32.4 C
Bojonegoro
Thursday, June 1, 2023

Akui Pelebaran Jalan Lambat

- Advertisement -

SUKODADI – Pelaksanaan pelebaran dan peningkatan jalan SukodadiSumberwudi masih 10 persen. Kepala Bidang Jalan Kabupaten DPU Bina Marga Lamongan, Dandoko Hadi, menyatakan, pelaksanaan pelebaran dan peningkatan jalan memang lambat. Penyebabnya, pelaksanaan kembali menerapkan sistem kontraktual. Proses lelangnya membutuhkan waktu lama. Selain itu, pencairan dana pusat harus menunggu rencana lengkap.

“Pe laksanaannya baru dimulai sekitar semester dua,” ujarnya. Menurut Dandoko, enam titik yang menjadi program prioritas pembangunan belum ada yang 50 persen pengerjaannya. Paling banter, 47 persen di jalan Tikung – Kembangbahu. Selebihnya di bawah itu. Perbaikan jalan Bluluk – Sukorame masih 30 persen, Turi – Kuringan 15 persen, Sumberwudi – Maduran 27 persen, Sukodadi – Sumberwudi 10 persen, dan Deket-Soko 6 persen. Dandoko menjelaskan, pemeliharaan jalan dibutuhkan terus.

Sebab, kendaraan melintas tidak bisa dibatasi tonasenya. Sampai sekarang, perbaikan masih mengandalkan anggaran pusat. Tahun ini, perbaikan jalan kabupaten melalui dana alokasi khusus (DAK) dianggarkan Rp 50 miliar. Jumlah tersebut masih bisa bertambah pada perubahan anggaran nantinya karena target perbaikannya terus ditambah. Dandoko menambahkan, target pembangunan ini harus selesai sebelum tutup buku.

Rekanan harus bisa menyelesaikan sesuai dengan skema yang diusulkan. Menurut dia, perbaikan jalan kabupaten menjadi prioritas pemerintah. Sebab, kontruksinya harus diubah semua. Sebelumnya jalan mengandalkan aspal. Kemampuan bangunannya hanya beratahan sekitar satu tahun. Karena itu, setiap titik yang digarap tahun ini tidak lebar. Sebab kontruksinya memanfaatkan cor beton. Misalkan jalan Sukodadi – Sumberwudi, hanya sepanjang 3.165 meter. “Itupun pengerjaannya per spot, tidak langsung panjang,” ujarnya.

SUKODADI – Pelaksanaan pelebaran dan peningkatan jalan SukodadiSumberwudi masih 10 persen. Kepala Bidang Jalan Kabupaten DPU Bina Marga Lamongan, Dandoko Hadi, menyatakan, pelaksanaan pelebaran dan peningkatan jalan memang lambat. Penyebabnya, pelaksanaan kembali menerapkan sistem kontraktual. Proses lelangnya membutuhkan waktu lama. Selain itu, pencairan dana pusat harus menunggu rencana lengkap.

“Pe laksanaannya baru dimulai sekitar semester dua,” ujarnya. Menurut Dandoko, enam titik yang menjadi program prioritas pembangunan belum ada yang 50 persen pengerjaannya. Paling banter, 47 persen di jalan Tikung – Kembangbahu. Selebihnya di bawah itu. Perbaikan jalan Bluluk – Sukorame masih 30 persen, Turi – Kuringan 15 persen, Sumberwudi – Maduran 27 persen, Sukodadi – Sumberwudi 10 persen, dan Deket-Soko 6 persen. Dandoko menjelaskan, pemeliharaan jalan dibutuhkan terus.

Sebab, kendaraan melintas tidak bisa dibatasi tonasenya. Sampai sekarang, perbaikan masih mengandalkan anggaran pusat. Tahun ini, perbaikan jalan kabupaten melalui dana alokasi khusus (DAK) dianggarkan Rp 50 miliar. Jumlah tersebut masih bisa bertambah pada perubahan anggaran nantinya karena target perbaikannya terus ditambah. Dandoko menambahkan, target pembangunan ini harus selesai sebelum tutup buku.

Rekanan harus bisa menyelesaikan sesuai dengan skema yang diusulkan. Menurut dia, perbaikan jalan kabupaten menjadi prioritas pemerintah. Sebab, kontruksinya harus diubah semua. Sebelumnya jalan mengandalkan aspal. Kemampuan bangunannya hanya beratahan sekitar satu tahun. Karena itu, setiap titik yang digarap tahun ini tidak lebar. Sebab kontruksinya memanfaatkan cor beton. Misalkan jalan Sukodadi – Sumberwudi, hanya sepanjang 3.165 meter. “Itupun pengerjaannya per spot, tidak langsung panjang,” ujarnya.

Artikel Terkait

Most Read

DPRD Bisa Bentuk Pansus Jembatan

Terinspirasi Sang Kakak

Masih Terdata 118 MPU

Artikel Terbaru


/