alexametrics
24 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

DLH Bakal Bangun Laboratorium Air

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Laboratorium air bakal dibangun tahun depan. Itu untuk mempermudah proses uji kualitas air Sungai Bengawan Solo. Sebab, uji air bengawan itu dilakukan secara rutin tiga bulan. Dan selama ini uji lab harus ke luar kota.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro Hanafi menjelaskan, pembangunan laboratorium  direncanakan tahun depan. Tidak hanya untuk air. Laboratorium rencananya juga untuk udara dan tanah. Sehingga, saat akan melakukan uji tidak harus ke luar kota. 

’’Pencemaran itu kan indikatornya tiga. Air, udara, dan tanah,’’ ujarnya ketika ditemui kemarin (20/12).

Sejauh ini, lanjut Hanafi, yang baru bisa dilakukan di Bojonegoro adalah uji kualitas udara. DLH sudah memiliki alat yang bisa mengukur kualitas udara dan suhu. Sehingga, tidak perlu ke luar kota untuk mengukurnya. 

Baca Juga :  Dua Bulan Bengawan Tercemar, Bakorwil Janji Tinjau Lokasi

’’Jika ada laboratoriumnya, akan lebih maksimal,’’ ungkap mantan kepala dinas pendidikan (disdik) itu.

Untuk uji kualitas air dan tanah masih harus dilakukan di luar kota. Sebab, pengujiannya membutuhkan alat-alat laboratorium. Uji kualitas air adalah yang paling sering dilakukan. Terutama uji kualitas air Bengawan Solo. Sebab, uji kandungan air dilakukan selama tiga bulan sekali. 

’’Uji kualitas air dilakukan di Mojokerto. Waktunya juga lama. Sekitar dua minggu. Jika kita punya laboratorium  akan lebih cepat,’’ ujar pria tinggal di Kecamatan Sumberrejo itu.

Baru-baru ini, lanjut Hanafi, uji air Sungai Bengawan Solo yang diajukan November lalu sudah turun. Dari hasil uji itu diketahui bahwa air di sungai terpanjang Pulau Jawa itu tercemar limbah tekstil. 

Baca Juga :  Wayang Thengul Rawan Mandul, Tersisa Tiga Perajin dan 13 Dalang

’’Itu hasil sampel yang diambil bulan lalu. Saat ini kondisi Bengawan Solo sudah bagus,’’ jelasnya.

Kualitas air bengawan sudah mulai bagus karena sudah ada kiriman air hujan. Sehingga, debit air sudah bertambah. Warna air juga berubah keruh. Tidak hitam seperti saat musim kemarau lalu. ’’Jika kita punya laboratorium sendiri akan lebih cepat mengetahui hasilnya,’’ bebernya. 

Sementara itu, sehari sebelumnya, Bengawan Solo mengalami air keruh dan memicu ikan mabuk. Warga sepanjang daerah aliran sungai (DAS) berebut ikan bengawan.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Laboratorium air bakal dibangun tahun depan. Itu untuk mempermudah proses uji kualitas air Sungai Bengawan Solo. Sebab, uji air bengawan itu dilakukan secara rutin tiga bulan. Dan selama ini uji lab harus ke luar kota.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro Hanafi menjelaskan, pembangunan laboratorium  direncanakan tahun depan. Tidak hanya untuk air. Laboratorium rencananya juga untuk udara dan tanah. Sehingga, saat akan melakukan uji tidak harus ke luar kota. 

’’Pencemaran itu kan indikatornya tiga. Air, udara, dan tanah,’’ ujarnya ketika ditemui kemarin (20/12).

Sejauh ini, lanjut Hanafi, yang baru bisa dilakukan di Bojonegoro adalah uji kualitas udara. DLH sudah memiliki alat yang bisa mengukur kualitas udara dan suhu. Sehingga, tidak perlu ke luar kota untuk mengukurnya. 

Baca Juga :  Senang Jadi Guru Privat

’’Jika ada laboratoriumnya, akan lebih maksimal,’’ ungkap mantan kepala dinas pendidikan (disdik) itu.

Untuk uji kualitas air dan tanah masih harus dilakukan di luar kota. Sebab, pengujiannya membutuhkan alat-alat laboratorium. Uji kualitas air adalah yang paling sering dilakukan. Terutama uji kualitas air Bengawan Solo. Sebab, uji kandungan air dilakukan selama tiga bulan sekali. 

’’Uji kualitas air dilakukan di Mojokerto. Waktunya juga lama. Sekitar dua minggu. Jika kita punya laboratorium  akan lebih cepat,’’ ujar pria tinggal di Kecamatan Sumberrejo itu.

Baru-baru ini, lanjut Hanafi, uji air Sungai Bengawan Solo yang diajukan November lalu sudah turun. Dari hasil uji itu diketahui bahwa air di sungai terpanjang Pulau Jawa itu tercemar limbah tekstil. 

Baca Juga :  Pasca Ambruk, Sejumlah Jalan di Lamongan - Bojonegoro Alami Kemacetan

’’Itu hasil sampel yang diambil bulan lalu. Saat ini kondisi Bengawan Solo sudah bagus,’’ jelasnya.

Kualitas air bengawan sudah mulai bagus karena sudah ada kiriman air hujan. Sehingga, debit air sudah bertambah. Warna air juga berubah keruh. Tidak hitam seperti saat musim kemarau lalu. ’’Jika kita punya laboratorium sendiri akan lebih cepat mengetahui hasilnya,’’ bebernya. 

Sementara itu, sehari sebelumnya, Bengawan Solo mengalami air keruh dan memicu ikan mabuk. Warga sepanjang daerah aliran sungai (DAS) berebut ikan bengawan.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/