alexametrics
27.2 C
Bojonegoro
Tuesday, May 24, 2022

Jarak Tempuh 2 Jam dari Kota, Sinyal Hanya Ada di Balai Desa

Ada 21 mahasiswa dari berbagai kota lolos seleksi program Pejuang Muda di Bojonegoro. Mereka menyambangi warga Desa Kalangan, Kecamatan Margomulyo, berada di kawasan perbatasan.

SOSOK pemuda asal Desa Sumberarum, Kecamatan Dander, penuh semangat menceritakan program Pejuang Muda Bojonegoro kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (20/12). Pemuda itu bernama Ari Tri Atmaji. Mahasiswa semester tujuh Universitas Negeri Jember (Unej) itu kebetulan ketua pelaksana program Pejuang Muda Bojonegoro.
Ari Tri dibantu koordinator kabupaten, yakni Fahrul asal Kecamatan Sumberrejo. Program Pejuang Muda secara nasional diluncurkan 23 Oktober. Sebelumnya, Ari ikut proses seleksi pada awal Oktober. Penjelasan singkat terkait program Pejuang Muda terkait laboratorium sosial bagi para mahasiswa mengaplikasikan ilmu dan pengetahuan untuk memberi dampak sosial secara kongkret.
“Melalui program setara 20 SKS ini, para mahasiswa seperti saya akan ditantang belajar dari warga sekaligus berkolaborasi dengan pemerintah daerah, pemuka masyarakat, tokoh agama setempat serta seluruh stakeholder penggerak sosial di daerah,” beber alumni siswa SMAN 3 Bojonegoro itu.
Setelah Ari lolos seleksi, syukurnya penempatannya di kota kelahiran sendiri, Bojonegoro. Karena ada banyak mahasiswa juga ditempatkan di luar Pulau Jawa. “Saya juga rencananya penelitian skripsi di wilayah Bojonegoro,” tutur mahasiswa jurusan S-1 Pendidikan Masyarakat itu.
Ternyata, Pejuang Muda Bojonegoro bukan sebuah komunitas atau organisasi. Melainkan program diinisiasi Kementerian Sosial (Kemensos) bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dan Kementerian Agama (Kemenag).
Jumlah anggota Pejuang Muda Bojonegoro ada 21 mahasiswa dari berbagai kota. Meliputi Malang, Mojokerto, Blitar, Surabaya, dan Lamongan. Tugas Pejuang Muda dengan verifikasi dan validasi (verval) data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS).
Mereka mulai terjun verval pada 1 November hingga 20 Desember. Ada lima kecamatan disasar. Meliputi Dander, Bubulan, Bojonegoro Kota, Balen, dan Gayam. “Targetnya dari pusat verval 20 KPM (keluarga penerima manfaat) per hari,” imbuhnya.
Di tengah kesibukan verval DTKS itu, para anggota Pejuang Muda Bojonegoro juga mulai mempersiapkan kegiatan pengabdian masyarakat. Mereka berangkat dari program percepatan pengentasan kemiskinan ekstrem di Bojonegoro, Pejuang Muda Bojonegoro melakukan pemetaan.
Ada dua kecamatan dengan kondisi kemiskinan ekstrem yaitu Kecamatan Sekar dan Margomulyo. Namun setelah diperas lagi, diketahui kemiskinan ekstrem di Desa Kalangan, Kecamatan Margomulyo mencapai 29 persen dari jumlah KK.
“Di Desa Kalangan itu berdasar data BPS (Badan Pusat Statistik) sebanyak 156 KK (kepala keluarga) masuk DTKS dari total 538 KK. Jadi ada 29 persen dari total KK. Masyarakat di sana masuk kelompok desil satu atau pendapatan Rp 30 ribu hari,” terangnya.
Setelah ditentukan pengabdian di Desa Kalangan, mereka mulai susun proposal dikirim ke Kemensos. Namun belum beruntung, proposal gagal tembus. Sehingga, mereka harus patungan iuran dan mencari tambahan sponsor pendanaan. “Kami memilih menggarap program pemberdayaan fakir miskin dan usia lanjut,” jelasnya.
Program dikerjakan berupa pelatihan wirausaha membuat uwi ungu menjadi jajanan eggroll. “Kegiatan pelatihannya dikerjakan 15-17 Desember lalu,” ungkapnya. Sebanyak 11 peserta dari 20 undangan yang ikut pelatihan tersebut.
Alasan menggunakan uwi ungu, karena selama ini hasil panennya hanya dijual dalam bentuk mentah. “Sehingga kami ingin memberikan pelatihan mulai dari pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran eggroll berbahan uwi ungu asli Desa Kalangan,” ucapnya.
Ari menceritakan, jarak tempuh ke Desa Kalangan dari kota sekitar dua jam. Tidak ada kendala selama pengabdian di sana. Mereka menginap selama tiga hari di Balai Desa Kalangan. Balai desa merupakan satu-satunya lokasi yang ada sinyal telepon maupun internet.
Saat disinggung kelanjutan Pejuang Muda, Ari mengaku masih menunggu informasi dari Kemensos. Namun, Ari dan seluruh anggota Pejuang Muda Bojonegoro tetap akan menindaklanjuti program sudah diberikan di Desa Kalangan.

Baca Juga :  Puti Guntur Dihadiahi Kerudung Merah dan Doa oleh Sesepuh Muslimat

Ada 21 mahasiswa dari berbagai kota lolos seleksi program Pejuang Muda di Bojonegoro. Mereka menyambangi warga Desa Kalangan, Kecamatan Margomulyo, berada di kawasan perbatasan.

SOSOK pemuda asal Desa Sumberarum, Kecamatan Dander, penuh semangat menceritakan program Pejuang Muda Bojonegoro kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (20/12). Pemuda itu bernama Ari Tri Atmaji. Mahasiswa semester tujuh Universitas Negeri Jember (Unej) itu kebetulan ketua pelaksana program Pejuang Muda Bojonegoro.
Ari Tri dibantu koordinator kabupaten, yakni Fahrul asal Kecamatan Sumberrejo. Program Pejuang Muda secara nasional diluncurkan 23 Oktober. Sebelumnya, Ari ikut proses seleksi pada awal Oktober. Penjelasan singkat terkait program Pejuang Muda terkait laboratorium sosial bagi para mahasiswa mengaplikasikan ilmu dan pengetahuan untuk memberi dampak sosial secara kongkret.
“Melalui program setara 20 SKS ini, para mahasiswa seperti saya akan ditantang belajar dari warga sekaligus berkolaborasi dengan pemerintah daerah, pemuka masyarakat, tokoh agama setempat serta seluruh stakeholder penggerak sosial di daerah,” beber alumni siswa SMAN 3 Bojonegoro itu.
Setelah Ari lolos seleksi, syukurnya penempatannya di kota kelahiran sendiri, Bojonegoro. Karena ada banyak mahasiswa juga ditempatkan di luar Pulau Jawa. “Saya juga rencananya penelitian skripsi di wilayah Bojonegoro,” tutur mahasiswa jurusan S-1 Pendidikan Masyarakat itu.
Ternyata, Pejuang Muda Bojonegoro bukan sebuah komunitas atau organisasi. Melainkan program diinisiasi Kementerian Sosial (Kemensos) bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dan Kementerian Agama (Kemenag).
Jumlah anggota Pejuang Muda Bojonegoro ada 21 mahasiswa dari berbagai kota. Meliputi Malang, Mojokerto, Blitar, Surabaya, dan Lamongan. Tugas Pejuang Muda dengan verifikasi dan validasi (verval) data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS).
Mereka mulai terjun verval pada 1 November hingga 20 Desember. Ada lima kecamatan disasar. Meliputi Dander, Bubulan, Bojonegoro Kota, Balen, dan Gayam. “Targetnya dari pusat verval 20 KPM (keluarga penerima manfaat) per hari,” imbuhnya.
Di tengah kesibukan verval DTKS itu, para anggota Pejuang Muda Bojonegoro juga mulai mempersiapkan kegiatan pengabdian masyarakat. Mereka berangkat dari program percepatan pengentasan kemiskinan ekstrem di Bojonegoro, Pejuang Muda Bojonegoro melakukan pemetaan.
Ada dua kecamatan dengan kondisi kemiskinan ekstrem yaitu Kecamatan Sekar dan Margomulyo. Namun setelah diperas lagi, diketahui kemiskinan ekstrem di Desa Kalangan, Kecamatan Margomulyo mencapai 29 persen dari jumlah KK.
“Di Desa Kalangan itu berdasar data BPS (Badan Pusat Statistik) sebanyak 156 KK (kepala keluarga) masuk DTKS dari total 538 KK. Jadi ada 29 persen dari total KK. Masyarakat di sana masuk kelompok desil satu atau pendapatan Rp 30 ribu hari,” terangnya.
Setelah ditentukan pengabdian di Desa Kalangan, mereka mulai susun proposal dikirim ke Kemensos. Namun belum beruntung, proposal gagal tembus. Sehingga, mereka harus patungan iuran dan mencari tambahan sponsor pendanaan. “Kami memilih menggarap program pemberdayaan fakir miskin dan usia lanjut,” jelasnya.
Program dikerjakan berupa pelatihan wirausaha membuat uwi ungu menjadi jajanan eggroll. “Kegiatan pelatihannya dikerjakan 15-17 Desember lalu,” ungkapnya. Sebanyak 11 peserta dari 20 undangan yang ikut pelatihan tersebut.
Alasan menggunakan uwi ungu, karena selama ini hasil panennya hanya dijual dalam bentuk mentah. “Sehingga kami ingin memberikan pelatihan mulai dari pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran eggroll berbahan uwi ungu asli Desa Kalangan,” ucapnya.
Ari menceritakan, jarak tempuh ke Desa Kalangan dari kota sekitar dua jam. Tidak ada kendala selama pengabdian di sana. Mereka menginap selama tiga hari di Balai Desa Kalangan. Balai desa merupakan satu-satunya lokasi yang ada sinyal telepon maupun internet.
Saat disinggung kelanjutan Pejuang Muda, Ari mengaku masih menunggu informasi dari Kemensos. Namun, Ari dan seluruh anggota Pejuang Muda Bojonegoro tetap akan menindaklanjuti program sudah diberikan di Desa Kalangan.

Baca Juga :  Tak Bisa Diolah, Sampah Diapers Kian Bahayakan Ekosistem Air

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/