alexametrics
29.2 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Usulkan Tiga Zona PPDB SMA

BOJONEGORO – Cabang Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Timur di Bojonegoro rencananya akan mengerucutkan jumlah zona untuk penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMA 2019. Pihaknya telah mengusulkan tiga zona. Berdasar evaluasi tahun lalu, hal ini untuk meningkatkan sistem zonasi yang kurang maksimal.

Bendahara Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Bojonegoro Sigit Hertadi mengatakan, tahun lalu PPDB SMA ada lima zona. Namun, karena ada perubahan pola dan untuk meningkatkan PPDB dari tahun kemarin, maka jumlah zona dikurangi.

“Ini baru rencana dan usulan. Tergantung provinsi mengacu kepada permendikbud 51 secara total atau tidak,” kata dia kemarin (20/2).

Baca Juga :  Tol Ngaroban Bernilai Strategis?

Imbuh Sigit, sapaannya, belum tahu petunjuk teknis (juknis)-nya seperti apa, karena belum ada arahan dari provinsi. Namun, tahun ini sistem zonasi akan lebih ditingkatkan.

“Tahun ini persentase zonasi minimal 90 persen. Sisanya untuk prestasi akademik dan mutasi orang tua,” jelas dia.

Perihal mutasi orang tua, dia mengatakan, misalnya orang tua siswa awalnya sedang bertugas di daerah A. Kemudian, berjalannya waktu orang tua siswa dipindah tugaskan. Sehingga, anak diperbolehkan mendaftar sekolah di wilayah orang tuanya bekerja.

“Namun, persentasenya maksimal hanya 5 persen,” imbuhnya.

Selain itu, kata dia, juga belum mengetahui apakah saat mendaftar, siswa diizinkan memilih dua sekolah atau tidak. Adapun PPDB tahun lalu siswa diperbolehkan memilih dua sekolah.

Baca Juga :  Percantik Tempat Wudhlu, Serda Ismail Mainkan Warna dengan Cat

“Sebab, kalau provinsi mengacu kepada permendikbud 51, maka siswa hanya diizinkan memilih satu sekolah saja,” ucap dia.

Sementara itu, Kepala Cabang Disdik Jawa Timur di Bojonegoro-Tuban Adi Prayitno menambahkan, pihaknya memang mengurangi jumlah zona untuk SMA. Namun, sifatnya masih diusulkan ke provinsi.

“Karena jumlah sekolah mengelompok di kota. Sedangkan, wilayah penduduk menyebar rata,” kata dia.

Lanjut Adi, sapaannya, hal ini perlu dilakukan untuk meratakan mutu pendidikan. Sehingga kita membuat format zona agar sekolah mendapat rombongan belajar  (rombel) yang telah ditentukan.

“Selain itu, hal ini agar stigma sekolah favorit hilang di benak masyarakat,” tukasnya.

BOJONEGORO – Cabang Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Timur di Bojonegoro rencananya akan mengerucutkan jumlah zona untuk penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMA 2019. Pihaknya telah mengusulkan tiga zona. Berdasar evaluasi tahun lalu, hal ini untuk meningkatkan sistem zonasi yang kurang maksimal.

Bendahara Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Bojonegoro Sigit Hertadi mengatakan, tahun lalu PPDB SMA ada lima zona. Namun, karena ada perubahan pola dan untuk meningkatkan PPDB dari tahun kemarin, maka jumlah zona dikurangi.

“Ini baru rencana dan usulan. Tergantung provinsi mengacu kepada permendikbud 51 secara total atau tidak,” kata dia kemarin (20/2).

Baca Juga :  Kemplang Pajak, Direktur Penyalur BBM Dituntut 3,5 Tahun Penjara

Imbuh Sigit, sapaannya, belum tahu petunjuk teknis (juknis)-nya seperti apa, karena belum ada arahan dari provinsi. Namun, tahun ini sistem zonasi akan lebih ditingkatkan.

“Tahun ini persentase zonasi minimal 90 persen. Sisanya untuk prestasi akademik dan mutasi orang tua,” jelas dia.

Perihal mutasi orang tua, dia mengatakan, misalnya orang tua siswa awalnya sedang bertugas di daerah A. Kemudian, berjalannya waktu orang tua siswa dipindah tugaskan. Sehingga, anak diperbolehkan mendaftar sekolah di wilayah orang tuanya bekerja.

“Namun, persentasenya maksimal hanya 5 persen,” imbuhnya.

Selain itu, kata dia, juga belum mengetahui apakah saat mendaftar, siswa diizinkan memilih dua sekolah atau tidak. Adapun PPDB tahun lalu siswa diperbolehkan memilih dua sekolah.

Baca Juga :  Hindari Berkunjung ke Kafe Baru Buka

“Sebab, kalau provinsi mengacu kepada permendikbud 51, maka siswa hanya diizinkan memilih satu sekolah saja,” ucap dia.

Sementara itu, Kepala Cabang Disdik Jawa Timur di Bojonegoro-Tuban Adi Prayitno menambahkan, pihaknya memang mengurangi jumlah zona untuk SMA. Namun, sifatnya masih diusulkan ke provinsi.

“Karena jumlah sekolah mengelompok di kota. Sedangkan, wilayah penduduk menyebar rata,” kata dia.

Lanjut Adi, sapaannya, hal ini perlu dilakukan untuk meratakan mutu pendidikan. Sehingga kita membuat format zona agar sekolah mendapat rombongan belajar  (rombel) yang telah ditentukan.

“Selain itu, hal ini agar stigma sekolah favorit hilang di benak masyarakat,” tukasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Delapan Incumbent Kalah Suara

PT DESI Bakal Dilarang Beroperasi

Matangkan Persiapan

Rudjito – Zaenuri Divonis 4 Tahun


/