alexametrics
25.2 C
Bojonegoro
Sunday, August 14, 2022

Merasa Kesulitan Cari Bahan Baku

- Advertisement -

MAYORITAS penjual tanaman menggunakan polybag berbahan dasar plastik. Anis Mahmuda Chafsah dan Siti Noersiyah Samsuri mencoba membuat polybag biodegradable dengan bahan dasar ampas tebu dan biji alpukat.

Anis masih mengingat saat mendapatkan tugas untuk mengikuti kejuaraan parade cinta tanah air  tingkat Provinsi Jatim. Dia mencoba menemukan permasalahan dan solusi yang bisa dikerjakan dalam waktu singkat.

Pilihannya, mengurangi tingginya sampah plastik yang beredar di Lamongan. Apalagi, Anis membaca himbauan Kementrian Pertanian untuk memperbanyak bibit tanaman. Produksi bibit tanaman tersebut selama ini memanfaatkan polybag sebagai wadahnya. Polybag plastik memiliki banyak keunggulan. Di antaranya, tahan air, ringan, dan harganya terjangkau.

Kekurangannya, bahan bakunya dari plastik, tidak mudah terurai dan terdegradasi oleh deraan hujan juga panas. “Akhirnya kita berpikir jika masalah ini cukup menarik untuk diangkat sebagai bahan penelitian,” ujar pelajar kelas XI itu.

Baca Juga :  Ganggu Keindahan

Aisyah lalu bertugas mencari literatur bahan organik untuk mengganti polybag. Ampas tahu dan biji alpukat dinilai bisa menjadi polybag biodegradable setelah dilakukan sejumlah pendekatan ilmiah.

- Advertisement -

Bahan itu cukup ramah lingkungan dan menjadi peluang komoditi untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Polybag biodegradabel juga dianggap praktis karena dapat langsung ditanam tanpa harus membuka wadahnya. Tidak seperti polybag plastik. Meskipun, ampas tahu dan biji alpukat sulit ditemui di Kabupaten Lamongan.

Cara pembuatan polybag biodegradable cukup  sederhana. Pertama, menyiapkan alat dan bahan seperti ampas tebu, biji alpukat, tepung, air, baskom, oven, dan cetakan. Ampas tebu yang sudah dikeringkan, digiling sampai halus.

Biji alpukat yang ada dijemur dan kemudian haluskan. Setelah itu, ampas tebu, biji alpukat, tepung, dicampur dengan air sesuai kebutuhan.

Adonan yang ada bisa dimasukkan ke cetakan. Selanjutnya, cetakan dimasukkan oven dengan suhu sekitar 200 derajat celcius. Hasil cetakan dikeringkan dulu di bawah sinar matahari selama sehari pada suhu sekitar 30 derajat celcius. Jika selesai, maka polybag bisa digunakan.

Baca Juga :  Lihat Kolam, Ingin Berenang

‘’Kalau pengembangan belum. Jika melihat permasalahan lain, untuk perbaikan penelitian sedang dilakukan,” tutur Anis.

Sumber data Husin dan Oktavia, 2014, menyebutkan,  40 persen ampas tebu belum dimanfaatkan.  Kadar serat pada ampas tebu sekitar 44 – 48 persen. Kandungan selulosa yang cukup tinggi memberikan sifat kuat pada serat ampas tebu.

Sementara  produksi buah alpukat di Indonesia pada 2015 terdata 384.836 ton. Biji alpukat selama ini hanya menjadi limbah yang dibuang. Biji tersebut mengandung pati, gula pereduksi, serat, arabinosa, pentosa, dan protein. ‘’Kita lakukan pendekatan ilmiah dan percobaan, meski masih kesulitan untuk mendapatkan biji alpukat karena bukan termasuk dataran tinggi,” tutur Aisyah.

Dari Parade Cinta Tanah Air Jatim, Juli lalu,  kedua pelajar dari SMAN 1 Lamongan itu berhasil meraih medali perak.

MAYORITAS penjual tanaman menggunakan polybag berbahan dasar plastik. Anis Mahmuda Chafsah dan Siti Noersiyah Samsuri mencoba membuat polybag biodegradable dengan bahan dasar ampas tebu dan biji alpukat.

Anis masih mengingat saat mendapatkan tugas untuk mengikuti kejuaraan parade cinta tanah air  tingkat Provinsi Jatim. Dia mencoba menemukan permasalahan dan solusi yang bisa dikerjakan dalam waktu singkat.

Pilihannya, mengurangi tingginya sampah plastik yang beredar di Lamongan. Apalagi, Anis membaca himbauan Kementrian Pertanian untuk memperbanyak bibit tanaman. Produksi bibit tanaman tersebut selama ini memanfaatkan polybag sebagai wadahnya. Polybag plastik memiliki banyak keunggulan. Di antaranya, tahan air, ringan, dan harganya terjangkau.

Kekurangannya, bahan bakunya dari plastik, tidak mudah terurai dan terdegradasi oleh deraan hujan juga panas. “Akhirnya kita berpikir jika masalah ini cukup menarik untuk diangkat sebagai bahan penelitian,” ujar pelajar kelas XI itu.

Baca Juga :  Hari Pertama Kerja, Langsung Konsolidasi dan Sinkronisasi Internal

Aisyah lalu bertugas mencari literatur bahan organik untuk mengganti polybag. Ampas tahu dan biji alpukat dinilai bisa menjadi polybag biodegradable setelah dilakukan sejumlah pendekatan ilmiah.

- Advertisement -

Bahan itu cukup ramah lingkungan dan menjadi peluang komoditi untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Polybag biodegradabel juga dianggap praktis karena dapat langsung ditanam tanpa harus membuka wadahnya. Tidak seperti polybag plastik. Meskipun, ampas tahu dan biji alpukat sulit ditemui di Kabupaten Lamongan.

Cara pembuatan polybag biodegradable cukup  sederhana. Pertama, menyiapkan alat dan bahan seperti ampas tebu, biji alpukat, tepung, air, baskom, oven, dan cetakan. Ampas tebu yang sudah dikeringkan, digiling sampai halus.

Biji alpukat yang ada dijemur dan kemudian haluskan. Setelah itu, ampas tebu, biji alpukat, tepung, dicampur dengan air sesuai kebutuhan.

Adonan yang ada bisa dimasukkan ke cetakan. Selanjutnya, cetakan dimasukkan oven dengan suhu sekitar 200 derajat celcius. Hasil cetakan dikeringkan dulu di bawah sinar matahari selama sehari pada suhu sekitar 30 derajat celcius. Jika selesai, maka polybag bisa digunakan.

Baca Juga :  Korsleting, Lantai Dua Rumah Terbakar

‘’Kalau pengembangan belum. Jika melihat permasalahan lain, untuk perbaikan penelitian sedang dilakukan,” tutur Anis.

Sumber data Husin dan Oktavia, 2014, menyebutkan,  40 persen ampas tebu belum dimanfaatkan.  Kadar serat pada ampas tebu sekitar 44 – 48 persen. Kandungan selulosa yang cukup tinggi memberikan sifat kuat pada serat ampas tebu.

Sementara  produksi buah alpukat di Indonesia pada 2015 terdata 384.836 ton. Biji alpukat selama ini hanya menjadi limbah yang dibuang. Biji tersebut mengandung pati, gula pereduksi, serat, arabinosa, pentosa, dan protein. ‘’Kita lakukan pendekatan ilmiah dan percobaan, meski masih kesulitan untuk mendapatkan biji alpukat karena bukan termasuk dataran tinggi,” tutur Aisyah.

Dari Parade Cinta Tanah Air Jatim, Juli lalu,  kedua pelajar dari SMAN 1 Lamongan itu berhasil meraih medali perak.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/