alexametrics
26.5 C
Bojonegoro
Tuesday, May 17, 2022

Harga Garam Setara Beras

TUBAN – Seiring dengan menipisnya pasokan garam secara nasional, kini harga garam di pasaran semakin ‘’asin’’. Tak tanggung-tanggung, di tingkat eceran, saat ini harga komoditas ini menembus Rp 6 ribu per kilogram (kg). Hampir setara dengan harga beras kelas bawah yang rata-rata Rp 6.500-7.000 per kg.

Selain harganya yang mahal, pasokan komoditas berbentuk kristal padat berwarna putih ini juga semakin menipis. Stok yang ada di petani garam kian langka. Utamanya untuk kebutuhan perusahaan dan industri pengasinan ikan.

Suratno, petani garam di Desa Pliwetan, Kecamatan Palang mengatakan, menipisnya pasokan garam tersebut disebakan faktor cuaca yang tidak menentu dalam beberapa bulan terakhir. Menurut dia, seharusnya sekarang ini memasuki musim panen garam seiring dengan puncak musim kemarau. Namun, karena kondisi cuaca yang tidak menentu dan masih sering hujan, hasil panen garam tidak maksimal. ‘’Hasil panen merosot jauh,’’ kata dia kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Disampaikan dia, jika saat kondisi normal dan cuaca mendukung, dalam satu petak lahan seluas kurang lebih 100 meter bisa menghasilkan garam rata-rata 1 ton. Namun, karena kondisi yang tidak bersahabat, saat ini dalam satu petak hanya mampu menghasilkan garam maksimal 3 kwintal. ‘’Bagaimana tidak menurun, saat hendak panen diguyur hujan,’’ ujarnya.

Namun begitu, pria yang sudah puluhan tahun menggeluti petambak garam ini mengaku bersyukur. Sebab, seiring dengan hasil panen yang tidak menentu tersebut, harga garam melesat naik. Kenaikannya mencapai empat kali lipat dari sebelumnya. Saat ini, terang dia, harga garam bisa mencapai Rp 4 ribu per kg. Sebelumnya, harga komoditas ini hanya Rp 500 ribu dan Rp 1.000 per kg.

Baca Juga :  Dua TPS Terpaksa Hitung Ulang

‘’Kita sangat bersyukur, meski hasil panen kurang bagus, tapi harga garam naik,’’ kata dia yang kemudian tersenyum sumringah.

Sebagai seorang petambak garam, dia berharap harga yang bersahabat ini bisa bertahan lama. Kalaupun menurun, diharapkan tidak terlalu terjun bebas. ‘’Semoga stabil-stabil saja. Dengan harga yang bagus ini, petambak garam juga semangat untuk memproduksi,’’ tandasnya.

Beda tempat beda harga. Di pasaran, harga garam grosok atau garam hasil produksi petambak garam bisa mencapai Rp 6 ribu. Seperti di Pasar Baru Tuban. Jumari, salah satu pedagang garam di pasar tradisional di Jalan Gajah Mada ini mengatakan, kenaikan harga garam yang hampir setara dengan beras ini sudah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir. Dari yang sebelumnya Rp 1.500 per kg, kini menjadi Rp 6 ribu per kg. ‘’Kenaikannya secara bertahap. Dan saat ini Rp 6 ribu per kg,’’ katanya.

Selain garam grosok, garam yodium juga mengalami kenaikan. Jika sebelumnya hanya Rp 1.000 per bungkus dengan kemasan 250 gram, kini melejit menjadi Rp 2.300 per bungkus. Praktis, untuk harga 1 kg hampir menembus angka Rp 10 ribu. Setara 1 kg beras Bengawan yang rata-rata Rp 9 ribu per kg. Malahan lebih mahal garam. ‘’Mungkin pasokannya menipis. Makanya mahal,’’ ujar dia.

Baca Juga :  Banyak Perusahaan Telat Bayar THR, Disperinaker Bakal beri Sanksi

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (DPP) Tuban Amenan mengatakan, menipisnya pasokan garam ini merupakan kasus nasional, sehingga tidak hanya terjadi di Tuban. ‘’Menyeluruh, di sejumlah deerah lain juga mengalami kondisi yang sama,’’ kata dia.

Namun begitu, mantan kepala bagian perekonomian, administrasi pembangunan dan Kesra ini mengaku senang. Sebab, dengan menipisnya pasokan garam, para petambak garam mendapat untung besar. ‘’Kita harus bersyukur, petambak garam menikmati harga bagus,’’ ujarnya.

Disampaikan Amenan, merosotnya pasokan garam ini tidak lepas dari cuaca yang tidak menentu. Hujan masih kerap mengguyur. Sehingga, banyak petambak garam yang gagal panen. Termasuk petambak garam di Tuban. ‘’Yang seharusnya bisa panen pada Juni lalu, kini baru mulai panen,’’ tandasnya.

Berdasar data yang dimiliki DPP Tuban, sampai minggu kedua bulan ini, produksi garam di Tuban baru mencapai 15,8 ribu ton dari total jumlah petambak sekitar 412 orang. Jumlah tersebut tersebar di sejumlah wilayah di Kecamatan Palang, meliputi Desa Ketambul, Pliwetan, Cepokorejo, Leran Wetan, dan sebagian dari wilayah Kecamatan Tambakboyo.

TUBAN – Seiring dengan menipisnya pasokan garam secara nasional, kini harga garam di pasaran semakin ‘’asin’’. Tak tanggung-tanggung, di tingkat eceran, saat ini harga komoditas ini menembus Rp 6 ribu per kilogram (kg). Hampir setara dengan harga beras kelas bawah yang rata-rata Rp 6.500-7.000 per kg.

Selain harganya yang mahal, pasokan komoditas berbentuk kristal padat berwarna putih ini juga semakin menipis. Stok yang ada di petani garam kian langka. Utamanya untuk kebutuhan perusahaan dan industri pengasinan ikan.

Suratno, petani garam di Desa Pliwetan, Kecamatan Palang mengatakan, menipisnya pasokan garam tersebut disebakan faktor cuaca yang tidak menentu dalam beberapa bulan terakhir. Menurut dia, seharusnya sekarang ini memasuki musim panen garam seiring dengan puncak musim kemarau. Namun, karena kondisi cuaca yang tidak menentu dan masih sering hujan, hasil panen garam tidak maksimal. ‘’Hasil panen merosot jauh,’’ kata dia kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Disampaikan dia, jika saat kondisi normal dan cuaca mendukung, dalam satu petak lahan seluas kurang lebih 100 meter bisa menghasilkan garam rata-rata 1 ton. Namun, karena kondisi yang tidak bersahabat, saat ini dalam satu petak hanya mampu menghasilkan garam maksimal 3 kwintal. ‘’Bagaimana tidak menurun, saat hendak panen diguyur hujan,’’ ujarnya.

Namun begitu, pria yang sudah puluhan tahun menggeluti petambak garam ini mengaku bersyukur. Sebab, seiring dengan hasil panen yang tidak menentu tersebut, harga garam melesat naik. Kenaikannya mencapai empat kali lipat dari sebelumnya. Saat ini, terang dia, harga garam bisa mencapai Rp 4 ribu per kg. Sebelumnya, harga komoditas ini hanya Rp 500 ribu dan Rp 1.000 per kg.

Baca Juga :  Sukseskan Porprov, Berbuah Penghargaan

‘’Kita sangat bersyukur, meski hasil panen kurang bagus, tapi harga garam naik,’’ kata dia yang kemudian tersenyum sumringah.

Sebagai seorang petambak garam, dia berharap harga yang bersahabat ini bisa bertahan lama. Kalaupun menurun, diharapkan tidak terlalu terjun bebas. ‘’Semoga stabil-stabil saja. Dengan harga yang bagus ini, petambak garam juga semangat untuk memproduksi,’’ tandasnya.

Beda tempat beda harga. Di pasaran, harga garam grosok atau garam hasil produksi petambak garam bisa mencapai Rp 6 ribu. Seperti di Pasar Baru Tuban. Jumari, salah satu pedagang garam di pasar tradisional di Jalan Gajah Mada ini mengatakan, kenaikan harga garam yang hampir setara dengan beras ini sudah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir. Dari yang sebelumnya Rp 1.500 per kg, kini menjadi Rp 6 ribu per kg. ‘’Kenaikannya secara bertahap. Dan saat ini Rp 6 ribu per kg,’’ katanya.

Selain garam grosok, garam yodium juga mengalami kenaikan. Jika sebelumnya hanya Rp 1.000 per bungkus dengan kemasan 250 gram, kini melejit menjadi Rp 2.300 per bungkus. Praktis, untuk harga 1 kg hampir menembus angka Rp 10 ribu. Setara 1 kg beras Bengawan yang rata-rata Rp 9 ribu per kg. Malahan lebih mahal garam. ‘’Mungkin pasokannya menipis. Makanya mahal,’’ ujar dia.

Baca Juga :  Banyak Perusahaan Telat Bayar THR, Disperinaker Bakal beri Sanksi

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (DPP) Tuban Amenan mengatakan, menipisnya pasokan garam ini merupakan kasus nasional, sehingga tidak hanya terjadi di Tuban. ‘’Menyeluruh, di sejumlah deerah lain juga mengalami kondisi yang sama,’’ kata dia.

Namun begitu, mantan kepala bagian perekonomian, administrasi pembangunan dan Kesra ini mengaku senang. Sebab, dengan menipisnya pasokan garam, para petambak garam mendapat untung besar. ‘’Kita harus bersyukur, petambak garam menikmati harga bagus,’’ ujarnya.

Disampaikan Amenan, merosotnya pasokan garam ini tidak lepas dari cuaca yang tidak menentu. Hujan masih kerap mengguyur. Sehingga, banyak petambak garam yang gagal panen. Termasuk petambak garam di Tuban. ‘’Yang seharusnya bisa panen pada Juni lalu, kini baru mulai panen,’’ tandasnya.

Berdasar data yang dimiliki DPP Tuban, sampai minggu kedua bulan ini, produksi garam di Tuban baru mencapai 15,8 ribu ton dari total jumlah petambak sekitar 412 orang. Jumlah tersebut tersebar di sejumlah wilayah di Kecamatan Palang, meliputi Desa Ketambul, Pliwetan, Cepokorejo, Leran Wetan, dan sebagian dari wilayah Kecamatan Tambakboyo.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/