alexametrics
22.7 C
Bojonegoro
Wednesday, June 29, 2022

Vivi Denis Fitria Dewi, Atlet Wushu Pengoleksi Medali Kejurprov

FEATURES – Di balik paras cantiknya, Vivi Denis Fitria Dewi gemar olahraga bela diri. Cewek kelahiran 21 Januari 1999 itu pernah menyabet beberapa medali di kejuaraan provinsi (kejurprov). Terakhir, medali emas pada kejurprov di Jember, 2 – 4 Februari lalu. Dia turun di kelas putri senior 60 kilogram (kg).

Waktu persiapan Vivi cukup mepet, dua minggu sebelum pertandingan. Sebab, dia terkendala jadwal perkuliahan yang berbenturan. Vivi berangkat ke Jember, 31 Januari lalu. Dia melakukan latihan di Jember selama dua hari. 

‘’Alhamdulillah mampu meraih medali emas,’’ tutur Vivi kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (20/2).

Seminggu setelah pertandingan, Vivi dipanggil mengikuti pemusatan latihan daerah (puslatda) PON Jatim. Namun, Vivi belum gabung latihan lantaran masih bentrok jadwal kuliah.

Baca Juga :  Lamongan Raih Anugerah Parahita Ekapraya dari Menteri PPPA

Selain itu, cewek asal Kecamatan Ngimbang itu masih menunggu surat izin dari KONI Jatim. Deretan prestasi itu membuat putri kedua dari tiga bersaudara ini diproyeksikan menjadi atlet wushu andalan Lamongan pada  porprov 2019. 

‘’Cukup semangat, apalagi tahun depan Lamongan menjadi tuan rumahnya kan,’’ ujarnya. 

Vivi tertarik pada wushu sejak masih duduk di bangku SMA. Baru mulai latihan tiga bulan, alumnus SMAN 1 Ngimbang itu turun pada kejurprov. Saat itu, Vivi mampu meraih medali perak untuk Lamongan. 

Vivi harus kucing-kucingan dengan orang tuanya saat berlatih. Sebab, orang tua kurang suka dirinya mendalami wushu. Namun, itu tak menghalangi Vivi untuk terus menggeluti wushu hingga sekarang. 

‘’Soalnya kan perempuan, kan gak pantes ikut beladiri. Kejurnas ini juga gak boleh, tapi mau gimana lagi sebab darahnya itu udah mengalir di wushu,’’ ujarnya. 

Baca Juga :  Baru Keruk Tiga Embung

Vivi menggeluti wushu karena memiliki keinginan bisa membela diri. Terutama saat berada jauh dari orang tua. Apalagi perempuan paling rentan menjadi sasaran kejahatan. 

‘’Beladiri buat perempuan kan bisa jaga-jaga kalau ada apa-apa. Pelindung diri aja sih sebenarnya,’’ katanya. 

Memar dan cedera seperti lauk pauk bagi Vivi. Sejak menggeluti pertama kali, sudah tak terhitung berapa kali tulang keringnya memar. Namun, Vivi menggangap hal itu sebuah tantangan. Sehingga dia tak mudah menangis bila mengalami sakit di tubuh. 

‘’Kalau parah tidak pernah. Cuma memar-memar. Tulang kering sering gosong gitu kena tendangan,’’ tuturnya. 

FEATURES – Di balik paras cantiknya, Vivi Denis Fitria Dewi gemar olahraga bela diri. Cewek kelahiran 21 Januari 1999 itu pernah menyabet beberapa medali di kejuaraan provinsi (kejurprov). Terakhir, medali emas pada kejurprov di Jember, 2 – 4 Februari lalu. Dia turun di kelas putri senior 60 kilogram (kg).

Waktu persiapan Vivi cukup mepet, dua minggu sebelum pertandingan. Sebab, dia terkendala jadwal perkuliahan yang berbenturan. Vivi berangkat ke Jember, 31 Januari lalu. Dia melakukan latihan di Jember selama dua hari. 

‘’Alhamdulillah mampu meraih medali emas,’’ tutur Vivi kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (20/2).

Seminggu setelah pertandingan, Vivi dipanggil mengikuti pemusatan latihan daerah (puslatda) PON Jatim. Namun, Vivi belum gabung latihan lantaran masih bentrok jadwal kuliah.

Baca Juga :  Tak Mau Habiskan Waktu Untuk Benahi Kerudung

Selain itu, cewek asal Kecamatan Ngimbang itu masih menunggu surat izin dari KONI Jatim. Deretan prestasi itu membuat putri kedua dari tiga bersaudara ini diproyeksikan menjadi atlet wushu andalan Lamongan pada  porprov 2019. 

‘’Cukup semangat, apalagi tahun depan Lamongan menjadi tuan rumahnya kan,’’ ujarnya. 

Vivi tertarik pada wushu sejak masih duduk di bangku SMA. Baru mulai latihan tiga bulan, alumnus SMAN 1 Ngimbang itu turun pada kejurprov. Saat itu, Vivi mampu meraih medali perak untuk Lamongan. 

Vivi harus kucing-kucingan dengan orang tuanya saat berlatih. Sebab, orang tua kurang suka dirinya mendalami wushu. Namun, itu tak menghalangi Vivi untuk terus menggeluti wushu hingga sekarang. 

‘’Soalnya kan perempuan, kan gak pantes ikut beladiri. Kejurnas ini juga gak boleh, tapi mau gimana lagi sebab darahnya itu udah mengalir di wushu,’’ ujarnya. 

Baca Juga :  Bianglala Sedot Pengunjung Alun-Alun Lamongan

Vivi menggeluti wushu karena memiliki keinginan bisa membela diri. Terutama saat berada jauh dari orang tua. Apalagi perempuan paling rentan menjadi sasaran kejahatan. 

‘’Beladiri buat perempuan kan bisa jaga-jaga kalau ada apa-apa. Pelindung diri aja sih sebenarnya,’’ katanya. 

Memar dan cedera seperti lauk pauk bagi Vivi. Sejak menggeluti pertama kali, sudah tak terhitung berapa kali tulang keringnya memar. Namun, Vivi menggangap hal itu sebuah tantangan. Sehingga dia tak mudah menangis bila mengalami sakit di tubuh. 

‘’Kalau parah tidak pernah. Cuma memar-memar. Tulang kering sering gosong gitu kena tendangan,’’ tuturnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/