suwanto mantap men jawab 75. ‘’Pariwisata Tuban di bawah sedikit Malang Raya,’’ ucap dia percaya diri. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/