alexametrics
22.5 C
Bojonegoro
Thursday, June 30, 2022

Satu Napiter Dapatkan Justice Collaborator

LAMONGAN, Radar Lamongan – Densus 88 memberikan justice collaborator (JC) terhadap  Galih, salah satu napi teroris (napiter) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Lamongan. Perakit Bom Pok JI, MMI, dan Tim Hisbah itu dinyatakan bebas dan pulang ke Trenggalek kemarin pagi (20/9).

‘’Galih sudah dua tahun lebih ditahan di Lapas Lamongan. Total remisi yang didapatkan Galih selama 20 bulan,’’ tutur Kalapas Kelas II B Lamongan, Ignasius Gunadi kepada Jawa Pos Radar Lamongan.

Dia menjelaskan, Galih menunjukkan penurunan radikalisme sejak setahun terakhir. Sebelumnya dia mengikuti deradikalisasi dari BNPT. Setelah bersedia bergabung dengan NKRI melalui surat pernyataan tertulis, Galih mendapatkan justice collaborator dari Densus. Yakni berupa remisi bebas.

Terhitung sudah dua kali Lapas Kelas II B Lamongan membebaskan napiter. Sebelum Galih, ada nama Tony Sarunggalih. Kini masih terdapat satu napiter yang ditahan. Dia adalah Yusuf.

Baca Juga :  Batal Sparing dengan Tim Selevel

‘’Dalam prosesnya kita menggunakan pendekatan humanis. Tapi ini semua berkat peran dari masyarakat dan keluarga,’’ imbuhnya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh wartawan koran ini, Galih ditangkap tiga kali. Pria berdomisili di Trenggalek itu ditangkap karena membawa bahan peledak saat operasi cipta kondisi di depan Mapolres Magetan pada 2011.

Tiga tahun berikutnya, Galih kembali beraksi. Dia ditangkap ketika hendak mengirim paket bom pipa ke Singkang Wajo, Sulsel di Bandara Soekarno Hatta. Namun Galih tak jera.

Ketika masih ditahan di Lapas Pasuruan dua tahun lalu, Galih terbukti merakit benda mencurigakan yang diduga bom di dalam sel isolasinya. Dia ketahuan setelah petugas melakukan razia rutin.

Jika dihitung, maka Galih sudah dipindahkan di tujuh lapas hingga akhirnya mendapatkan remisi bebas di Lapas Kelas II B Lamongan.

Baca Juga :  Banjir Bengawan Jero Masih Meluas, Ancaman Gelombang Tinggi di Pantura

Dalam aksinya, Galih memiliki banyak nama samaran. Di antarantya Goli, Bambang Ari Wibowo, Hari Rahayu, Mbah Marijan, Andi Salman, dan Hasby Raihan Bin Sumardi. Itu dilakukan untuk menghilangkan jejak.

‘’Galih pernah menempati lapas di Jawa Barat dan Jawa Timur,’’ tutur Ignasius.

Dengan wajah berseri-seri, Galih pulang ke Trenggalek diantar anggota Yayasan Lingkar Perdamaian Lamongan. Galih menyatakan siap untuk NKRI serta siap sumbangsih keringat dan tenaga agar Indonesia memiliki nilai di mata dunia.

‘’Habis ini mau pulang bertemu keluarga. Rencananya membuka warung di Trenggalek. Insya Allah siap NKRI,’’ katanya.

Galih menuturkan, dirinya kini menanamkan dakwah melalui keluarga. Apa yang dilakukannya selama ini, dinilainya kurang tepat. Selama ini, dirinya hanya fokus untuk mengajak orang lain beribadah.

‘’Untuk dakwah itu harus dimulai dari keluarga,’’ ujarnya.

LAMONGAN, Radar Lamongan – Densus 88 memberikan justice collaborator (JC) terhadap  Galih, salah satu napi teroris (napiter) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Lamongan. Perakit Bom Pok JI, MMI, dan Tim Hisbah itu dinyatakan bebas dan pulang ke Trenggalek kemarin pagi (20/9).

‘’Galih sudah dua tahun lebih ditahan di Lapas Lamongan. Total remisi yang didapatkan Galih selama 20 bulan,’’ tutur Kalapas Kelas II B Lamongan, Ignasius Gunadi kepada Jawa Pos Radar Lamongan.

Dia menjelaskan, Galih menunjukkan penurunan radikalisme sejak setahun terakhir. Sebelumnya dia mengikuti deradikalisasi dari BNPT. Setelah bersedia bergabung dengan NKRI melalui surat pernyataan tertulis, Galih mendapatkan justice collaborator dari Densus. Yakni berupa remisi bebas.

Terhitung sudah dua kali Lapas Kelas II B Lamongan membebaskan napiter. Sebelum Galih, ada nama Tony Sarunggalih. Kini masih terdapat satu napiter yang ditahan. Dia adalah Yusuf.

Baca Juga :  Rela Bekerja demi Kuliah

‘’Dalam prosesnya kita menggunakan pendekatan humanis. Tapi ini semua berkat peran dari masyarakat dan keluarga,’’ imbuhnya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh wartawan koran ini, Galih ditangkap tiga kali. Pria berdomisili di Trenggalek itu ditangkap karena membawa bahan peledak saat operasi cipta kondisi di depan Mapolres Magetan pada 2011.

Tiga tahun berikutnya, Galih kembali beraksi. Dia ditangkap ketika hendak mengirim paket bom pipa ke Singkang Wajo, Sulsel di Bandara Soekarno Hatta. Namun Galih tak jera.

Ketika masih ditahan di Lapas Pasuruan dua tahun lalu, Galih terbukti merakit benda mencurigakan yang diduga bom di dalam sel isolasinya. Dia ketahuan setelah petugas melakukan razia rutin.

Jika dihitung, maka Galih sudah dipindahkan di tujuh lapas hingga akhirnya mendapatkan remisi bebas di Lapas Kelas II B Lamongan.

Baca Juga :  Tinggal Menjalankan Ibadah Sunah

Dalam aksinya, Galih memiliki banyak nama samaran. Di antarantya Goli, Bambang Ari Wibowo, Hari Rahayu, Mbah Marijan, Andi Salman, dan Hasby Raihan Bin Sumardi. Itu dilakukan untuk menghilangkan jejak.

‘’Galih pernah menempati lapas di Jawa Barat dan Jawa Timur,’’ tutur Ignasius.

Dengan wajah berseri-seri, Galih pulang ke Trenggalek diantar anggota Yayasan Lingkar Perdamaian Lamongan. Galih menyatakan siap untuk NKRI serta siap sumbangsih keringat dan tenaga agar Indonesia memiliki nilai di mata dunia.

‘’Habis ini mau pulang bertemu keluarga. Rencananya membuka warung di Trenggalek. Insya Allah siap NKRI,’’ katanya.

Galih menuturkan, dirinya kini menanamkan dakwah melalui keluarga. Apa yang dilakukannya selama ini, dinilainya kurang tepat. Selama ini, dirinya hanya fokus untuk mengajak orang lain beribadah.

‘’Untuk dakwah itu harus dimulai dari keluarga,’’ ujarnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/