alexametrics
22.7 C
Bojonegoro
Friday, July 1, 2022

Dilema Tindak Pembuang Sampah

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Penindakan terhadap pembuang sampah ke Sungai Bengawan Solo, masih sulit diterapkan. Dinas terkait belum berani menindak tegas meski sudah terdapat peraturan daerah (perda).

Begitu pun, ketersediaan sarana prasarana untuk menampung sampah di tiap sudut desa, kecamatan, hingga kota masih perlu dioptimalkan. Diperlukan kebijakan khusus setelah temuan sampah-sampah terbungkus plastik berserakan di dasar Bengawan Solo. Persisnya di daerah aliran sungai (DAS) Desa Kauman, Kelurahan Jetak; Kelurahan Klangon; Kelurahan Ledok Kulon; Kecamatan Kota, serta di sepanjang Desa/Kecamatan Trucuk.

Kepala Desa Trucuk Sunoko mengeluhkan tidak adanya truk pengangkut sampah di wilayahnya. Sehingga, pihaknya merasa tak bisa menahan atau menindak tegas warganya yang buang sampah sembarangan, khususnya di bantaran Bengawan Solo.

Selama ini, menurut Sunoko, tong atau bak sampah sudah ada di setiap rumah warga. Tapi tidak ada yang menyisir sampah-sampah tersebut. “Masalahnya sampah-sampah itu tidak ada yang mengangkut ke TPS (tempat pembuangan sementara) atau TPA (tempat pembuangan akhir). Tak semua warga juga sadar mengangkut sampahnya sendiri ke TPS,” ujar Kades yang belum lama menjabat ini.

Baca Juga :  12 Tahun Membangun Generasi Qurani dan Deklarasi Sekolah Ramah Anak

Hal senada diungkapkan Lurah Jetak Sumani. Menurut dia, tumpukan sampah di bantaran Bengawan Solo memang tak terelakkan. Karena lima dari sembilan RT di Kelurahan Jetak yang berada di bantaran rata-rata kesadarannya untuk hidup bersih bisa dibilang masih rendah.

Namun, rendahnya kesadaran itu juga disebabkan kurangnya sarana prasarana pengangkut sampah. Bahkan selain masalah sampah, warganya juga terus mendorong agar lebih banyak pohon yang ditanam di bantaran agar tidak mudah longsor.

Sumani mendorong warganya agar diadakan acara bersih-bersih sampah secara rutin. Seperti sebulan sekali atau dua bulan sekali. Karena itu, selama ini ia merasa dilema kalau hendak menindak tegas atau beri sanksi kepada warganya yang buang sampah sembarangan.

“Menumbuhkan kesadaran hidup bersih butuh waktu, pelan-pelan dibenahi dulu sarana prasarananya,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro Nurul Azizah juga mengakui segala keterbatasan itu. Karena tentu terbentur masalah anggaran. Tindakan secepatnya dengan mengupayakan satu desa satu bank sampah (SDSBS). Pihaknya mulai menyurvei 215 desa yang sudah mengajukan proposal pembangunan bank sampah.

Baca Juga :  Disidak Anji dan Disawer Rp 600 Ribu, Dipakai Beli Seragam

Apabila dinilai mumpuni mengelola bank sampah, pada 2020 mendatang akan difasilitasi bank sampah. “Kalau anggarannya ada, tahun depan cukup, kami upayakan juga pengadaan motor roda tiga mengangkut sampah,” ujar Nurul, sapaannya.

Menurutnya, mengubah pola pikir menjaga lingkungan butuh waktu. Apabila sarana prasarana sudah mumpuni, pihaknya tentu akan lebih tegas menindak para pembuang sampah sembarangan. Karena ke depannya tak hanya buang sampah pada tempatnya, tetapi juga perlu diedukasi pemilihan sampah organik dan anorganik.

“Jadi pemilahan sampah itu bisa dimanfaatkan secara optimal, sampah organik bisa jadi pupuk kompos. Lalu sampah anorganik bisa didaur ulang atau dijual ke pengepul barang bekas,” ujar mantan Camat Kalitidu itu.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Penindakan terhadap pembuang sampah ke Sungai Bengawan Solo, masih sulit diterapkan. Dinas terkait belum berani menindak tegas meski sudah terdapat peraturan daerah (perda).

Begitu pun, ketersediaan sarana prasarana untuk menampung sampah di tiap sudut desa, kecamatan, hingga kota masih perlu dioptimalkan. Diperlukan kebijakan khusus setelah temuan sampah-sampah terbungkus plastik berserakan di dasar Bengawan Solo. Persisnya di daerah aliran sungai (DAS) Desa Kauman, Kelurahan Jetak; Kelurahan Klangon; Kelurahan Ledok Kulon; Kecamatan Kota, serta di sepanjang Desa/Kecamatan Trucuk.

Kepala Desa Trucuk Sunoko mengeluhkan tidak adanya truk pengangkut sampah di wilayahnya. Sehingga, pihaknya merasa tak bisa menahan atau menindak tegas warganya yang buang sampah sembarangan, khususnya di bantaran Bengawan Solo.

Selama ini, menurut Sunoko, tong atau bak sampah sudah ada di setiap rumah warga. Tapi tidak ada yang menyisir sampah-sampah tersebut. “Masalahnya sampah-sampah itu tidak ada yang mengangkut ke TPS (tempat pembuangan sementara) atau TPA (tempat pembuangan akhir). Tak semua warga juga sadar mengangkut sampahnya sendiri ke TPS,” ujar Kades yang belum lama menjabat ini.

Baca Juga :  Korbankan Banyak Pohon, Proyek Drainase Harus Bisa Atasi Banjir

Hal senada diungkapkan Lurah Jetak Sumani. Menurut dia, tumpukan sampah di bantaran Bengawan Solo memang tak terelakkan. Karena lima dari sembilan RT di Kelurahan Jetak yang berada di bantaran rata-rata kesadarannya untuk hidup bersih bisa dibilang masih rendah.

Namun, rendahnya kesadaran itu juga disebabkan kurangnya sarana prasarana pengangkut sampah. Bahkan selain masalah sampah, warganya juga terus mendorong agar lebih banyak pohon yang ditanam di bantaran agar tidak mudah longsor.

Sumani mendorong warganya agar diadakan acara bersih-bersih sampah secara rutin. Seperti sebulan sekali atau dua bulan sekali. Karena itu, selama ini ia merasa dilema kalau hendak menindak tegas atau beri sanksi kepada warganya yang buang sampah sembarangan.

“Menumbuhkan kesadaran hidup bersih butuh waktu, pelan-pelan dibenahi dulu sarana prasarananya,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro Nurul Azizah juga mengakui segala keterbatasan itu. Karena tentu terbentur masalah anggaran. Tindakan secepatnya dengan mengupayakan satu desa satu bank sampah (SDSBS). Pihaknya mulai menyurvei 215 desa yang sudah mengajukan proposal pembangunan bank sampah.

Baca Juga :  Menang 5-1, Mental Pemain Bangkit

Apabila dinilai mumpuni mengelola bank sampah, pada 2020 mendatang akan difasilitasi bank sampah. “Kalau anggarannya ada, tahun depan cukup, kami upayakan juga pengadaan motor roda tiga mengangkut sampah,” ujar Nurul, sapaannya.

Menurutnya, mengubah pola pikir menjaga lingkungan butuh waktu. Apabila sarana prasarana sudah mumpuni, pihaknya tentu akan lebih tegas menindak para pembuang sampah sembarangan. Karena ke depannya tak hanya buang sampah pada tempatnya, tetapi juga perlu diedukasi pemilihan sampah organik dan anorganik.

“Jadi pemilahan sampah itu bisa dimanfaatkan secara optimal, sampah organik bisa jadi pupuk kompos. Lalu sampah anorganik bisa didaur ulang atau dijual ke pengepul barang bekas,” ujar mantan Camat Kalitidu itu.

Artikel Terkait

Most Read

Jumlah Penonton Justru Turun

Ada Kemungkinan Perubahan Dapil 

Artikel Terbaru


/