alexametrics
22.5 C
Bojonegoro
Thursday, June 30, 2022

Game Online dan Dilema Kategori Olahraga

COVER STORY – Malam belum bermula ketika Sofyan berulangkali menatap layar ponselnya di sebuah kafe di Jalan Untung Suropati Kota Bojonegoro. Sambil senyum-senyum sendiri, matanya fokus pada segenggam gadget berada di telapak tangannya. Sesekali dia tertawa, sesekali pula dia mengumpat dan meneriakkan kata-kata kasar.

Apa yang dilakukan Sofyan bakal berakhir hingga tengah malam. Sebab, berbagai konsumsi sudah dia siapkan di depan meja. Sofyan bukan satu-satunya pemuda yang menghabiskan berjam-jam waktu untuk bermain Mobile Legends.

Di Bojonegoro saja, hampir setiap kafe ber-wifi, selalu dipadati pemuda-pemuda sibuk bermain game online.  Hanya ada dua suasana yang ditawarkan hampir setiap kafe berada di Kota Bojonegoro. Jika tidak sunyi sekali, pasti ramai sekali.

Namun, kesunyian ataupun keramaian yang tersaji disebabkan satu hal yang sama. Yakni, respons pengunjung ketika memegang gadget. 

Praktisi game online Bojonegoro, Alfian Guritno menjelaskan, sejak setahun terakhir, hampir setiap kafe selalu dipenuhi pengunjung yang keasyikan bermain gadget.

Tentu bukan bermain biasa, namun “bermain” game. Ada dua jenis game paling dominan dimainkan pengunjung kafe di Bojonegoro. Yakni, MOBA War dan Survival Game.

Untuk MOBA War didominasi dua game: Mobile Legends dan AOV. Sedangkan Survival Game juga didominasi dua game: Rules of Survival (ROS) dan Free Fire (FF). “Mayoritas memang yang dimainkan empat jenis game tersebut,” kata Fian kemarin (19/1). 

Baca Juga :  Suporter Minta Manajemen Komitmen Ucapan 

Meski dalam konteks tertentu ada keuntungan finansial  yang ditawarkan, sejauh pengamatan Fian, untuk kelas Bojonegoro memang mayoritas lebih pada keuntungan rekreatif.

Bisa bermain bersama banyak teman secara online dan keseruan itu bisa dinikmati secara berjamaah. Tapi, alasan paling logis tentu sensasi imajinatif yang tidak bisa didapat dari dunia nyata.    

“Menjadi hero dengan senjata yang keren di dunia fantasi, atau sekadar bermain layaknya manajer mengatur 11 orang berlarian mengejar bola, siapa yang tidak suka?,” imbuh dia. 

Fian mengatakan, game online sangat berpotensi menjadi olahraga. Itu seiring dengan maraknya kompetisi-kompetisi game diikuti berbagai gamers di luar daerah.

Bahkan, saat ini ada kompetisi tingkat Asia Pasifik mempertandingkan olahraga elektronik (E-Sport) ini. Meski, dia juga mengakui jika banyak pula yang tidak setuju jika game dikategorikan sebagai olahraga. 

“Ini masalah waktu saja, dulu cabang olahraga bridge (kartu) juga tidak masuk kategori olahraga,” kata dia. Wakil Sekretaris Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Bojonegoro, Ebta Hari menegaskan, game ataupun E-Sport tidak masuk pada kategori olahraga.

Sebab, tidak sesuai dengan makna dan tujuan olahraga. Olahraga, kata Ebta, dibagi menjadi tiga jenis. Yakni, olahraga elite (kompetisi), olahraga pendidikan (penjas), dan olahraga rekreatif (outbound, rafting).

Baca Juga :  Bergerak Bersama Wujudkan Blora Bebas Sampah 

Mayoritas olahraga-olahraga itu melibatkan tubuh secara langsung. Tiga jenis olahraga itu diatur pada International Olimpic Comitee (IOC). 

“Nah, game tidak masuk di dalam kategori olahraga yang dimaksud IOC,” kata dia. Game tidak bisa dikategorikan pada olahraga, karena tidak sesuai dengan tujuan dan giat olahraga itu sendiri.

Karena posisi game berada di luar itu semua, sehingga tidak bisa dikategorikan sebagai olahraga. Jangankan bisa dinaungi KONI, menurutnya, masuk pada kategori olahraga saja belum.   

Disinggung terkait keberadaan catur dan bridge yang tidak menggunakan fisik secara langsung layaknya game, Ebta mengatakan, catur, bridge, dan game memiliki kesamaan. Yakni, berhubungan dengan strategi dan kecepatan berpikir.

Tapi, keterlibatan manusianya berbeda. Baik catur ataupun bridge, unsur manusianya lebih dominan. Tetapi jika di game, alatnya yang justru lebih dominan.

Menurut dia, itu alasan kenapa Moto GP dan F1 tidak masuk dalam kategori olahraga. Karena alat lebih dominan daripada manusia. 

“Olahraga itu harus lebih dominan orangnya daripada alatnya. Itu alasan kenapa moto GP dan F1 tidak masuk kategori olahraga,” pungkas dia. 

COVER STORY – Malam belum bermula ketika Sofyan berulangkali menatap layar ponselnya di sebuah kafe di Jalan Untung Suropati Kota Bojonegoro. Sambil senyum-senyum sendiri, matanya fokus pada segenggam gadget berada di telapak tangannya. Sesekali dia tertawa, sesekali pula dia mengumpat dan meneriakkan kata-kata kasar.

Apa yang dilakukan Sofyan bakal berakhir hingga tengah malam. Sebab, berbagai konsumsi sudah dia siapkan di depan meja. Sofyan bukan satu-satunya pemuda yang menghabiskan berjam-jam waktu untuk bermain Mobile Legends.

Di Bojonegoro saja, hampir setiap kafe ber-wifi, selalu dipadati pemuda-pemuda sibuk bermain game online.  Hanya ada dua suasana yang ditawarkan hampir setiap kafe berada di Kota Bojonegoro. Jika tidak sunyi sekali, pasti ramai sekali.

Namun, kesunyian ataupun keramaian yang tersaji disebabkan satu hal yang sama. Yakni, respons pengunjung ketika memegang gadget. 

Praktisi game online Bojonegoro, Alfian Guritno menjelaskan, sejak setahun terakhir, hampir setiap kafe selalu dipenuhi pengunjung yang keasyikan bermain gadget.

Tentu bukan bermain biasa, namun “bermain” game. Ada dua jenis game paling dominan dimainkan pengunjung kafe di Bojonegoro. Yakni, MOBA War dan Survival Game.

Untuk MOBA War didominasi dua game: Mobile Legends dan AOV. Sedangkan Survival Game juga didominasi dua game: Rules of Survival (ROS) dan Free Fire (FF). “Mayoritas memang yang dimainkan empat jenis game tersebut,” kata Fian kemarin (19/1). 

Baca Juga :  Tak Ada Penyekatan Mudik, Bakal Rekayasa Lalu Lintas di Bojonegoro

Meski dalam konteks tertentu ada keuntungan finansial  yang ditawarkan, sejauh pengamatan Fian, untuk kelas Bojonegoro memang mayoritas lebih pada keuntungan rekreatif.

Bisa bermain bersama banyak teman secara online dan keseruan itu bisa dinikmati secara berjamaah. Tapi, alasan paling logis tentu sensasi imajinatif yang tidak bisa didapat dari dunia nyata.    

“Menjadi hero dengan senjata yang keren di dunia fantasi, atau sekadar bermain layaknya manajer mengatur 11 orang berlarian mengejar bola, siapa yang tidak suka?,” imbuh dia. 

Fian mengatakan, game online sangat berpotensi menjadi olahraga. Itu seiring dengan maraknya kompetisi-kompetisi game diikuti berbagai gamers di luar daerah.

Bahkan, saat ini ada kompetisi tingkat Asia Pasifik mempertandingkan olahraga elektronik (E-Sport) ini. Meski, dia juga mengakui jika banyak pula yang tidak setuju jika game dikategorikan sebagai olahraga. 

“Ini masalah waktu saja, dulu cabang olahraga bridge (kartu) juga tidak masuk kategori olahraga,” kata dia. Wakil Sekretaris Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Bojonegoro, Ebta Hari menegaskan, game ataupun E-Sport tidak masuk pada kategori olahraga.

Sebab, tidak sesuai dengan makna dan tujuan olahraga. Olahraga, kata Ebta, dibagi menjadi tiga jenis. Yakni, olahraga elite (kompetisi), olahraga pendidikan (penjas), dan olahraga rekreatif (outbound, rafting).

Baca Juga :  Pilkades 10 Desa dengan Selisih Tipis

Mayoritas olahraga-olahraga itu melibatkan tubuh secara langsung. Tiga jenis olahraga itu diatur pada International Olimpic Comitee (IOC). 

“Nah, game tidak masuk di dalam kategori olahraga yang dimaksud IOC,” kata dia. Game tidak bisa dikategorikan pada olahraga, karena tidak sesuai dengan tujuan dan giat olahraga itu sendiri.

Karena posisi game berada di luar itu semua, sehingga tidak bisa dikategorikan sebagai olahraga. Jangankan bisa dinaungi KONI, menurutnya, masuk pada kategori olahraga saja belum.   

Disinggung terkait keberadaan catur dan bridge yang tidak menggunakan fisik secara langsung layaknya game, Ebta mengatakan, catur, bridge, dan game memiliki kesamaan. Yakni, berhubungan dengan strategi dan kecepatan berpikir.

Tapi, keterlibatan manusianya berbeda. Baik catur ataupun bridge, unsur manusianya lebih dominan. Tetapi jika di game, alatnya yang justru lebih dominan.

Menurut dia, itu alasan kenapa Moto GP dan F1 tidak masuk dalam kategori olahraga. Karena alat lebih dominan daripada manusia. 

“Olahraga itu harus lebih dominan orangnya daripada alatnya. Itu alasan kenapa moto GP dan F1 tidak masuk kategori olahraga,” pungkas dia. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/